Ketegangan AS-Iran Mereda, Bitcoin Pulih hingga Tembus USD65.900

Ilustrasi bitcoin. Foto: Indodax Academy.

Ketegangan AS-Iran Mereda, Bitcoin Pulih hingga Tembus USD65.900

Husen Miftahudin • 15 June 2026 20:36

Jakarta: Sentimen pasar global mulai membaik setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali Selat Hormuz. Perkembangan tersebut mendorong investor kembali masuk ke aset berisiko tinggi, termasuk aset kripto. Kondisi itu tercermin dari penguatan harga bitcoin yang sempat menembus level USD65.900 pada Senin, 15 Juni 2026.

Berdasarkan data CoinMarketCap, bitcoin diperdagangkan di kisaran USD63.900 hingga USD65.900 atau naik sekitar dua persen dalam 24 jam terakhir. Posisi tersebut juga menempatkan bitcoin hampir delapan persen di atas level terendah pekan lalu yang sempat berada di bawah USD60.900.

Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian mengatakan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memberi ruang bagi investor untuk kembali meningkatkan eksposur terhadap aset dengan volatilitas tinggi.

"Pasar kripto saat ini merespons membaiknya sentimen global setelah ketidakpastian geopolitik mulai mereda. Ketika risiko global menurun, investor cenderung kembali meningkatkan eksposur terhadap aset dengan volatilitas tinggi, termasuk bitcoin dan aset kripto lainnya. Hal tersebut yang saat ini turut mendorong pemulihan harga di pasar," ujar Aloysia dikutip dari keterangan tertulis, Senin, 15 Juni 2026.

Menurut dia, kondisi geopolitik global menjadi salah satu faktor yang cukup berpengaruh terhadap arah pergerakan aset digital dalam jangka pendek.
 

Baca juga: Ini Dia 5 Aset Kripto Terbesar di Dunia
 

Altcoin ikut menguat


Tidak hanya bitcoin, mayoritas aset kripto utama juga mencatat penguatan. Ethereum naik sekitar 5,1 persen ke level USD1.758, Solana menguat 6,6 persen menjadi USD72,6, sementara XRP bertambah 7,1 persen ke posisi USD1,2.

Di antara aset kripto berkapitalisasi besar, Hyperliquid mencatat salah satu kenaikan tertinggi setelah melonjak 11,6 persen ke level USD67,8.

Penguatan pasar kripto terjadi seiring membaiknya sentimen risiko global. Setelah kesepakatan AS-Iran diumumkan, harga minyak mentah Brent terkoreksi lebih dari empat persen ke kisaran USD83 per barel.

Koreksi itu terjadi seiring menurunnya premi risiko geopolitik yang sebelumnya membebani prospek ekonomi global. Pada saat yang sama, pasar saham Asia menguat, kontrak berjangka indeks saham AS bergerak positif, dan tekanan terhadap dolar AS mulai mereda.


(Ilustrasi. Foto: dok KBI)
 

Investor mesti tetap waspada


Meski sentimen pasar membaik, Aloysia mengingatkan keberlanjutan tren positif masih bergantung pada sejumlah faktor lain.

"Meredanya ketegangan geopolitik tentu menjadi perkembangan positif bagi pasar. Namun, investor masih perlu mencermati berbagai faktor lain, termasuk arus dana institusional melalui ETF Bitcoin spot, perkembangan regulasi, kebijakan moneter global, minat investor, serta kondisi likuiditas global," papar Aloysia menjelaskan.

Salah satu indikator yang menjadi perhatian pasar adalah arus dana pada ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat. Dalam sepekan terakhir, instrumen tersebut mencatat outflow sebesar USD1,72 miliar, yang menunjukkan sebagian investor institusional masih bersikap hati-hati terhadap aset berisiko tinggi.

Sebagai bursa kripto yang teregulasi di Indonesia, Indodax mengingatkan masyarakat untuk menerapkan prinsip investasi yang bijak, melakukan riset mandiri (Do Your Own Research/DYOR), serta memanfaatkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) untuk mengelola risiko di tengah volatilitas pasar.

(Husen Miftahudin)