Kerusuhan Penjara Picu Serangan Mematikan di Guatemala, Tujuh Polisi Tewas

Kondisi di salah satu penjara di Guatemala. (Anadolu Agency)

Kerusuhan Penjara Picu Serangan Mematikan di Guatemala, Tujuh Polisi Tewas

Muhammad Reyhansyah • 19 January 2026 11:13

Guatemala City: Kekerasan geng di Guatemala menewaskan tujuh polisi pada Minggu, 18 Januari 2026, menurut otoritas setempat. Serangan tersebut terjadi tak lama setelah aparat keamanan berhasil merebut kembali kendali atas salah satu dari tiga penjara keamanan maksimum di wilayah barat daya negara itu, yang sehari sebelumnya dikuasai para narapidana dalam kerusuhan terkoordinasi.

Serangan terhadap aparat kepolisian di dan sekitar ibu kota Guatemala City terjadi setelah ratusan polisi antihuru-hara menyerbu Penjara Renovación di Escuintla, sekitar 76 kilometer barat daya ibu kota, untuk membebaskan sembilan petugas penjaga yang disandera. Para pemimpin geng yang dipenjara diketahui kerap memerintahkan anggota mereka di luar penjara untuk melancarkan aksi balasan.

Dilansir dari ABC News, Senin, 19 Januari 2026, Presiden Guatemala Bernardo Arévalo menyatakan melalui platform X bahwa ia telah memerintahkan polisi dan tentara untuk turun ke jalan. Ia dijadwalkan menyampaikan pidato kepada publik pada Minggu malam melalui siaran televisi nasional.

Tembakan terdengar saat pasukan antihuru-hara memasuki fasilitas penjara yang menahan para pemimpin geng. Sekitar 15 menit kemudian, seorang jurnalis Associated Press menyaksikan para penjaga yang dibebaskan dikawal keluar dari penjara dalam kondisi selamat. Hingga saat itu, tidak ada laporan korban luka atau tewas di dalam fasilitas tersebut.

Masih pada Minggu yang sama, otoritas berhasil mengambil alih kendali atas penjara kedua yang terletak di bagian utara Guatemala City. Kepolisian Sipil Nasional menyebut enam penjaga berhasil dibebaskan dari lokasi tersebut.

Namun, satu penjara lainnya masih berada di bawah kendali narapidana. Hingga Minggu malam, belum jelas berapa banyak penjaga yang masih disandera di fasilitas tersebut.

Kerusuhan di tiga penjara itu pecah sehari sebelumnya dalam sebuah pemberontakan terkoordinasi. Para narapidana memprotes keputusan otoritas penjara yang mencabut sejumlah hak istimewa milik pemimpin geng yang ditahan. Dalam aksi tersebut, total 46 penjaga disandera di tiga penjara, menurut keterangan pihak berwenang.

Ketika aparat berupaya mengendalikan situasi di dalam penjara, serangan balasan terjadi di luar tembok fasilitas. Menteri Dalam Negeri Marco Antonio Villeda mengatakan geng bersenjata membunuh tujuh polisi nasional dalam serangkaian serangan di Guatemala City. Ia menambahkan, bentrokan tersebut melukai 10 polisi lainnya dan menewaskan satu anggota geng.

Villeda mengatakan sejauh ini aparat telah menangkap tujuh anggota geng, menyita dua senapan, serta mengamankan dua kendaraan. Ia memuji respons kepolisian sebagai “hasil dari sikap tidak bernegosiasi dengan penjahat.”

“Negara tidak akan berlutut di hadapan para kriminal ini,” ujar Villeda, seraya menggambarkan serangan terhadap polisi dan kerusuhan penjara sebagai reaksi atas pengetatan pemberantasan kejahatan terorganisasi oleh pemerintah.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Kementerian Pendidikan Guatemala mengumumkan penangguhan kegiatan belajar-mengajar di seluruh negeri pada Senin, 19, guna “memprioritaskan keselamatan” siswa dan tenaga pendidik.

Sementara itu, kepolisian memperkuat pengamanan di sejumlah penjara dan meningkatkan patroli gabungan bersama militer untuk menjaga stabilitas keamanan nasional.

Baca juga:  Ribuan Warga Guatemala Protes Pemotongan Anggaran Pendidikan dan Kesehatan

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)