Gedung US Capitol di Washington DC. (Anadolu Agency)
Anggota DPR AS Pertanyakan Klaim Trump soal Perang Iran Sudah Berakhir
Willy Haryono • 6 May 2026 14:05
Washington: Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, Raja Krishnamoorthi, pada Selasa, 5 Mei 2026, mempertanyakan klaim Presiden Donald Trump yang menyebut perang dengan Iran telah berakhir.
Ia meminta penjelasan resmi dari Direktur Intelijen Nasional (DNI) Tulsi Gabbard terkait kondisi sebenarnya di lapangan.
Dilansir dari media Anadolu Agency, Rabu, 6 Mei 2026, Krishnamoorthi menilai pernyataan Trump tidak sesuai dengan fakta, karena blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran masih berlangsung. Selain itu, operasi militer dan kesepakatan gencatan senjata dinilai belum stabil.
Dalam suratnya, ia menyampaikan kekhawatiran bahwa informasi yang diberikan kepada Kongres tidak akurat. Ia menulis, “Presiden Trump telah secara keliru memberi tahu Kongres bahwa setelah 60 hari, perang dengan Iran telah berakhir, padahal blokade dan operasi militer masih berlangsung.”
Sebelumnya, Trump menyatakan kepada Kongres bahwa permusuhan dengan Iran telah selesai setelah gencatan senjata sejak awal April. Namun, ia juga menegaskan bahwa blokade AS tetap diberlakukan meski operasi militer “Project Freedom” akan dihentikan sementara untuk menjamin jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Krishnamoorthi menduga pemerintah berupaya menyatakan konflik telah berakhir agar sesuai dengan Resolusi Kewenangan Perang 1973. Aturan tersebut melarang keterlibatan militer AS dalam konflik lebih dari 60 hari tanpa persetujuan Kongres.
Ia menegaskan bahwa situasi saat ini belum mencerminkan gencatan senjata yang sah. Menurutnya, AS masih terlibat dalam perang yang belum mendapat otorisasi resmi. Ia juga menekankan perlunya mengakhiri konflik secara nyata dan permanen.
Untuk itu, Krishnamoorthi meminta pengarahan intelijen rahasia paling lambat 15 Mei. Ia ingin mengetahui kondisi terbaru konflik, ketahanan ekonomi Iran di tengah blokade, serta potensi eskalasi ke depan.
Ia menutup dengan menegaskan pentingnya transparansi bagi publik dan Kongres. Menurutnya, kejelasan kebijakan diperlukan untuk memastikan situasi tidak semakin tidak stabil dan berdampak pada masyarakat Amerika Serikat. (Keysa Qanita)
Baca juga: Menlu AS Nyatakan Operasi Militer 'Epic Fury' terhadap Iran Telah Berakhir