VinFast Perkuat Ekosistem EV, Jawab Kekhawatiran Konsumen soal Biaya Kepemilikan

Diskusi VIN TALKS bertajuk 'The New Economics of Mobility: Why Ownership Value Matters' pada ajang GIIAS 2026 di ICE BSD, Tangerang, Senin, 3 Agustus 2026. (Dok. Metrotvnews.com/Duta Erlangga)

VinFast Perkuat Ekosistem EV, Jawab Kekhawatiran Konsumen soal Biaya Kepemilikan

Duta Erlangga • 20 August 2026 16:52

Jakarta: Konsumen di Indonesia dalam memilih kendaraan dinilai semakin rasional, termasuk saat memilih membeli kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Selain harga pembelian, masyarakat kini mulai mempertimbangkan biaya kepemilikan jangka panjang atau Total Cost of Ownership (TCO) sebelum memutuskan membeli mobil.
 
Hal tersebut menjadi topik pembahasan dalam diskusi VIN TALKS bertajuk 'The New Economics of Mobility: Why Ownership Value Matters' pada ajang GIIAS 2026 di ICE BSD CITY, Tangerang, Senin, 3 Agustus 2026.
 

Konsumen kini lebih kritis

Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu mengatakan perubahan perilaku konsumen dipengaruhi oleh semakin mudahnya akses informasi melalui media digital. Jika sebelumnya pembelian kendaraan lebih didorong faktor emosional, kini konsumen cenderung melakukan riset sebelum mengambil keputusan.
 
"Kalau dulu orang membeli kendaraan karena secara emosional suka dan keuangannya siap membayar dalam jangka pendek. Sekarang tingkat pemahaman masyarakat jauh lebih tinggi, terutama kelompok middle class yang berpikir jauh lebih panjang sebelum membeli kendaraan," ujar Yannes.


Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu. (Dok. Metrotvnews.com/Duta Erlangga)

Menurutnya, kelompok masyarakat kelas menengah menjadi segmen yang paling berhati-hati dalam mengambil keputusan karena kondisi ekonomi membuat mereka semakin memperhitungkan setiap pengeluaran.
 
"Middle class sekarang awareness-nya makin tinggi. Mereka semakin detail sebelum mengambil keputusan membeli kendaraan baru," katanya.
 

TCO jadi pertimbangan utama

Yannes menjelaskan konsumen kini tidak hanya melihat harga kendaraan, tetapi mulai menghitung keseluruhan biaya kepemilikan atau Total Cost of Ownership (TCO).
 
"Pertimbangannya sekarang bukan hanya biaya awal atau capital expenditure (CAPEX), tetapi juga operational expenditure (OPEX). Ketika dua hal itu digabungkan, muncullah konsep Total Cost of Ownership," jelasnya.
 
Menurut dia, masyarakat mulai memperhitungkan besarnya cicilan, biaya operasional, penghematan energi ketika menggunakan kendaraan listrik, kemudahan pengisian daya, hingga nilai jual kembali kendaraan.
 
"Begitu membeli kendaraan listrik, orang sekarang mulai bertanya, biaya operasionalnya bagaimana, charging di mana, dan nanti kalau dijual turunnya berapa persen dan gampang enggak ngejualnya," ujarnya.
 

Media sosial ubah cara konsumen membeli mobil

Commercial and Marketing Leader Sukimin Thio mengatakan perkembangan media sosial membuat konsumen memiliki akses informasi yang jauh lebih luas dibandingkan beberapa tahun lalu.


Commercial and Marketing Leader Sukimin Thio. (Dok. Metrotvnews.com/Duta Erlangga)

Ia mengaku ketika membeli mobil pertamanya pada 2008, informasi mengenai kendaraan masih sangat terbatas.
 
"Waktu itu belum ada media sosial seperti sekarang. Saya bahkan tidak sempat test drive, lihat mobilnya, suka, lalu beli," katanya.
 
Menurut Sukimin, kondisi tersebut berbeda dengan saat ini karena calon pembeli dapat mempelajari kendaraan melalui berbagai sumber.
 
"Sekarang kita bisa melihat review, mendengar pengalaman pengguna lain, atau mencari informasi dari komunitas otomotif. Jadi konsumen tidak lagi asal memilih kendaraan," ujarnya.
 

Persepsi terhadap EV mulai bergeser

Founder sekaligus Host LugNutz Auto Rockford Pojono mengatakan persepsi masyarakat terhadap kendaraan listrik juga mengalami perubahan.


Founder sekaligus Host LugNutz Auto Rockford Pojono. (Dok. Metrotvnews.com/Duta Erlangga)

Menurutnya, pada tahap awal banyak konsumen membeli mobil listrik karena tertarik pada teknologi dan performanya. Namun kini fokus masyarakat mulai bergeser.
 
"Sekarang orang membeli mobil listrik bukan lagi hanya soal performa atau fitur, tetapi lebih melihat bagaimana kendaraan itu memudahkan kehidupan sehari-hari," kata Rockford.
 
Ia menilai biaya operasional, kemudahan pengisian daya, hingga biaya perawatan kini menjadi perhatian utama calon konsumen.
 
"Konsumen sekarang mulai melihat running cost, charging mudah atau tidak, maintenance bagaimana. Mereka sudah melewati honeymoon phase kendaraan listrik," ujarnya.
 

VinFast hadirkan Drive Worry Free

Menanggapi perubahan perilaku tersebut, Head of Training Department VinFast Indonesia Rinaldi Ramdani mengatakan VinFast menghadirkan konsep Drive Worry Free untuk memberikan pengalaman kepemilikan kendaraan listrik yang lebih nyaman.


Head of Training Department VinFast Indonesia Rinaldi Ramdani. (Dok. Metrotvnews.com/Duta Erlangga)

Menurutnya, konsep tersebut dibangun agar konsumen tidak hanya membeli kendaraan listrik, tetapi juga memperoleh ekosistem yang mendukung selama masa kepemilikan.
 
"Drive Worry Free menjadi hal yang penting dalam perjalanan pelanggan ketika memilih kendaraan listrik," kata Rinaldi.
 
Ia menjelaskan salah satu program utama yang ditawarkan adalah zero operating cost melalui jaringan V-GREEN Charging Station.
 
"Dengan jaringan V-GREEN di lebih dari 3.200 titik yang tersebar di Indonesia dan masih akan terus bertambah, biaya pengisian daya bahkan bisa mendekati nol rupiah karena kami memberikan gratis charging sampai Maret 2029," ujarnya.
 
Selain itu, VinFast menghadirkan program battery subscription untuk mengurangi kekhawatiran masyarakat terhadap biaya baterai kendaraan listrik.
 
"Kami memiliki konsep battery peace of mind. Customer tidak perlu pusing memikirkan perawatan baterai karena kami juga memberikan gratis battery subscription selama dua tahun," katanya.
 

Perluas ekosistem dan layanan purnajual

Rinaldi mengatakan VinFast juga terus memperkuat infrastruktur pendukung melalui ribuan titik pengisian daya serta jaringan layanan purnajual di berbagai daerah.
 
"Saat ini kami memiliki lebih dari 3.200 charging station di Indonesia sehingga kekhawatiran mengenai tempat pengisian daya tidak lagi menjadi masalah," ujarnya.


Diskusi VIN TALKS bertajuk “The New Economics of Mobility: Why Ownership Value Matters” pada ajang GIIAS 2026 di ICE BSD, Tangerang, Minggu, 2 Agustus 2026. (Dok. Metrotvnews.com/Duta Erlangga)

VinFast telah memiliki lebih dari 40 showroom dealer yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan akan terus memperluas jaringannya dalam beberapa tahun ke depan. 
 
Tak hanya itu, VinFast juga menghadirkan program Sewa Jadi Cuan yang terintegrasi dengan platform Green SM sehingga kendaraan listrik dapat dimanfaatkan sebagai aset produktif.
 
"Kami ingin mempermudah pelanggan. Jadi bukan hanya memiliki kendaraan listrik, tetapi juga memberikan peluang agar kendaraan tersebut dapat menghasilkan pendapatan," ujar Rinaldi.
 

Kepemilikan kendaraan jadi fokus persaingan

Diskusi tersebut menunjukkan bahwa persaingan kendaraan listrik ke depan tidak lagi hanya bertumpu pada spesifikasi maupun harga kendaraan.
 
Konsumen kini semakin mempertimbangkan nilai kepemilikan jangka panjang melalui biaya operasional, layanan purnajual, infrastruktur pengisian daya, hingga nilai jual kembali kendaraan sebagai dasar dalam menentukan pilihan.

(Patrick Pinaria)