Dikepung Asap Pekat, BNPB Gunakan Drone Thermal hingga Surfaktan Tangani Karhutla Kalimantan

Pelaksana Tugas (Plt) Kapusdatinkom BNPB Berton SP Panjaitan. Foto: Metro TV/Muhammad Adyatma Damardjati.

Dikepung Asap Pekat, BNPB Gunakan Drone Thermal hingga Surfaktan Tangani Karhutla Kalimantan

Muhammad Adyatma Damardjati • 4 September 2026 17:45

Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di tiga provinsi prioritas wilayah Kalimantan. BNPB menerjunkan drone thermal, karena terdapat kabut asap pekat di lahan gambut yang menghalangi jarak pandang dalam mencari titik api.

"Pencarian titik sumber api saat ini ada di dalam tanah dengan menggunakan drone thermal yang bisa menemukan titik-titik api di bawah permukaan yang tidak terlihat," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kapusdatinkom BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat, 4 September 2026.

Teknologi pendeteksi panas tersebut dikerahkan oleh satuan tugas di Kalimantan Selatan dan dikombinasikan dengan injeksi cairan surfaktan untuk membasahi lahan gambut dari dalam. Sementara itu, kondisi paling parah tercatat di wilayah Kalimantan Barat dengan temuan 61 titik api yang memicu turunnya jarak pandang hingga di bawah satu kilometer serta membuat kualitas udara berstatus berbahaya.

"Perhatian kami terhadap Kalimantan Barat sangat besar akibat memang lahan gambut yang tebal yang terbakar, sehingga membutuhkan penanganan dan pengawasan yang lebih lama, termasuk pendinginan," ujar Berton.

Petugas BPBD Kabupaten Banjar berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/agr

Ketebalan kabut asap dari lahan gambut ini tidak hanya mengancam kesehatan warga setempat, tetapi juga melumpuhkan mobilitas armada pemadam kebakaran. Di Kalimantan Tengah, operasi pengeboman air (water bombing) lewat jalur udara terpaksa dihentikan sementara karena pilot kehilangan jarak pandang visual yang aman.  

"Khusus Kalimantan Tengah, kemarin kami tidak bisa melakukan karena memang situasi dan kondisi di lapangan yang kurang memungkinkan. Jarak pandang yang rendah membuat operasi udara terbatas dilaksanakan," ungkap Berton.

(Siti Yona Hukmana)