Pengamat: Israel Mengintervensi Sistem Politik Amerika Serikat

Direktur Riset Ankara Institute, Taha Ozan dalam Middle Powers Conference-Alignments and Realignments in the Next New World Order, yang diadakan FPCI. Foto: Metrotvnews.com

Pengamat: Israel Mengintervensi Sistem Politik Amerika Serikat

Fajar Nugraha • 14 April 2026 17:32

Jakarta: Direktur Riset Ankara Institute, Taha Ozan mengatakan bahwa kegagalan diplomasi internasional dalam meredam konflik di Timur Tengah dinilai bukan hanya akibat ketidakmampuan Amerika Serikat (AS) sebagai mediator.

Menurut Ozan ini disebabkan adanya intervensi mendalam dari kepentingan Israel di dalam struktur politik Washington. Ozan menyebut fenomena ini telah menghancurkan peluang bagi perdamaian yang dapat diprediksi.

Taha Ozan memberikan kritik tajam terhadap aliansi AS-Israel yang dianggapnya telah melampaui batas diplomasi normal. Ia menilai bahwa kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah saat ini tidak lagi didorong oleh kepentingan nasional Amerika yang murni, melainkan oleh agenda luar yang telah menyusup ke sistem mereka.

"Masalah Amerika kami datang dengan label harga yang berbeda, yang disebut sebagai masalah Israel. Israel secara harfiah telah meretas (hacked) sistem politik AS. Kecuali peretasan ini diperbaiki, tidak ada peluang bagi perdamaian yang konsisten dan dapat diprediksi di Timur Tengah," tegas Ozan dalam diskusi Middle Powers Conference-Alignments and Realignments in the Next New World Order, yang diadakan FPCI di St. Regis Jakarta, Jakarta Selatan, Selasa, 14 April 2026.

Ozan, yang pernah menjabat sebagai Penasihat Utama Perdana Menteri Turki, memperingatkan risiko besar dari upaya AS yang mencoba mengubah rezim di Iran.

Ia menyamakan situasi saat ini dengan invasi Irak tahun 2003, di mana penghancuran sebuah negara tanpa rencana pasca-konflik yang matang hanya akan menciptakan kekosongan kekuasaan yang berbahaya bagi stabilitas regional.

Ozan juga menyoroti bahwa di bawah pemerintahan Trump saat ini, dunia seolah dipaksa mengikuti ritme politik yang merusak tatanan internasional. Ozan meragukan apakah diplomasi kekuatan menengah sanggup menahan laju destruktif tersebut jika sistem utama di Washington tetap tidak berubah.

"Konfrontasi dengan Iran ini bukan hanya soal nuklir, tapi soal bagaimana AS membiarkan diri mereka diseret ke dalam perang yang merugikan dunia. Kita sedang menghadapi 'masalah Amerika' yang dalam banyak hal terasa mustahil untuk dikelola tanpa perubahan mendasar di pusat kekuasaan itu sendiri," tutup Taha Ozan.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)