17 Kereta Api yang Dinamai dari Kerajaan dan Tokoh Sejarah Indonesia

Kereta api Mataram arah Pasar Senen melintas langsung Walet, Tambun. (TyewongX/Wikimedia Commons)

17 Kereta Api yang Dinamai dari Kerajaan dan Tokoh Sejarah Indonesia

Riza Aslam Khaeron • 21 September 2026 14:39

Jakarta: Rakyat Indonesia sebentar lagi akan kembali memperingati Hari Kereta Api Nasional pada Senin, 28 September 2026. Tanggal tersebut merujuk pada momentum bersejarah saat para pekerja kereta api Indonesia mengoper alih pengelolaan perkeretaapian dari tangan Jepang pada 28 September 1945.

Sejarah perkeretaapian ternyata tidak hanya tersimpan pada kenangan jalur lama, stasiun tua, dan lokomotif legendaris. Jejak kebesaran masa lalu Nusantara juga hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui penamaan rangkaian kereta api penumpang yang melintasi Pulau Jawa.

Nama-nama besar seperti KA Majapahit dan KA Singasari mengangkat kembali kejayaan kerajaan masa lalu, sementara KA Airlangga dan KA Jayabaya mengabadikan nama raja-raja legendaris. Tak ketinggalan, KA Gunungjati dan KA Ranggajati turut menghormati tokoh-tokoh penting dalam sejarah daerah.

Berikut adalah nama-nama unik kereta api di Indonesia yang diilhami dari kerajaan dan tokoh sejarah:
 

Nama kereta dari kerajaan di Indonesia

1. KA Mataram

Secara historis, istilah Mataram sudah dikenal sejak abad ke-9 Masehi yang merujuk pada wilayah Bhumi Mataram (sekarang Yogyakarta), pusat dari Kerajaan Hindu-Buddha Medang atau Mataram Kuno yang berdiri pada abad ke-8 hingga 11 Masehi.

Namun berdasarkan akun Instagram Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) @ditjenperkeretaapian, nama KA Mataram secara spesifik mengambil inspirasi dari kerajaan penerusnya, Kesultanan Mataram yang bercorak Islam.

Kerajaan ini didirikan oleh Panembahan Senopati pada tahun 1586 dengan pusat awal pemerintahan di Kotagede, Yogyakarta, sebelum berkembang menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Jawa.

Nama Mataram pertama kali digunakan sebagai nama layanan kereta api pada 15 Juni 2017 sebagai armada tambahan Angkutan Lebaran relasi Lempuyangan–Pasar Senen. Seiring berjalannya waktu, perannya terus berkembang hingga melayani rute tetap Pasar Senen–Solo Balapan PP.

Sejak 9 Desember 2024, KA Mataram telah mengoperasikan rangkaian Stainless Steel New Generation untuk kelas eksekutif dan ekonomi.

2. KA Kahuripan

Nama KA Kahuripan diambil dari nama Kerajaan Kahuripan, sebuah kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang berdiri di Jawa Timur pada abad ke-11. Kerajaan ini sangat erat kaitannya dengan sosok Raja Airlangga yang memerintah pada kurun 1009–1042 Masehi.

KAI mengabadikan nama kerajaan legendaris berusia satu milenium ini sebagai layanan kereta api sejak 26 Juli 1995. Menjadi salah satu armada yang telah beroperasi lebih dari tiga dekade, KA Kahuripan hingga kini setia melayani rute antarkota yang menghubungkan Stasiun Kiaracondong (Bandung) dengan Stasiun Blitar.

3. KA Majapahit

Saat mendengar nama KA Majapahit, ingatan kita akan langsung tertuju pada salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara.

Berdiri pada akhir abad ke-13 di Jawa Timur, Kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasaannya pada abad ke-14 di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Menyebarkan pengaruhnya di pulau Sumatra, Kalimantan, hingga Papua.

Nama besar tersebut resmi diabadikan KAI melalui peluncuran KA Majapahit pada 21 September 2012 untuk rute Malang–Pasar Senen. Penamaan ini menjadi simbol kejayaan yang terus melaju menghubungkan pusat ibu kota dengan Jawa Timur.

4. KA Singasari

Kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222 Masehi setelah memenangkan pertempuran melawan Kerajaan Kadiri. Kerajaan yang berpusat di wilayah Malang (Tumapel), Jawa Timur ini merupakan pendahulu penting yang membentangkan jalan bagi lahirnya Kerajaan Majapahit.

Lebih dari tujuh abad kemudian, nama kerajaan ini diabadikan menjadi KA Singasari. Diluncurkan pertama kali pada 17 Juli 2017, KA Singasari konsisten melayani koridor perjalanan dari Blitar menuju Pasar Senen.

5. KA Blambangan Ekspres

Nama KA Blambangan Ekspres terinspirasi dari Kerajaan Blambangan yang pernah berdiri kokoh di ujung timur Pulau Jawa, di wilayah yang kini dikenal sebagai Banyuwangi. Kerajaan Blambangan dikenal gigih dan bertahan hingga abad ke-18 sebagai salah satu pusat peradaban Hindu terakhir di Jawa.

KAI menghidupkan kembali warisan sejarah ini melalui pengoperasian KA Blambangan Ekspres sejak 2 Desember 2022.


Kereta api Airlangga menuju Surabaya melintas di Tambun Selatan, Bekasi. (TyewongX/Wikimedia Commons)
 

Nama Kereta dari Raja dan Tokoh Sejarah Indonesia

1. KA Airlangga

Raja Airlangga adalah penguasa penting di Jawa pada abad ke-11 (memerintah 1009–1042 M) sekaligus pendiri Kerajaan Kahuripan. 

Nama Airlangga resmi diabadikan KAI untuk armada kereta kelas ekonomi yang diluncurkan pada 1 Oktober 2021 dengan rute Surabaya Pasar Turi–Pasar Senen PP.

2. KA Brawijaya

Gelar Brawijaya sangat masyhur dalam tradisi dan historiografi Jawa sebagai sebutan bagi raja-raja yang memimpin Kerajaan Majapahit yang tercatat dalam Babad Tanah Jawi. Kata ini disinyalir merupakan gabungan dari Bhre (penguasa) dan Wijaya (keturunan Raden Wijaya, pendiri Majapahit), yang melambangkan kejayaan dan kemuliaan.

Nama tersebut diabadikan pada KA Brawijaya yang diluncurkan pada 10 Maret 2021. Beroperasi melayani relasi Malang–Gambir, kereta ini sejak awal hadir sebagai layanan kelas eksekutif untuk memberikan kenyamanan ekstra bagi para penumpang.

3. KA Dharmawangsa

Dharmawangsa Teguh adalah raja dari Kerajaan Medang (Wangsa Isyana) yang memerintah pada kurun waktu 991–1016 Masehi. Beliau juga merupakan kerabat dekat sekaligus mertua dari Raja Airlangga.

Nama penguasa besar ini dipilih KAI untuk KA Dharmawangsa yang mulai beroperasi pada 1 Desember 2019 melayani rute Pasar Senen–Surabaya Pasar Turi via jalur utara.

4. KA Gajayana

Nama KA Gajayana berasal dari Raja Gajayana, penguasa Kerajaan Kanjuruhan di wilayah Malang yang memerintah sekitar tahun 760–789 Masehi. 

Nama raja yang hidup lebih dari 1.200 tahun lalu ini diabadikan sebagai salah satu layanan kereta eksekutif unggulan milik KAI. KA Gajayana pertama kali meluncur pada 28 Oktober 1999 melayani rute Malang–Gambir dengan menempuh jarak perjalanan sekitar 908 kilometer.

5. KA Jayabaya

Prabu Jayabaya merupakan raja paling legendaris dari Kerajaan Panjalu (Kediri) yang memerintah sekitar tahun 1135–1157 Masehi. Masa kepemimpinannya menandai era keemasan sastra Jawa, salah satunya ditandai dengan penyusunan kitab Kakawin Bharatayuddha.

Lebih dari delapan abad kemudian, namanya diabadikan menjadi KA Jayabaya. Resmi diluncurkan pada 18 Oktober 2014 dengan rute Pasar Senen–Malang, peluncuran kereta ini juga menjadi tonggak kepedulian KAI terhadap difabel melalui penyediaan gerbong khusus yang ramah bagi pengguna kursi roda.

6. KA Kertajaya

Kertajaya adalah raja terakhir Kerajaan Kadiri yang memerintah dari tahun 1194 hingga 1222 Masehi. Masa kekuasaannya berakhir setelah dikalahkan oleh Ken Arok dalam Pertempuran Ganter, yang kemudian memicu berdirinya Kerajaan Singasari.

Dengan demikian, nama KA Kertajaya dan KA Singasari sesungguhnya merepresentasikan dua pihak yang saling berkaitan dalam satu mata rantai sejarah yang sama. Saat ini, nama Kertajaya digunakan untuk layanan KA jarak jauh yang menghubungkan Surabaya Pasar Turi dan Pasar Senen melalui lintas utara Jawa.

7. KA Kertanegara

Kertanagara merupakan raja terakhir sekaligus raja terbesar Kerajaan Singasari. Di bawah kepemimpinannya, Singasari mencanangkan Wawasan Nusantara melalui Ekspedisi Pamalayu.
Nama besar ini diabadikan pada KA Kertanegara yang resmi diluncurkan pada 10 Maret 2021.

Pemilihan nama ini sangat relevan mengingat rute keretanya melayani koridor Malang–Purwokerto, wilayah yang memiliki keterikatan historis erat dengan pusat Kerajaan Singasari di Malang Raya.

8. KA Siliwangi

Nama KA Siliwangi diilhami dari Prabu Siliwangi, sosok raja agung dalam tradisi, sastra, dan ingatan kolektif masyarakat Sunda yang dikaitkan dengan era kejayaan Kerajaan Sunda-Pajajaran.
KAI mengabadikan nama ini untuk KA Siliwangi yang mulai beroperasi pada 8 Februari 2014 melayani rute regional Cianjur–Sukabumi.

Penamaan kereta ini menjadi wujud pelestarian kisah keteladanan kepemimpinan lokal di tanah Pasundan.

9. KA Jaka Tingkir

Jaka Tingkir adalah nama muda dari Sultan Hadiwijaya, pendiri sekaligus penguasa Kesultanan Pajang pada abad ke-16. Tokoh rekaan sekaligus historis ini dikenal tangguh dan memiliki perjalanan hidup yang legendaris dalam babad Jawa.

Nama tokoh ini diabadikan pada KA Jaka Tingkir yang beroperasi sejak 8 Desember 2013 untuk melayani relasi Solo Purwosari–Pasar Senen. Penamaan ini juga memiliki benang merah sejarah dengan KA Mataram, mengingat pampatan politik Pajang di kemudian hari melahirkan Kesultanan Mataram Islam.

10. KA Gunungjati

Nama KA Gunungjati merujuk pada Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), salah satu anggota Walisongo yang berperan besar dalam penyebaran agama Islam serta pembangunan peradaban di wilayah Cirebon dan Banten.

KA Gunungjati pertama kali beroperasi pada 1 Februari 1973 sebagai kereta ekspres relasi Cirebon–Jatinegara menggantikan layanan KA Patas, sebelum akhirnya berhenti beroperasi pada 1 Juni 1992 seiring hadirnya KA Cirebon Ekspres.

Setelah lebih dari tiga dekade tidak aktif, KAI menghidupkan kembali nama Gunungjati pada 1 Februari 2025 untuk melayani koridor Semarang Tawang–Cirebon–Gambir.

11. KA Sawunggalih

Sawunggalih (Tumenggung Kartowiyogo) merupakan sosok pahlawan lokal dalam sejarah dan cerita rakyat Purworejo. Beliau berkiprah pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I saat pembentukan Kesultanan Yogyakarta pasca-Perjanjian Giyanti 1755.

KAI meresmikan pengoperasian KA Sawunggalih pada 31 Mei 1977 untuk melayani relasi Kutoarjo–Pasar Senen. Perjalanan perdana kereta ini ditarik oleh lokomotif diesel legendaris seri BB 201 08.

12. KA Ranggajati

Nama KA Ranggajati berasal dari Ki Gede Ranggajati, tokoh penyebar agama Islam dan pahlawan lokal yang berpengaruh dalam sejarah Cirebon, khususnya dalam membuka wilayah Sumber yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Cirebon.

Penggunaan nama ini bertujuan untuk mengangkat kearifan lokal Cirebon saat KAI membuka rute lintas selatan Cirebon–Jember pada 1 November 2016. Armada ini terus mengalami modernisasi dan sejak 11 Januari 2026 telah mengoperasikan rangkaian Stainless Steel New Generation.

Penggunaan nama-nama kerajaan dan tokoh sejarah ini membuktikan bahwa penamaan kereta di Indonesia bukan sekadar identitas perjalanan semata. Di balik setiap papan nama kereta, tersimpan narasi sejarah tentang peradaban ratusan tahun silam, kepemimpinan raja-raja Nusantara, hingga perjuangan tokoh-tokoh lokal.

(Riza Aslam Khaeron)