Kesaksian Penyiksaan Aktivis Global Sumud Flotilla oleh Israel

Aktivis Global Sumud Flotilla yang dipindahkan ke Turki. Foto: Anadolu

Kesaksian Penyiksaan Aktivis Global Sumud Flotilla oleh Israel

Fajar Nugraha • 22 May 2026 18:28

Istanbul: Aktivis asal Selandia Baru, Mousa Taher, mengaku mengalami perlakuan tidak manusiawi setelah ditahan pasukan Israel saat mengikuti misi bantuan kemanusiaan Global Sumud menuju Gaza.

Taher menyampaikan kesaksiannya setelah tiba di Bandara Istanbul menggunakan penerbangan Turkish Airlines bersama aktivis lainnya.

Lebih lanjut Taher menambahkan, pasukan Israel mencegat kapal bantuan di perairan internasional dan memperlakukannya secara kasar karena ia pernah mengikuti misi serupa sebelumnya.

“Pasukan pendudukan Israel benar-benar menyiksa saya kali ini,” ujar Taher, dikutip dari media Anadolu Agency, Jumat, 22 Mei 2026.


Ia memperlihatkan luka di wajah dan kakinya serta mengaku dipaksa melepas pakaian bersama seorang aktivis lain di atas kapal. Taher juga menyebut tangannya diikat sangat kuat menggunakan pengikat plastik hingga kesakitan, lalu seorang tentara menginjak wajahnya sambil mengambil foto.

Taher mengatakan dirinya sempat dipindahkan ke kapal yang menyerupai penjara setelah mengalami pemukulan hingga pingsan. Menurutnya, tentara Israel terus memukul dan menendangnya sebelum kondisi di tempat tahanan sedikit mereda.

“Mereka mempermalukan kami. Mereka memaksa kami merangkak di tanah agar kami merasa tidak berarti,” kata Taher saat menceritakan pengalamannya selama ditahan.

Mereka Tidak Memiliki Kasih Sayang

Taher mengatakan ayahnya berasal dari Palestina, sementara dirinya dibesarkan oleh ibu non-Muslim sebelum memeluk Islam sekitar 20 tahun lalu. Ia mengaku mulai tertarik pada Islam setelah mempelajari Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur.

Menurut Taher, penderitaan rakyat Palestina membuatnya memahami mengapa tragedi kemanusiaan dapat terjadi ketika dunia memilih diam. Ia mengajak masyarakat membayangkan jika keluarga mereka sendiri menjadi korban perang dan pendudukan.

Meski mengkritik pemerintah Israel, Taher menegaskan tidak semua warga Yahudi dan Israel adalah orang jahat. Ia juga mengecam tindakan yang menyerang komunitas Yahudi secara umum.

“Saya melihat sendiri bahwa mereka tidak memiliki kasih sayang di hati mereka. Tetapi saya tidak kehilangan harapan,” ujarnya.


Kekerasan Terus Meningkat

Aktivis asal Mauritania, Isselmou Ould Maloum, juga mengaku mengalami kekerasan selama ditahan tentara Israel. Ia menilai aparat Israel terus meningkatkan tindakan represif ketika kekerasan sebelumnya gagal menghentikan aksi para aktivis.

Maloum mengatakan, sejumlah aktivis mengalami patah tulang rusuk akibat pemukulan. Namun, ia menilai kondisi tersebut masih belum sebanding dengan perlakuan yang dialami tahanan Palestina di penjara Israel.

Ia menyebut ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti pelayaran bantuan menuju Gaza. Menurutnya, para aktivis yang pernah ikut misi sebelumnya mengatakan tingkat kekerasan kini semakin meningkat.

“Kami datang untuk membantu warga Gaza dengan membawa obat-obatan dan makanan. Tetapi pembebasan Palestina akan dilakukan oleh rakyat Palestina sendiri,” kata Maloum.

(Keysa Qanita)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)