BRIN Buka Peluang Penemuan Spesies Tumbuhan Baru di Indonesia

Ilustrasi tanaman endemik Indonesia. Foto: dok. Kemenlu RI.

BRIN Buka Peluang Penemuan Spesies Tumbuhan Baru di Indonesia

Atalya Puspa • 26 May 2026 10:42

Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap peluang besar ditemukannya berbagai spesies tumbuhan baru, terutama di kawasan hutan Indonesia. Potensi penemuan spesies tanaman baru masih sangat besar, terutama di wilayah Papua dan Kalimantan yang banyak memiliki kawasan belum tereksplorasi secara optimal.

“Di Papua misalnya, data yang ada baru mencatat dua spesies begonia, sementara Papua Nugini memiliki sekitar 69 spesies. Jadi kemungkinan masih banyak yang belum ditemukan,” ujar Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Deden Girmansyah, dikutip dari Media Indonesia, Selasa, 26 Mei 2026.
 


Menurutnya, terdapat beberapa spesies tanaman baru yang dapat ditemukan dari hutan Indonesia. Di antaranya yaitu begonia, anggrek, hingga rafflesia.

Ia mengatakan, jumlah spesies begonia di Indonesia yang telah teridentifikasi saat ini baru sekitar 243 spesies. Padahal, secara global terdapat sekitar 2.000 spesies begonia.

Selain bernilai ilmiah, begonia liar juga memiliki potensi ekonomi. Tanaman ini diminati sebagai tanaman hias karena bentuk dan warna daunnya yang unik, serta berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional.

Namun, keterbatasan jumlah ahli taksonomi di Indonesia masih menjadi tantangan dalam mengidentifikasi kekayaan biodiversitas nasional. Deden mengingatkan kerusakan habitat menjadi ancaman serius bagi kelestarian flora tersebut.

"Kita berpacu dengan waktu, apakah spesies itu ditemukan lebih dulu atau justru hilang akibat kerusakan habitat," katanya.

Adapun Penelilti Ahli Utama Pusat Riset Botani Terapan BRIN Destario Metusala menamabahkan, terdapat tiga penemuan spesies anggrek baru. Salah satunya berasal dari Aceh bernama Chiloschista tjiasmantoi.

Anggrek tersebut dikenal sebagai “anggrek akar”. Karena hampir tidak memiliki daun dan melakukan fotosintesis melalui akar yang mengandung klorofil.
  
“Fotosintesisnya lebih dominan dilakukan oleh akar,” jelas Destario.

Ia menyebut Indonesia memiliki sekitar 4.000 spesies anggrek, menjadikannya salah satu negara dengan keragaman anggrek tertinggi di dunia. Sebagian besar bersifat endemik dan berpotensi dikembangkan untuk kebutuhan obat, kosmetik, tanaman hias, hingga bahan aromatik.

Namun, ancaman terhadap anggrek juga semakin besar. Hal ini diakibatkan alih fungsi lahan dan pengambilan langsung dari alam untuk kebutuhan kolektor maupun industri obat. 

Namun, ancaman terhadap anggrek juga semakin besar akibat alih fungsi lahan dan pengambilan langsung dari alam untuk memenuhi kebutuhan kolektor maupun industri obat.

"Karena itu, budidaya dan penangkaran menjadi solusi penting untuk menjaga keberlanjutannya," kata Destario.


Ilustrasi hutan di Indonesia. Foto: Antara. 

Selain anggrek, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Botani Terapan BRIN Ridha Mahyuni mengungkapkan, adanya penemuan spesies baru Rafflesia harjatiae di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Kawasan tersebut kini masuk wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN).

Saat ini Indonesia tercatat memiliki sekitar 18 spesies rafflesia yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Temuan spesies baru tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keragaman rafflesia dunia.

"Penemuan ini sangat signifikan karena jumlah Rafflesia di dunia hanya sekitar 40 spesies dan hanya ditemukan di Asia Tenggara,” katanya.

BRIN menegaskan pentingnya eksplorasi, dokumentasi, dan konservasi biodiversitas Indonesia secara berkelanjutan. Kekayaan hayati Indonesia dinilai tidak hanya penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga berpotensi besar mendukung ekonomi berbasis biodiversitas di masa depan.

(Gabriella Thesa Widiari)