Update Korban Banjir Nepal-Tiongkok: Lebih dari 1.000 Tewas, 4.462 Masih Hilang

Kerusakan akibat terjangan banjir bandang di perbatasan Nepal-Tiongkok. (Anadolu Agency)

Update Korban Banjir Nepal-Tiongkok: Lebih dari 1.000 Tewas, 4.462 Masih Hilang

Willy Haryono • 1 September 2026 13:39

Kathmandu: Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan longsor di perbatasan Nepal dan Tiongkok telah menembus 1.000 orang, sepekan setelah bencana dahsyat tersebut terjadi.

Berdasarkan data resmi, jumlah korban tewas di kedua sisi perbatasan mencapai 1.003 orang, sementara sekitar 4.462 orang masih dinyatakan hilang, termasuk 844 warga negara asing.

Dikutip dari Anadolu Agency, Selasa, 1 September 2026, Otoritas Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Nepal (NDRRMA) mengatakan tim pencarian dan penyelamatan telah mengonfirmasi tambahan 84 korban jiwa. Dengan demikian, jumlah korban tewas di sisi Nepal mencapai 987 orang.

Sebanyak 3.916 orang masih hilang di Nepal, termasuk 583 warga asing. Di antara mereka terdapat 639 pekerja yang berada di sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air.

Sementara itu, otoritas Tiongkok mengonfirmasi 16 orang tewas dan masih mencari 546 orang yang dinyatakan hilang, termasuk 261 warga asing.

India menjadi salah satu negara dengan jumlah warga hilang terbesar. Data yang dibagikan kedua negara menunjukkan 275 warga India dan 100 warga Tiongkok termasuk dalam daftar orang hilang.

Bencana Dipicu Keruntuhan Gletser

Bencana terjadi pada 26 Agustus setelah sebuah gletser di Gunung Langtang Lirung, Nepal, retak pada ketinggian sekitar 5.200 meter. Runtuhan es dan batu kemudian berkembang menjadi aliran material besar yang menerjang lembah-lembah di sepanjang kawasan perbatasan Nepal-Tiongkok.

Gelombang air, lumpur, dan material batu menghancurkan sejumlah wilayah di Nepal, termasuk Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Kavre, dan Lembah Kathmandu.

Di sisi Tiongkok, material bencana menimbun kawasan perlintasan perbatasan Gyirong di Daerah Otonomi Xizang, Tiongkok barat daya.

Besarnya dampak bencana membuat proses pencarian dan identifikasi korban menghadapi berbagai kendala. Nepal kini meminta bantuan berupa lemari pendingin jenazah, perangkat pengujian DNA, teknologi penginderaan jarak jauh, serta drone untuk memetakan wilayah terdampak.

Tiongkok, Korea Selatan, dan India telah mengirimkan tim untuk membantu operasi pencarian dan penyelamatan.

Medan yang terjal, kerusakan jalan, serta hancurnya infrastruktur utama juga menyulitkan komunikasi dan mobilitas tim penyelamat.

Media pemerintah Tiongkok melaporkan tim penyelamat bahkan harus berjalan kaki selama sekitar 10 jam untuk mencapai perlintasan Gyirong. Setibanya di lokasi, mereka tidak menemukan tanda-tanda bangunan maupun infrastruktur yang tersisa di sisi Tiongkok.

Operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung untuk menemukan ribuan orang yang belum diketahui keberadaannya.

Baca juga:  Kisah Kepala Sekolah Nepal Selamatkan 900 Siswa dari Banjir Mematikan

(Willy Haryono)