ISPA Dominasi Penyakit di Wilayah Terdampak Gempa Manggarai Barat

Situasi pasien di RSUD Komodo, Labuan Bajo. (MI/Marianus)

ISPA Dominasi Penyakit di Wilayah Terdampak Gempa Manggarai Barat

Media Indonesia • 26 August 2026 10:36

Manggarai Barat: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), mencatat 3.151 kasus penyakit di wilayah terdampak gempa sepanjang 15–25 Agustus 2026. Data Posko Kesehatan setempat mencatat 15 jenis penyakit yang paling banyak ditangani pasca-bencana.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, Theresia Asmon, mengatakan pemantauan kesehatan masyarakat terus dilakukan melalui posko-posko kesehatan yang tersebar di wilayah terdampak bencana.

“ISPA menjadi penyakit yang paling banyak ditemukan dalam pelayanan kesehatan pasca-gempa. Karena itu, kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat di lokasi pengungsian terus menjadi perhatian,” kata Theresia di Manggarai Barat, Rabu, 26 Agustus 2026.


Berdasarkan data Posko Kesehatan, ISPA tercatat sebanyak 727 kasus atau 23,1 persen dari keseluruhan kasus. Sementara itu, hipertensi menempati urutan kedua dengan 601 kasus atau 19,1 persen.

Selanjutnya, myalgia atau nyeri otot tercatat sebanyak 275 kasus, low back pain atau nyeri punggung bawah 271 kasus, serta gangguan obstetri dan ginekologi sebanyak 189 kasus.

Penyakit lainnya meliputi common cold 187 kasus, gangguan neurologi dan psikiatri 167 kasus, luka atau cedera 153 kasus, dispepsia 140 kasus, serta penyakit kulit dan jaringan lunak 106 kasus.


Ilustrasi bangunan rusak akibat gempa. Foto- MI


Selain itu, tercatat 96 kasus muskuloskeletal dan trauma, 76 kasus diare, 55 kasus diabetes melitus, 51 kasus gastritis, serta 37 kasus penyakit gigi dan mulut.

Dinkes Manggarai Barat mengingatkan masyarakat terdampak gempa, khususnya mereka yang masih berada di lokasi pengungsian, untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengonsumsi makanan dan air yang aman, serta segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan kesehatan.

Pemantauan terhadap pola penyakit juga diperlukan untuk mengantisipasi munculnya masalah kesehatan lain selama masa tanggap darurat.

Data 3.151 kasus tersebut menjadi salah satu dasar bagi pemerintah daerah dalam menentukan kebutuhan pelayanan dan penanganan kesehatan masyarakat pasca-gempa di Kabupaten Manggarai Barat. (Marianus Marselus)

(Silvana Febiari)