Berunding dengan AS di Oman, Iran Soroti Pentingnya Itikad Baik

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Foto: CGTN

Berunding dengan AS di Oman, Iran Soroti Pentingnya Itikad Baik

Muhammad Reyhansyah • 6 February 2026 19:34

Teheran: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Teheran terlibat dalam jalur diplomasi dengan itikad baik.

Hal itu disampaikan Abbas Araghchi menjelang pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat (AS) di Oman. Araghchi pada  Jumat, 6 Februari 2026 menegaskan bahwa setiap komitmen yang disepakati harus dihormati.

“Iran memasuki diplomasi dengan mata terbuka dan ingatan yang kuat atas satu tahun terakhir. Kami terlibat dengan itikad baik dan berdiri teguh pada hak-hak kami,” kata Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dalam unggahan di platform X, dikutip dari Anadolu, Jumat, 6 Februari 2026.

Ia menegaskan bahwa “komitmen harus dihormati,” seraya menekankan bahwa posisi setara, saling menghormati, dan kepentingan bersama merupakan “keharusan dan pilar dari sebuah kesepakatan yang berkelanjutan.”

Pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Oman yang berfokus pada isu nuklir, demikian dilaporkan oleh stasiun televisi pemerintah Iran. Pertemuan tersebut berlangsung di ibu kota Oman, Muscat.

Pembicaraan ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran yang dipicu oleh peningkatan kekuatan militer Amerika di Teluk Persia dan ancaman berulang kali terhadap aksi militer oleh Presiden AS Donald Trump.

Selain Menlu Araghchi, ia didampingi oleh Majid Takht-Ravanchi, wakil menteri luar negeri untuk urusan politik; Esmaeil Baghaei, juru bicara kementerian; Hamid Ghanbari, wakil menteri untuk urusan ekonomi; dan diplomat Iran lainnya.

Menurut para pejabat AS, Steve Witkoff, utusan khusus presiden AS untuk Timur Tengah, dan Jared Kushner, menantu Trump dan ajudan tidak resmi, mewakili Amerika Serikat dalam pembicaraan tersebut.

Sempat diragukan

Rencana perundingan ini sempat diragukan pada awal pekan, namun seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi kepada Anadolu bahwa pembicaraan tersebut tetap akan berlangsung.

Dialog yang direncanakan itu digelar di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran, yang dipicu oleh penumpukan kekuatan militer Amerika Serikat di Teluk Persia serta ancaman aksi militer yang berulang kali dilontarkan oleh Presiden Trump.

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah negara turut menawarkan diri sebagai mediator untuk meredakan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, dengan Türki disebut memainkan peran yang sangat aktif.

Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Tuduhan tersebut dibantah oleh Teheran, yang menyatakan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai, termasuk pembangkit listrik.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)