Petugas BPBD Kabupaten Banjar berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/agr
Jarak Pandang Rendah Hambat Operasi Udara Pemadaman Karhutla di Kalteng
Silvana Febiari • 4 September 2026 17:10
Jakarta: Jarak pandang rendah menghambat operasi udara untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng). Kondisi tersebut membuat Satgas Udara tidak dapat melakukan patroli maupun water bombing.
“Satgas Udara kemarin tidak bisa melakukan patroli maupun water bombing karena situasi dan kondisi di lapangan kurang memungkinkan,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Panjaitan dalam konferensi pers penanganan karhutla, Jumat, 4 September 2026.
Berdasarkan data BNPB, terdapat 70 titik api di Kalimantan Tengah dengan luas lahan terbakar mencapai 225 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 197 hektare berhasil dipadamkan.
"Satgas Darat dikerahkan sebanyak 4.686 orang untuk memadamkan 197 hektare," ungkap Berton.
Berton mengatakan kondisi jarak pandang yang rendah turut membatasi operasi udara. Oleh karena itu, penanganan karhutla diprioritaskan melalui Satgas Darat.
“Pemadaman diutamakan lewat Satgas Darat pada titik api aktif lalu pendinginan, karena jarak pandang yang rendah membatasi operasi udara,” ujarnya.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Panjaitan saat memberikan keterangan soal penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Dokumentasi/ BNPB)
Selain kendala operasi udara, kualitas udara di Kalimantan Tengah berada pada kategori tidak sehat. Jarak pandang tercatat hanya sekitar 2,5 kilometer.
Sementara itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tetap dilakukan untuk membantu penanganan karhutla. Sebanyak 800 kilogram garam disemaikan dalam satu kali pelaksanaan OMC.
"Masyarakat diimbau tetap memakai masker," ucap Berton.