Harga Minyak Turun, Brent Jatuh ke USD86 per Barel

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Turun, Brent Jatuh ke USD86 per Barel

Eko Nordiansyah • 26 August 2026 08:05

Houston: Harga minyak dunia kembali turun pada awal perdagangan Rabu, 26 Agustus 2026, melanjutkan pelemahan pada sesi sebelumnya. Penurunan dipengaruhi meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan setelah Iran melanjutkan pembicaraan dengan Oman terkait lalu lintas komersial di Selat Hormuz.

Dilansir dari Investing, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 1,7 persen menjadi USD81,01 per barel setelah anjlok lebih dari tiga persen pada sesi sebelumnya.

Sementara itu, kontrak berjangka minyak Brent turun 5,6 persen dan ditutup pada USD86,06 per barel.

Pergerakan harga tersebut menunjukkan pasar mulai memperhitungkan kemungkinan berkurangnya risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Selat Hormuz jadi perhatian pasar

Tekanan terhadap harga minyak meningkat setelah Iran menyatakan kembali melakukan pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan lalu lintas komersial melalui Selat Hormuz.

Kedua negara membahas kemungkinan penerapan "koridor navigasi sementara bersama" untuk menjaga aktivitas pelayaran melalui jalur strategis tersebut.

Prospek normalisasi lalu lintas di Selat Hormuz menjadi perhatian pelaku pasar karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan energi global.

Sebelum konflik berlangsung, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia biasanya melewati Selat Hormuz. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi meningkatkan biaya transportasi sekaligus memperketat pasokan minyak global.

Iran sebelumnya juga telah mengizinkan sejumlah kapal tanker minyak Irak melintasi Selat Hormuz. Namun, aktivitas pelayaran masih berada di bawah tingkat sebelum konflik sehingga risiko terhadap pasokan belum sepenuhnya hilang.

Dengan perkembangan terbaru tersebut, pasar mulai menyesuaikan kembali perkiraan terhadap ketersediaan minyak mentah global. Ekspektasi terhadap membaiknya arus perdagangan melalui Hormuz turut mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak.
(Ilustrasi. Foto: Unplash)

Sanksi AS masih jadi risiko

Penurunan harga minyak terjadi di tengah penerapan sanksi ekonomi yang lebih ketat oleh Amerika Serikat terhadap Iran pada awal pekan.

Washington sebelumnya mengisyaratkan preferensi terhadap tekanan ekonomi dibandingkan penggunaan kekuatan militer terhadap Teheran.

Kebijakan tersebut tetap menjadi faktor yang diperhatikan pasar karena sanksi terhadap Iran berpotensi memengaruhi produksi dan distribusi minyak dari salah satu negara produsen utama dunia.

Namun, sentimen tersebut untuk sementara tertutupi oleh perkembangan terkait Selat Hormuz dan peluang berlanjutnya aktivitas pelayaran komersial.

Pasar menunggu kepastian konflik

Harga minyak juga mendapat tekanan setelah kantor berita Rusia RIA Novosti melaporkan AS dan Iran telah mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan mengutip sumber dari Pakistan dan Iran.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi menyampaikan Islamabad dan Teheran membahas kemungkinan pemulihan kesepakatan gencatan senjata sementara dengan AS.

Perkembangan tersebut menambah ekspektasi ketegangan geopolitik di kawasan dapat mereda. Bagi pasar energi, berkurangnya eskalasi konflik berpotensi menurunkan risiko gangguan produksi dan distribusi minyak.

AS dan Iran sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman pada Juni yang bertujuan memberikan jeda permusuhan dan membuka ruang bagi negosiasi kesepakatan yang lebih permanen. Namun, kerangka tersebut kemudian gagal setelah terjadi serangan terhadap sejumlah kapal tanker di Selat Hormuz.

Untuk sementara, arah harga minyak masih akan sangat bergantung pada perkembangan konflik, kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz, serta dampaknya terhadap pasokan energi global.

(Eko Nordiansyah)