Galeri seni May Mothers House di Gwangju Bienalle 2026, Korea Selatan. Metrotvnews.com/Whisnu Mardiansyah
Merawat Ingatan Luka Lewat Lukisan di May Mothers House Gwangju Bienalle 2026
Whisnu Mardiansyah • 7 September 2026 20:34
Gwangju: Ingatan tidak selalu hadir dalam bentuk arsip, dokumen, atau catatan sejarah. Di May Mothers House, Gwangju, Korea Selatan, ingatan justru tumbuh melalui kuas, warna, bunga, buah, kenangan keluarga, hingga kekerasan yang membekas selama puluhan tahun.
Ruang galeri ini mempertemukan perempuan-perempuan yang menjadi saksi Peristiwa Demokrasi 18 Mei 1980 di Gwangju, yang juga dikenal sebagai Gwangju Uprising. Mereka sebagian kehilangan anggota keluarga akibat tindakan kekerasan rezim militer. Sebagian lainnya selamat namun membekas lewat cedera fisik dan menjalani hidup dengan luka yang dibawa selama beberapa dekade.
May Mothers House didirikan pada 2006 sebagai ruang untuk merawat dan memberikan dukungan kepada para penyintas. Seiring waktu, tempat tersebut berkembang menjadi komunitas yang menjaga ingatan melalui solidaritas dan praktik bersama.
Direktur Artistik Gwangu Bienalle Ho Tzu Nyen mengatakan dalam konteks Gwangju Biennale 2026, May Mothers House hadir bukan semata sebagai ruang yang menyimpan sejarah, melainkan sebagai tempat pengalaman personal diterjemahkan ke dalam bahasa seni.
"Lukisan menjadi medium bagi para ibu untuk melihat kembali perjalanan hidup mereka, termasuk pengalaman yang selama ini berada di antara kenangan pribadi dan sejarah kolektif," kata Ho Tzu Nyen di Gwangju, Minggu, 6 September 2026.
Sejarah tersebut tidak berdiri sendiri. Para anggota May Mothers House selama bertahun-tahun membangun hubungan dengan kelompok dan komunitas lain yang juga membawa ingatan tentang kekerasan negara. Hubungan itu menjangkau lintas benua dengan para ibu Plaza de Mayo di Argentina hingga peserta gerakan demokrasi kontemporer di berbagai wilayah Asia.
Di May Mothers House, proses mengingat juga dilakukan melalui kegiatan melukis. Sejak 2022, para anggota mengikuti lokakarya melukis secara rutin yang dipimpin seniman Joo Hong. Melalui proses itu, para ibu kembali menyusuri berbagai lapisan pengalaman hidup. Ada kenangan tentang kebahagiaan dan kesedihan, kehidupan keluarga dan pergolakan, kasih sayang dan kehilangan.
Kenangan tentang pernikahan, kehamilan, serta perjalanan bersama keluarga hadir berdampingan dengan pengalaman membawa anggota keluarga yang terluka ke rumah sakit atau menyaksikan kekerasan dalam Pemberontakan Gwangju.

Galeri seni May Mothers House di Gwangju Bienalle 2026, Korea Selatan. Metrotvnews.com/Whisnu Mardiansyah
"Lukisan kemudian menjadi cara untuk melihat kembali pengalaman tersebut. Bagi perempuan yang sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk merawat orang lain, aktivitas melukis memberikan kesempatan untuk memberi perhatian kepada diri sendiri. Di titik itu, melukis tidak hanya menjadi kegiatan menghasilkan gambar. Praktik tersebut menjadi proses menengok kembali kehidupan dan menemukan kembali bagian diri yang mungkin lama terabaikan," kata Ho Tzu Nyen.
Pameran May Mothers House di Gwangju Biennale 2026 menampilkan 322 lukisan yang dihasilkan melalui rangkaian lokakarya. Karya-karya itu dilengkapi publikasi khusus yang memuat kisah di balik setiap lukisan.
Cerita tersebut dihimpun melalui wawancara. Para ibu mendapat ruang untuk berbicara melalui karya sekaligus menjelaskan pengalaman yang melatarbelakanginya. Karena itu, lukisan-lukisan tersebut tidak hadir sebagai objek visual semata. Di balik setiap karya terdapat pengalaman hidup yang memberi konteks pada warna, bentuk, dan objek yang digambarkan.
Bunga dan buah muncul berdampingan dengan kenangan keluarga. Adegan dari Mei 1980 hadir bersama gambaran doa dengan lilin, pemikiran tentang demokrasi, serta momen berbagi makanan. Di sinilah kekuatan karya-karya May Mothers House berada. Lukisan-lukisan tersebut tampil secara langsung dan tanpa hiasan berlebihan.
May Mothers House juga memperlihatkan cara lain dalam memandang hubungan antara seni dan ingatan. Seni tidak selalu harus merepresentasikan sebuah peristiwa secara monumental. Ia dapat muncul dari pengalaman sehari-hari, dari benda-benda sederhana, serta dari cerita yang tersimpan dalam kehidupan seseorang.