Literasi Digital Perempuan Berperan Penting Menjaga Ketahanan Keluarga

Ilustrasi literasi digital. Foto: dok Aptika Kominfo.

Literasi Digital Perempuan Berperan Penting Menjaga Ketahanan Keluarga

Husen Miftahudin • 13 May 2026 23:17

Jakarta: Literasi digital untuk perempuan dinilai berperan penting dalam menjaga ketahanan keluarga. Lewat literasi digital yang baik, perempuan dapat menjaga keluarga dari upaya penipuan, eksploitasi anak, hingga konten-konten negatif lainnya.

"Teknologi bisa dimanfaatkan untuk menjaga keluarga. Apalagi perempuan punya kelebihan di mana anak lebih suka bercerita ke ibu. Butuh perspektif perempuan untuk mendukung keamanan digital untuk anak," kata Direktur Ekosistem Media Dirjen Komunikasi Publik dan Media, Kementerian Komunikasi dan Digital Farida Dewi Maharani dalam seminar Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (Alppind), dikutip dari siaran pers, Rabu, 13 Mei 2026.

Sementara, Direktur Kebijakan Tata Kelola Keamanan Siber dan Sandi BSSN Nunil Pantjawati menyatakan tak bisa dipungkiri akan adanya ancaman siber yang nyata yang saat ini telah merambah ke ruang keluarga. Hal ini menjadi tantangan penting di era digital, khususnya bagi perempuan dan anak.

Risiko seperti cyber bullying, kecanduan gim, penipuan online, hingga paparan konten negatif perlu diantisipasi melalui penerapan cyber hygiene dan pengawasan orang tua.

"Orang tua diharapkan mampu membangun kebiasaan digital yang sehat, memberikan edukasi kepada anak, serta membatasi penggunaan teknologi secara bijak guna menciptakan ruang digital yang aman dan produktif bagi keluarga," tegas Nunil.

Faktanya memang saat ini sebanyak 60 persen remaja pernah mengalami berbagai risiko negatif dari kegiatan cyber ini. Statistik temuan patrol besar siber BSSN paling banyak terkait narkoba, risiko anak cyber bullying, kecanduan gim, hingga pelecehan.
 
Baca juga: Ini Strategi BI Pacu Ekonomi Digital Indonesia


(Seminar Alppind. Foto: Istimewa)
 

Penjaga peradaban


Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Universitas Nusa Bangsa Luluk Setyaningsih menekankan, ibu berperan dalam menentukan screen time anak mengatur, memberikan pemahaman, mengajari risiko atau membatasi jam anak menggunakan teknologi digital, agar anak ketika memiliki smartphone tahu mana yang baik mana yang tidak.

Menurut dia, peran ibu dan perempuan dalam mendampingi anak untuk menggunakan gadget dengan bijak adalah merupakan salah satu fungsi perempuan sebagai penjaga peradaban. Untuk dapat menjadi pendamping dan pelindung anak dan keluarga dari konten negatif dunia digital maka perempuan harus mendapatkan akses pendidikan yang baik pula.

"Ibu harus menjadi pribadi yang cakap, cerdas, dan baik. Perempuan adalah guru pertama. Untuk mendapatkan negara yang terdidik maka diperlukan ibu-ibu yang terdidik pula," kata Luluk.

Lebih lanjut ia menjelaskan, ketahanan keluarga adalah kondisi keluarga yang ulet dan tangguh serta memiliki kemampuan fisik, materi dan mental untuk hidup secara mandiri dan mengembangkan diri, dimensi kebahagiaan 72,3 persen, dimensi ketentraman 60,3 persen, serta dimensi kemandirian 53,3 persen.

"Isu ketahanan keluarga terdapat isu ketahanan ekonomi, ketahanan sosial, krisis keharmonisan, dan isu ketahanan mental keluarga. Karena itu, masalah ketahanan keluarga yang perlu punya pondasi yang kuat, terutama masalah pembentukan karakter anak," tegas Luluk.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)