Menkomdigi: Akses Digital Harus Disesuaikan dengan Usia

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menjadi keynote speaker dalam acara The 8th International Conference on Early Childhood Education (ICEC) 2026 via zoom. Dok. Istimewa

Menkomdigi: Akses Digital Harus Disesuaikan dengan Usia

Achmad Zulfikar Fazli • 22 June 2026 21:59

Jakarta: Perlindungan anak di ruang digital merupakan tantangan global. Permasalahan ini perlu diatasi bersama melalui kolaborasi lintas negara, lintas sektor, dan lintas disiplin ilmu.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengatakan teknologi membuka peluang besar untuk belajar dan berkreasi, tetapi juga membawa risiko berupa paparan konten berbahaya, eksploitasi digital, perundungan siber, hingga kecanduan platform.

“Karena itu Indonesia mengambil langkah melalui PP TUNAS dengan prinsip sederhana, yaitu tunggu anak siap. Anak tidak dilarang mengenal teknologi, tetapi akses digital harus diberikan sesuai usia, tingkat kematangan, dan risiko yang dihadapi,” ujar Meutya dalam keterangannya, dikutip pada Senin, 22 Juni 2026.

Hal ini disampaikan Meutya saat menjadi keynote speaker dalam acara The 8th International Conference on Early Childhood Education (ICEC) 2026 yang sukses digelar Universitas Panca Sakti Bekasi, Sabtu, 20 Juni 2026. Mengangkat tema “Digital Transformation in Early Childhood Education to Realize Inclusive, Safe, and of Good Character Generation,” ICEC ke-8 berlangsung secara hybrid yang berpusat di Universitas Panca Sakti Bekasi.

ICEC 2026 menghadirkan pembicara dari Indonesia, Malaysia, dan Amerika Serikat. Forum ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, pengambil kebijakan, serta pemerhati PAUD untuk membahas bagaimana pendidikan anak usia dini dapat beradaptasi dengan perkembangan digital tanpa kehilangan nilai kemanusiaan, budaya, dan karakter.

Ada empat akademisi lintas negara yang menjadi pembicara utama. Mereka adalah Executive Director Mosaic Action USA, Matthew Anderson, yang membahas perspektif inklusivitas digital, dan perwakilan dari Indiana University Bloomington, Amerika Serikat, Payal Shah yang memaparkan perspektif riset pendidikan anak usia dini.

Lalu, perwakilan dari ARNEC Malaysia Datin Dr. Mariani Md Nor yang mengangkat sudut pandang pengembangan anak usia dini di kawasan Asia. Sementara itu, perwakilan dari Universitas Panca Sakti Bekasi Dr. Ajat membahas konteks implementasi media pembelajaran digital dalam PAUD.

Ilustrasi: Acara The 8th International Conference on Early Childhood Education (ICEC) 2026. Dok. Universitas Panca Sakti Bekasi

Baca Juga: 

Jaga Mental Anak Usia Transisi, Orang Tua Diedukasi Pola Asuh

Ketua Panitia ICEC 2026, Ajat, menyampaikan forum ini tidak hanya dirancang sebagai konferensi akademik, tetapi sebagai ruang kolaborasi global bagi masa depan PAUD.

“Kami ingin ICEC ke-8 menjadi momentum untuk memperkuat jejaring global PAUD. Transformasi digital harus ditempatkan sebagai sarana untuk menciptakan layanan pendidikan anak usia dini yang lebih aman, inklusif, bermakna, dan menggembirakan,” ujar Ajat.

Dia menambahkan kehadiran peserta dari berbagai daerah menjadi bukti semangat guru PAUD Indonesia untuk terus belajar sangat besar, meskipun banyak di antara mereka berada dalam kondisi fasilitas yang terbatas.

“Yang membuat saya terharu bukan hanya jumlah peserta yang hadir, tetapi dari mana mereka hadir. Guru-guru PAUD dari berbagai pelosok Indonesia tetap mengikuti forum internasional ini dengan semangat luar biasa. Itu membuat kami yakin bahwa PAUD Indonesia sedang bergerak maju, dan ini baru permulaan,” ujar Ajat.

(Achmad Zulfikar Fazli)