Israel Lakukan Kekerasan Terhadap Tahanan Perempuan Palestina

Tahanan Palestina kerap jadi korban kekerasan Israel saat di penjara. Foto: Middle East Eye

Israel Lakukan Kekerasan Terhadap Tahanan Perempuan Palestina

Muhammad Reyhansyah • 11 May 2026 18:02

Ramallah: Pasukan penjara Israel melakukan sedikitnya 10 penggerebekan terhadap blok tahanan perempuan Palestina di Penjara Damon selama Maret dan April.

Dalam pernyataan Perhimpunan Tahanan Palestina (PPS), kelompok itu mengatakan, “penggerebekan tersebut melibatkan pemukulan, memaksa tahanan berbaring di lantai, dan memborgol tangan mereka di belakang punggung."

Mengutip kesaksian para perempuan yang baru dibebaskan dari Penjara Damon, organisasi tersebut menyebut penjaga penjara laki-laki dan perempuan "dengan sengaja menyerang para tahanan," sehingga beberapa di antaranya mengalami memar.

"Israel menahan sebagian besar dari 88 tahanan perempuan Palestina di Penjara Damon, sementara lainnya masih berada di pusat penahanan dan interogasi," demikian isi pernyataan tersebut, dikutip dari Anadolu, Senin, 11 Mei 2026.

Di antara para tahanan terdapat dua anak perempuan dan tiga perempuan yang sedang berada pada awal masa kehamilan dan baru-baru ini ditangkap atas tuduhan yang disebut Israel sebagai "hasutan."

Kelompok itu mengatakan penggunaan sel isolasi terhadap tahanan perempuan meningkat sejak perang Gaza pada Oktober 2023. Sedikitnya enam perempuan disebut ditempatkan dalam isolasi, termasuk beberapa yang ditahan lebih dari dua pekan.

Selain itu, kondisi kepadatan di dalam sel juga disebut semakin parah akibat gelombang penangkapan yang terus berlangsung. Beberapa sel dilaporkan dihuni lebih dari 10 perempuan sehingga banyak tahanan terpaksa tidur di lantai.

"Kebijakan kelaparan telah menjadi salah satu bentuk kekerasan yang paling sering disebut dalam kesaksian tahanan, terutama selama hari-hari libur Israel," kata kelompok tersebut.

Organisasi itu menyebut seorang tahanan kehilangan sekitar 30 kilogram berat badan dalam beberapa bulan masa penahanan.

Dugaan Pelecehan

Kelompok tersebut juga mengatakan penggeledahan telanjang telah menjadi praktik rutin sejak 2023, terutama ketika tahanan dipindahkan ke Penjara Hasharon yang digunakan sebagai fasilitas penahanan sementara atau saat tiba di Penjara Damon.

Menurut pernyataan itu, para tahanan perempuan mengalami penggeledahan yang disebut "memalukan dan merendahkan."

Organisasi tersebut menyebut penggeledahan telanjang sebagai salah satu kebijakan paling menonjol dan luas digunakan serta termasuk bentuk kekerasan seksual yang memengaruhi tahanan laki-laki maupun perempuan.

Penolakan Perawatan Medis

Otoritas Israel juga dituduh menolak memberikan perawatan medis kepada tahanan, termasuk perempuan yang menderita penyakit kronis. Dua tahanan perempuan disebut mengidap kanker.

Sebagian besar tahanan perempuan Palestina ditahan atas dugaan "hasutan" atau berada dalam tahanan administratif tanpa dakwaan berdasarkan apa yang disebut Israel sebagai "berkas rahasia."

PPS kembali menyerukan pembebasan tahanan perempuan yang disebut ditahan "secara sewenang-wenang," terutama anak di bawah umur, tahanan sakit, dan perempuan hamil.

Kelompok itu juga menuntut diakhirinya "kejahatan dan pelanggaran terorganisasi" terhadap para tahanan yang disebut sebagai "salah satu aspek genosida yang terus berlangsung terhadap tahanan."

Pada April lalu, Kepala Komisi Urusan Tahanan PLO Raed Abu al-Humus mengatakan kepada Anadolu bahwa tahanan Palestina di penjara Israel menghadapi "genosida diam-diam," termasuk kelaparan, isolasi, penolakan perawatan medis, pemukulan, dan penghinaan.

Menurut kelompok hak asasi Palestina dan Israel, lebih dari 9.400 warga Palestina saat ini ditahan di penjara Israel dan menghadapi penyiksaan, kelaparan, serta pengabaian medis yang telah menyebabkan puluhan kematian.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)