Alat Pemancar Sinyal Darurat Pesawat ATR Indonesia Air Transport Diduga Tak Berfungsi

Tim Basarnas di lokasi diduga jatuhnya Pesawat ATR 400 Indonesia Air Transport di kawasan Leang-leang, Kabupaten Maros. MI

Alat Pemancar Sinyal Darurat Pesawat ATR Indonesia Air Transport Diduga Tak Berfungsi

Whisnu Mardiansyah • 17 January 2026 22:08

Makassar: Tim SAR Gabungan masih berupaya menemukan lokasi jatuhnya pesawat patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang hilang kontak di sekitar Bukit Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan fokus utama saat ini adalah operasi kemanusiaan penyelamatan dan pencarian korban.

Kepala KNKT, Suryanto, menegaskan timnya akan membantu Badan SAR Nasional (Basarnas) terlebih dahulu sebelum mengambil alih penyelidikan penyebab kecelakaan.

"Konsentrasi kami, KNKT, adalah menemukan lokasi jatuhnya pesawat. Kami akan membantu Basarnas dulu, setelah operasi kemanusiaan selesai baru KNKT akan take over," jelas Suryanto dikutip Media Indonesia, Minggu, 18 Januari 2026.

Ia mengaku belum dapat memastikan apakah cuaca buruk menjadi faktor penyebab insiden. KNKT juga berharap black box pesawat dapat ditemukan saat proses evakuasi berlangsung.

Suryanto mengungkapkan, alat pemancar sinyal darurat pesawat (Emergency Locator Transmitter/ELT) kemungkinan tidak bekerja. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada sinyal ELT yang tertangkap.
 


"Dengan kejadian kalau benar dia nabrak gunung, itu biasanya ELT-nya tidak bekerja karena hancur juga. Jadi tidak bisa memancarkan sinyal," ujarnya, meski belum memastikan hal itu.

Sementara itu, pihak TNI AU akan memusatkan pencarian di sekitar Bukit Bulusaraung berdasarkan indikasi awal. Rencananya, helikopter Caracal akan diterbangkan untuk mempercepat pencarian dan evakuasi jika cuaca memungkinkan.

"Perjalanan dari landasan ke TKP hanya sekitar 6 menit. Sehingga apabila ditemukan korban, segera pada kesempatan pertama kita evakuasi ke Pangkalan Udara Hasanuddin," kata Kepala Kantor Basarnas Makassar, M Arif.

Sebelumnya, beredar informasi temuan sejumlah potongan kertas berisi prosedur pesawat oleh warga pendaki. Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Tb Haeru Rahayu, mengonfirmasi bahwa kertas tersebut telah dikonfirmasi ke maskapai sebagai milik pesawat yang hilang.

"Tinggal pemastiannya saja," kata Tb Haeru Rahayu.

Haeru menjelaskan, pesawat tersebut disewa KKP lebih dari dua hingga tiga tahun untuk kegiatan airborne surveillance atau pengawasan udara rutin. Tugasnya adalah mendeteksi aktivitas illegal fishing di wilayah perairan Indonesia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)