Gunung Kerinci Masih Waspada, Asap Putih dari Kawah Bukan Erupsi

Gunung Kerinci terlihat dari Desa Kersik Tuo Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci. ANTARA/Agus Suprayitno.

Gunung Kerinci Masih Waspada, Asap Putih dari Kawah Bukan Erupsi

Silvana Febiari • 8 September 2026 15:33

Kota Jambi: Status Gunung Kerinci masih berada pada Level II (Waspada). Berdasarkan evaluasi rutin dua mingguan, tidak tercatat peningkatan aktivitas gempa yang signifikan.

"Aktivitas masih didominasi gempa gempa permukaan seperti gempa hembusan low frekuensi, sekali-kali ada gempa tektonik yang terekam, kalau dilihat (hasil) evaluasi ya masih aman untuk saat ini," kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Kerinci Irwan Safwan, dilansir dari Antara, Selasa, 8 September 2026.

Menanggapi hembusan asap putih dari kawah, Irwan mengatakan fenomena tersebut wajar dan bukan tanda erupsi. Asap putih itu muncul akibat pengaruh air tanah di sekitar kawah.


Selain itu, ia memastikan aktivitas Gunung Kerinci tidak berkaitan langsung dengan gunung api aktif lainnya. Setiap gunung memiliki sistem dapur magma yang terpisah.

"Kalau untuk asap itu ada saja, warnanya putih, itu tidak pengaruh, karena itu dipengaruhi air tanah, tidak erupsi, bukan. Secara umum gunung punya dapur sendiri, aktifnya tergantung dapur magma," ungkapnya.  

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dari Pos Pengamatan Gunung Kerinci pada periode Senin, 7 September 2026 pukul 00:00 hingga 24:00 WIB, kondisi cuaca di sekitar gunung bersejarah di perbatasan Jambi dan Sumatra Barat ini terpantau cerah.   

Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat laut. Suhu udara berkisar antara 15–25 °C dan kelembaban 52–79 persen.


Gunung Kerinci. ANTARA/HO-Wahdi Septiawan.


Secara visual, tubuh gunung terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III, serta tidak teramati adanya asap yang keluar dari kawah utama. Meski demikian, hasil pemantauan seismik merekam aktivitas kegempaan yang cukup dinamis di dalam perut bumi. 

Berdasarkan catatan, selama 24 jam terakhir terjadi 126 kali gempa hybrid/fase banyak amplitudo 0,3–5,9 mm, durasi 17,79–65,2 detik, 28 kali gempa low frequency amplitudo 0,3–0,8 mm, durasi 12,9–29,9 detik. Di tambah19 kali gempa hembusan amplitudo 0,2–3,3 mm, durasi 30,52–52,2 detik, serta satu kali gempa tektonik jauh amplitudo 3,2 mm, durasi 69,1 detik.

(Silvana Febiari)