Kualitas Udara Kalbar Berbahaya, Jarak Pandang di Bawah 1 Km

Proses pemadaman titik api di wilayah Kalimantan Barat. ANTARA/HO-Baznas RI

Kualitas Udara Kalbar Berbahaya, Jarak Pandang di Bawah 1 Km

Silvana Febiari • 4 September 2026 17:02

Kubu Raya: Kualitas udara di Kalimantan Barat (Kalbar) berada pada kategori berbahaya akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut membuat jarak pandang di sejumlah wilayah turun hingga di bawah 1 kilometer.

“Kualitas udara berada pada kategori berbahaya dengan jarak pandang di bawah 1 km,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Panjaitan dalam konferensi pers penanganan karhutla, Jumat, 4 September 2026. 

Berdasarkan data BNPB, terdapat 61 titik api di Kalimantan Barat dengan luas lahan terbakar mencapai lebih dari 802 hektare. Satgas Darat telah menambah personel menjadi 14.563 orang untuk memperkuat penanganan karhutla.


"Satgas Darat menambah personel menjadi 14.563 personel dan berhasil memadamkan 429,9 hektare," ujar Berton.

Selain operasi darat, penanganan juga dilakukan melalui operasi udara. Satu armada dikerahkan untuk patroli selama 3 jam 16 menit, sementara dua unit water bombing digunakan dengan total 352.000 liter air dan berhasil memadamkan sekitar 3 hektare lahan.


Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Panjaitan saat memberikan keterangan soal penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Dokumentasi/ BNPB)


Berton mengatakan penanganan karhutla di Kalimantan Barat menjadi perhatian besar karena kondisi lahan gambut yang tebal. Lahan tersebut membutuhkan proses pendinginan dan air dalam jumlah lebih banyak agar api tidak kembali muncul.

“Perhatian terhadap Kalbar sangat besar akibat lahan gambut yang tebal sehingga membutuhkan pendinginan dan air yang lebih banyak agar api tidak muncul kembali,” ungkapnya.

Dampak kualitas udara juga dirasakan pada sektor pendidikan. Proses belajar mengajar di wilayah terdampak masih berlangsung secara daring.

"Masyarakat yang beraktivitas di luar rumah diimbau tetap menggunakan masker," imbau Berton.

(Silvana Febiari)