Ilustrasi emas batangan. Foto: fox5ny.com
Harga Emas Masih Berisiko Terkoreksi, Bahkan Bisa Ambruk hingga ke Level USD3.300-an
Husen Miftahudin • 17 July 2026 08:27
Chicago: Bank of America (BofA) memperkirakan koreksi harga emas dunia masih berpotensi berlanjut setelah muncul sejumlah sinyal teknikal yang dinilai menyerupai pola pembentukan puncak harga pada 1980 dan 2011.
Mengutip Investing.com, Jumat, 17 Juli 2026, dalam riset teknikal terbaru, tim analis yang dipimpin Paul Ciana menyebut kombinasi beberapa indikator meningkatkan risiko pelemahan harga emas dalam jangka menengah hingga panjang.
Indikator tersebut meliputi death cross, posisi net-long yang tinggi, pola candlestick pembalikan arah, sinyal TD Sequential yang menunjukkan kelelahan tren, serta Relative Strength Index (RSI) yang sempat mencapai level 90 ketika harga mencetak rekor tertinggi. Kombinasi indikator tersebut pernah muncul menjelang pasar bearish emas pada 1980 dan 2011.
BofA menilai fase koreksi yang terjadi saat ini belum cukup panjang apabila dibandingkan dengan tren kenaikan sebelumnya. "Koreksi saat ini baru berlangsung selama 24 pekan dibandingkan kenaikan sebelumnya yang berlangsung selama 121 pekan," jelas tim analis BofA yang dipimpin Paul Ciana.
"Meskipun harga emas telah menembus level retracement Fibonacci 38,2 persen di USD4.149, koreksi tersebut masih tergolong terlalu singkat dibandingkan tren naik sebelumnya," tambah dia.
Sejak awal tahun, harga emas (XAU/USD) tercatat turun sekitar 7,5 persen, bahkan sempat melemah hingga 16,8 persen dalam tiga bulan terakhir.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Diramal ambruk hingga ke level USD3.300-an
BofA membandingkan kondisi saat ini dengan tiga periode pasar bearish emas sejak 1970. Dalam setiap siklus tersebut, harga emas terkoreksi sedikitnya 50 persen dari fase kenaikan sebelumnya. Jika pola serupa kembali terjadi pada siklus saat ini, BofA memperkirakan harga emas berpotensi turun hingga sekitar USD3.315 per troy ons.
Selain itu, metode analisis historis yang digunakan BofA menunjukkan potensi pelemahan menuju USD3.605, sementara level retracement Fibonacci 50 persen berada di sekitar USD3.702, yang dinilai menjadi area penting apabila tekanan jual berlanjut.
Meski prospek jangka menengah masih negatif, BofA menilai harga emas berpeluang mengalami pemantulan sementara sebelum kembali terkoreksi. Paul Ciana memperkirakan harga emas dapat bergerak naik ke kisaran USD4.325 hingga USD4.500 sebelum kembali menguji area retracement Fibonacci 50 persen di sekitar USD3.702.
Menurut BofA, pola tersebut menyerupai pergerakan harga emas setelah mencapai puncak pada 2011, ketika sempat terjadi reli jangka pendek sebelum tren penurunan berlanjut.
Meski memperingatkan risiko koreksi lebih dalam, BofA tidak menyarankan investor keluar sepenuhnya dari pasar emas. Sebaliknya, lembaga keuangan tersebut merekomendasikan strategi akumulasi secara bertahap sesuai level harga.
"Kami lebih menyukai akumulasi moderat di bawah USD4.000. Namun, jika risiko penurunan masih berlanjut, investor dapat menambah posisi di kisaran USD3.700 hingga USD3.600, lalu meningkatkan alokasi pada area USD3.450 hingga USD3.250," ujar Ciana.
BofA juga menilai paruh kedua 2026 menjadi periode yang perlu dicermati karena berpotensi menentukan apakah koreksi saat ini hanya merupakan konsolidasi dalam tren naik atau awal dari pasar bearish yang lebih panjang.