Presiden Prabowo Subianto. Foto: Dok. BPMI Sekretariat Presiden.
Mensesneg Ungkap Alasan Prabowo Kumpulkan 1.200 Guru Besar di Istana
Fachri Audhia Hafiez • 15 January 2026 10:14
Jakarta: Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, membeberkan alasan Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan 1.200 guru besar, dekan, dan rektor di Istana Kepresidenan, Jakarta. Pertemuan ini disebut sebagai langkah strategis untuk menyelaraskan pandangan pemerintah dengan para pakar mengenai kondisi terkini negara.
"Ini bagian dari agenda Bapak Presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintah untuk berdiskusi, menyampaikan pandangan-pandangan Beliau, update-update terhadap kondisi negara kita maupun kondisi geopolitik, dan rencana-rencana besar yang harus kita kerjakan ke depan," kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 15 Januari 2026.
Prasetyo menekankan bahwa sektor pendidikan merupakan faktor kunci di samping target swasembada pangan dan energi. Menurutnya, sumber daya manusia (SDM) yang unggul adalah fondasi utama untuk mencapai kedaulatan bangsa. Oleh karena itu, Presiden ingin mendengar langsung masukan dari para akademisi, khususnya di bidang sosial dan humaniora.
"Kalau saudara-saudara perhatikan, ini bagian dari kemarin dalam satu minggu, betul-betul kita ingin menjadikan pendidikan, karena memang kita pahami pendidikan adalah salah satu pondasi, dan faktor kunci. Jadi, selain kita mengejar dan bekerja keras mencapai swasembada pangan, swasembada energi, maka salah satu pondasi utamanya adalah sumber daya manusia," ujar Prasetyo.
Salah satu fokus diskusi tertutup ini adalah mencari solusi atas krisis tenaga kesehatan di Tanah Air. Pemerintah mencatat Indonesia masih kekurangan lebih dari 100.000 dokter. Presiden berharap melalui dialog dengan para pemimpin perguruan tinggi, ditemukan formula tepat untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter tersebut.
.jpg)
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi. Foto: ANTARA/Genta Tenri Mawangi.
"Sebenarnya, diskusinya ini juga sudah dimulai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ya, misalnya, berkenaan dengan bagaimana kita mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter kita, yang berdasarkan data, kita masih kekurangan hampir di atas 100.000. Nah, ini kan kita harus cari cara bagaimana untuk bisa mempercepat," kata Prasetyo.
Selain itu, Prasetyo mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mengkaji skema untuk meringankan biaya pendidikan tinggi. Fokus utama adalah menghitung cara mengurangi beban operasional di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) agar kualitas pendidikan meningkat tanpa memberatkan finansial mahasiswa.
"Kita sedang menghitung dan berpikir bagaimana bisa mengurangi beban operasional di setiap perguruan tinggi negeri kita, karena kita menyadari bahwa sesungguhnya amanat konstitusi kita harus mencerdaskan kehidupan bangsa, dan salah satunya melalui pendidikan di tingkat universitas sehingga kalau memungkinkan kita sedang mencoba menghitung bagaimana universitas-universitas ini dapat maju dan berkualitas, dan tidak memberatkan dari sisi pembiayaan bagi masyarakat atau bagi mahasiswa," pungkas Prasetyo.