Peta segmentasi megathrust di Indonesia pada tahun 2024. (Dok. Kementerian PU)
Heboh Isu Gempa, Simak Daftar 14 Megathrust di Wilayah Indonesia
Riza Aslam Khaeron • 2 September 2026 12:02
Jakarta: Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat aktivitas kegempaan tertinggi di dunia. Kondisi ini tidak terlepas dari posisi geografisnya yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) sekaligus menjadi titik temu bagi sejumlah lempeng tektonik utama dunia.
Secara teknis, wilayah Indonesia dipengaruhi oleh interaksi empat lempeng tektonik utama, yaitu Lempeng Eurasia, Indo-Australia, Laut Filipina, dan Pasifik.
Pertemuan dan pergerakan antarlempeng ini membentuk berbagai jenis sumber gempa, salah satu yang paling signifikan adalah zona subduksi atau megathrust. Jalur subduksi di Indonesia ini membentang sangat panjang, yakni sekitar 9.000 kilometer dari kawasan barat hingga timur Nusantara.
Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya riset kebumian, peta zona megathrust di Indonesia terus mengalami pemutakhiran.
Dalam kurun waktu 17 tahun terakhir, peta ini telah diperbarui sebanyak tiga kali, yakni pada tahun 2010, 2017, dan yang terbaru pada 2024. Pemutakhiran segmentasi megathrust ini dimuat dalam dokumen Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024 yang disusun oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) dan diterbitkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.
Berikut adalah penjelasan mengenai karakteristik megathrust beserta daftar zona megathrust di Indonesia berdasarkan pemodelan terbaru.
Apa Itu Megathrust?

Foto dampak gempa bumi Flores 1920. (Dok. BNPB)
Dalam kajian geologi dan seismotektonik, gempa bumi yang terjadi akibat aktivitas subduksi secara umum dibedakan menjadi dua jenis, yaitu gempa megathrust (interface earthquake) dan gempa Benioff (intraslab earthquake).
Megathrust merujuk pada sumber gempa yang terletak di bidang kontak antara lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng benua. Area kontak ini berada pada bagian zona subduksi yang relatif dangkal, umumnya pada kedalaman kurang dari 50 kilometer.
Sumber gempa jenis megathrust berpotensi besar memicu gempa bumi magnitudo tinggi sekaligus memicu tsunami. Di wilayah Indonesia sendiri, salah satu sistem megathrust terbesar berada di sepanjang Busur Sunda.
Di jalur ini, Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia dari lepas pantai Sumatra hingga Kepulauan Jawa. Sementara itu, kondisi tektonik di wilayah Indonesia bagian timur jauh lebih kompleks karena melibatkan interaksi dari beberapa lempeng besar serta sejumlah blok tektonik mikro.
Daftar 14 Zona Megathrust di Indonesia
Mengacu pada pemodelan terbaru dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, terdapat 14 segmen megathrust yang diidentifikasi di wilayah Indonesia beserta estimasi potensi magnitudo maksimumnya (Mmax):- Megathrust Aceh-Andaman (Mmax 9,2)
Segmen Aceh-Andaman memiliki nilai Mmax tertinggi dalam pemodelan PuSGeN, dengan panjang bentang mencapai sekitar 1.300 kilometer. Salah satu peristiwa gempa paling dahsyat yang pernah terjadi di segmen ini adalah gempa bumi dan tsunami Aceh tahun 2004 dengan magnitudo Mw 9,15.
- Megathrust Nias-Simeulue (Mmax 8,7)
Segmen Nias-Simeulue diperkirakan memiliki potensi Mmax hingga 8,7. Catatan sejarah mencatat bahwa kawasan ini pernah memicu gempa bumi berskala besar, di antaranya peristiwa Gempa Nias tahun 1861 bermagnitudo Mw 8,5 dan Gempa Nias-Simeulue tahun 2005 bermagnitudo Mw 8,7.
- Megathrust Batu (Mmax 7,8)
Segmen Batu memiliki estimasi potensi Mmax 7,8 dengan panjang jalur sekitar 70 kilometer. Salah satu peristiwa gempa besar yang tercatat dalam sejarah di zona ini terjadi pada tahun 1935 di Kepulauan Batu dengan kekuatan Mw 7,7.
- Megathrust Mentawai-Siberut (Mmax 8,9)
Segmen Mentawai-Siberut memiliki potensi energi hingga Mmax 8,9. Kawasan yang berada di lepas pantai barat Sumatra ini tercatat memicu gempa bumi destruktif pada masa lalu, seperti Gempa Sumatra 1797 dan 1833.
- Megathrust Mentawai-Pagai (Mmax 8,9)
Segmen ini juga ditetapkan memiliki potensi Mmax sebesar 8,9 oleh PuSGeN. Sejarah mencatat beberapa gempa signifikan pernah berpusat di segmen ini, antara lain gempa Bengkulu Mw 8,5 pada tahun 2007 dan gempa tsunami Mentawai Mw 7,8 pada tahun 2010.
- Megathrust Enggano (Mmax 8,9)
Pada pemutakhiran peta 2024, segmentasi kawasan ini diperbarui setelah sebagian area dari Segmen Selat Sunda digabungkan ke dalam Segmen Enggano. Segmen yang kini memiliki panjang sekitar 420 kilometer ini diperkirakan memiliki Mmax 8,9.
- Megathrust Jawa (Mmax 9,1)
Dalam pemodelan terbaru, PuSGeN memetakan Segmen Jawa dengan potensi Mmax mencapai 9,1. Jalur megathrust yang dimodelkan ini membentang sepanjang kurang lebih 1.120 kilometer di lepas pantai selatan Jawa.
- Megathrust Jawa Bagian Barat (Mmax 8,9)
Zona Megathrust Jawa Bagian Barat (Western Java) memiliki Mmax 8,9 dengan panjang bentang segmen sekitar 670 kilometer. Pemodelan zona ini memperhitungkan rekaman peristiwa gempa bersejarah di Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1699 serta gempa di kota yang sama bermagnitudo Mw 8,5 pada tahun 1780.
- Megathrust Jawa Bagian Timur (Mmax 8,9)
Segmen Jawa Bagian Timur (Eastern Java) juga diestimasi memiliki potensi Mmax 8,9 dengan panjang jalur sekitar 450 kilometer. Riwayat kegempaan di zona ini mencakup peristiwa gempa bumi Mw 8,1 pada tahun 1903 serta Gempa Pangandaran Mw 7,8 pada tahun 2006.
- Megathrust Sumba (Mmax 8,5)
Segmen Sumba membentang sepanjang kira-kira 630 kilometer dengan estimasi nilai Mmax 8,5. Data historis yang digunakan PuSGeN mencatat aktivitas gempa kuat di wilayah ini pada tahun 1916 (Mw 7,2) dan Gempa Banyuwangi tahun 1994 (Mw 7,8).
- Megathrust Lengan Utara Sulawesi (Mmax 8,5)
Segmen ini membentang sekitar 550 kilometer di sebelah utara pulau Sulawesi dengan nilai Mmax 8,5. Catatan historis menunjukkan bahwa kawasan ini beberapa kali diguncang gempa kuat, seperti pada tahun 1538, 1877, Gempa Tolitoli 1996, dan Gempa Minahasa Mw 7,4 pada tahun 2008.
- Palung Cotabato (Mmax 8,3)
Palung Cotabato (Cotabato Trench) berlokasi di wilayah Mindanao, Filipina. Meskipun berada di luar wilayah Indonesia, segmen sepanjang 310 kilometer dengan Mmax 8,3 ini tetap dimasukkan ke dalam pemodelan PuSGeN karena letaknya yang sangat dekat dengan wilayah Indonesia bagian utara.
- Filipina Selatan (Mmax 8,2)
Segmen Filipina Selatan (South Philippine) merupakan bagian dari sistem Megathrust Filipina dengan panjang segmen sekitar 550 kilometer dan Mmax 8,2. Aktivitas gempa di segmen ini tercatat pernah berdampak hingga ke wilayah Indonesia pada tahun 1924.
- Filipina Tengah (Mmax 8,1)
Segmen Filipina Tengah (Central Philippine) memiliki nilai Mmax 8,1 dengan panjang jalur sekitar 370 kilometer. Sama halnya dengan Palung Cotabato dan Filipina Selatan, kawasan ini tetap dimasukkan dalam pemodelan karena potensi rambatan dampaknya dapat memengaruhi wilayah utara Indonesia.
Baca Juga :
Hampir 11 Ribu Kali Gempa Susulan Guncang NTT
Mengapa Daftar Megathrust Dapat Berubah?
Perubahan pada daftar maupun jumlah zona megathrust merupakan hal yang wajar dalam ilmu kebumian seiring berimbangnya riset dan penemuan data tektonik baru. Pada pemutakhiran tahun 2024, beberapa sumber gempa di wilayah Indonesia bagian timur yang sebelumnya dianggap megathrust kini mendapatkan pemaknaan geologi yang baru.Sebagai contoh, Sesar Naik Halmahera dan Sangihe yang dulu dikaitkan dengan megathrust Laut Maluku kini diidentifikasi sebagai hasil deformasi dari zona kolisi antara Busur Halmahera dan Busur Sangihe.
Selain itu, Megathrust Papua yang muncul dalam daftar tahun 2010 dan 2017 kini dimodelkan sebagai sistem sesar naik North Papua Thrust.