Viral Kostum Satanik Festival di Pekalongan, Panitia Minta Maaf

Bagian penampilan dalam Night Carnival atau SKNC 2026 di Kabupaten Pekalongan. MI/Ist.

Viral Kostum Satanik Festival di Pekalongan, Panitia Minta Maaf

Supardji Rasban • 14 September 2026 22:01

Pekalongan: Panitia Simbangkulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menyampaikan permintaan maaf atas kontroversi penampilan peserta yang disebut publik memiliki nuansa ritual satanik. Panitia mengakui tidak memahami makna kostum dan referensi penampilan yang digunakan dalam parade tersebut.

Kontroversi mencuat setelah penampilan salah satu peserta dalam SKNC 2026 menjadi sorotan publik. Aksi tersebut kemudian ramai diperbincangkan lantaran dinilai menampilkan unsur yang dikaitkan dengan ritual satanik.

Panitia bersama pihak keamanan dan pemerintah setempat kemudian menggelar pertemuan di Kantor Lurah Simbangkulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, untuk membahas persoalan tersebut.

Salah satu perwakilan panitia, Ziyad Azisi, mengaku tidak mengetahui secara rinci konsep penampilan yang dibawakan tim kreatif Simbangkulon Gang 1 atau Sim One.

"Kami mohon maaf atas kontroversi yang muncul dan membuat tidak nyaman berbagai pihak atas aksi tersebut apalagi ditonton juga oleh Plt Bupati Pekalongan dan jajarannya," ujar Ziyad, Selasa, 14 September 2026.

Permintaan maaf juga disampaikan tim kreatif yang terlibat dalam penampilan tersebut. Ketua tim kreatif, M Akhid, mengakui adanya kekurangan pemahaman terhadap referensi yang digunakan dalam menyusun konsep pertunjukan.
 


"Ide penampilan bermula saat mereka melihat kostum yang dianggap unik. Kostum tersebut kemudian disewa dari pihak di Malang, sementara gerakan dan koreografi disiapkan bersama anggota tim," terang Akhid.

Akhid menjelaskan tim memperoleh referensi penampilan dari sejumlah video di YouTube. Materi tersebut kemudian dipelajari dan dilatih selama kurang lebih satu pekan.

Tim kreatif juga membantah adegan penyembelihan kambing dalam pertunjukan tersebut ditujukan sebagai ritual satanik.

"Kambing tersebut memang telah direncanakan untuk disembelih setelah acara untuk kegiatan rahatan. Saat membuat konsep tidak mengetahui bahwa referensi kostum dan penampilan tersebut dapat dikaitkan dengan ritual satanik," jelas Akhid.


Pemerintah Akui Kecolongan

Lurah Simbangkulon, Franky Irawan, mengakui pemerintah setempat tidak mengetahui secara mendetail materi penampilan peserta sebelum acara berlangsung.

Pemerintah kelurahan akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan. Panitia juga diminta lebih dahulu memahami setiap konsep penampilan peserta sebelum ditampilkan di hadapan masyarakat.

"Kami dari pihak Kelurahaman juga minta maaf kepada masyarakat yang merasa tersinggung dengan penampilan tersebut," ujar Franky.

Sementara itu, kepolisian masih menyelidiki penampilan yang viral di media sosial tersebut. Kasat Reskrim Polres Pekalongan Kota AKP Setiyanto mengatakan hingga kini belum ada laporan resmi dari masyarakat terkait aksi tersebut.

Meski belum menerima laporan, polisi tetap mengumpulkan keterangan dan informasi dari sejumlah saksi. Langkah tersebut dilakukan untuk mendalami ada atau tidaknya unsur pidana dalam penampilan tersebut. Sejumlah panitia juga telah dimintai keterangan oleh kepolisian sebagai bagian dari proses penyelidikan.

"Hingga kini kami belum menyimpulkan bahwa aksi tersebut merupakan ritual satanik ataupun tindak pidana," ujar Setiyanto.

(Whisnu M)