Pembangunan infrastruktur mitigasi konflik manusia dan gajah di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur. Dokumentasi/ istimewa.
Pembangunan Tanggul Way Kambas Dibarengi Upaya Menjaga Akses Petani
Deny Irwanto • 13 September 2026 20:36
Lampung: Pembangunan infrastruktur mitigasi konflik manusia dan gajah di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, terus berjalan. Hingga kini, progres pembangunan yang ditujukan untuk mendukung upaya mitigasi tersebut telah mencapai 82 persen.
Seiring pembangunan berlangsung, akses masyarakat menuju lahan pertanian menjadi salah satu hal yang turut diperhatikan. Warga Desa Sukorahayu berharap aktivitas pertanian tetap dapat berjalan, terutama bagi petani yang menggunakan alat dan mesin pertanian untuk menuju lahan mereka.
Kepala Desa Sukorahayu, Apria Sahdi, mengatakan pemerintah desa berupaya menjembatani kebutuhan warga dengan pihak pelaksana pembangunan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah tersedianya akses yang dapat digunakan petani di sekitar tanggul.
"Kami berharap adanya keluhan, adanya aspirasi beberapa warga kami ini dari pihak komite bisa mengakomodir itu," kata Apria di Lampung, Minggu, 13 September 2026.
"Win-win solution-nya sudah disampaikan, artinya dari pihak komite mungkin akan membuatkan pintu untuk akses alat-alat seperti handtraktor dan lain sebagainya untuk petani," jelasnya.
.jpeg)
Pembangunan infrastruktur mitigasi konflik manusia dan gajah di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur. Dokumentasi/ istimewa.
Akses tersebut menjadi penting karena sebagian lahan pertanian warga berada di sekitar bantaran sungai. Sebelumnya, warga juga mengusulkan agar posisi tanggul tidak mengganggu area sawah yang selama ini digunakan untuk aktivitas pertanian.
Apria menjelaskan tanggul yang berada di lokasi tersebut bukan merupakan bangunan baru. Infrastruktur penahan banjir itu telah ada sebelumnya dan kini ditinggikan melalui pembangunan mitigasi.
"Kalau bicara tanggul dipindahkan, sebelum mereka beli tanah tersebut sudah ada tanggul penahan banjir, dan komite ini hanya meninggikan badan eksisting tanggul yang sudah ada," katanya.
Menurut Apria, normalisasi sungai juga dapat menjadi bagian dari penataan kawasan. Material lumpur dari proses normalisasi, kata dia, dapat ditempatkan di bantaran sungai dan secara alami membentuk tanggul.
"Normalisasi sungai itu kan akan mengangkat lumpur ke bantaran pinggiran sungai, dan itu akan membentuk dengan sendirinya tanggul," ujar Apria.
Pembangunan Berjalan Bertahap
Ketua Komisi Gabungan dan Mitigasi Interaksi Negatif Gajah Way Kambas, Brigjen Sriyanto, mengatakan masih terdapat sejumlah bagian pekerjaan yang membutuhkan tahapan lanjutan. Salah satunya berada di lokasi dengan kondisi tanah yang labil.
"Memang tanggul ini ada beberapa wilayah yang memang tanahnya labil, jadi belum selesai memang. Tapi mereka tahunya selesai. Memang belum, ada tahapan lanjutan," kata Sriyanto.
Terkait akses pertanian, Sriyanto mengatakan kebutuhan tersebut telah difasilitasi dengan tetap memperhatikan aturan dan kondisi kawasan. "Kita berpegang kepada hukum. Mereka menginginkan akses pertanian, sudah kita fasilitasi," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga fungsi lingkungan dalam pelaksanaan pembangunan, termasuk kawasan aliran sungai. "Kalau merusak, itu pelanggaran kita. Enggak boleh seperti itu. Yang penting kita semua untuk warga itu bermanfaat," katanya.
Selain akses pertanian, terdapat sejumlah jalan yang mengalami kerusakan akibat aktivitas kendaraan proyek. Sriyanto memastikan perbaikan akan menjadi tanggung jawab pihak yang menyebabkan kerusakan tersebut.
"Dari awal kita sudah sepakat, mereka yang merusak itu tanggung jawab untuk memperbaiki," ujarnya.
Aktivitas Ekonomi Mulai Tumbuh
Dari sisi pembangunan, progres keseluruhan proyek saat ini mencapai 82 persen. Pengerjaan sempat menghadapi kendala pasokan sejumlah material, termasuk besi dan semen.
"Memang kita kemarin ada beberapa kendala terkait masalah besi yang agak sulit kita cari di pasar. Semen juga hampir dua minggu kemarin volume yang kita butuhkan berkurang," kata dia.
Kendala tersebut kemudian dicarikan solusi agar pengerjaan dapat kembali berjalan sesuai target.
Selain pembangunan fisik, aktivitas program juga mulai memberikan dampak terhadap kegiatan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan. Sriyanto memperkirakan sekitar 1.091 orang telah terlibat atau terdampak langsung dari aktivitas program tersebut.
Perkembangan kegiatan di sekitar lokasi turut mendorong munculnya sejumlah aktivitas ekonomi, seperti warung, tempat penginapan, dan rumah yang disewakan.
"Walaupun tidak bersamaan, ada satu orang mungkin kerja lagi empat orang, tapi kita hitung memang. Banyak warung-warung baru, tempat penginapan baru, rumah yang disewakan," ujarnya.