Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani (kanan). ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan
El Nino Diprediksi Bertahan hingga 2027, BMKG: Kemarau Lebih Kering
Lukman Diah Sari • 31 July 2026 06:59
Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino akan bertahan hingga awal kuartal pertama 2027, dengan peluang puncak intensitas mencapai kategori kuat. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan fenomena tersebut berpotensi dibarengi dengan munculnya kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada September hingga Desember 2026.
"Informasi iklim ini sejalan dengan prediksi BMKG, di mana fenomena El Nino diproyeksikan bertahan hingga awal 2027 dan memicu kondisi kemarau yang lebih kering dari normal," kata dia, melansir Antara, Jumat, 31 Juli 2026.
Faisal menjelaskan, hingga pertengahan Juli 2026 sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau, termasuk sebagian besar Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Papua.
"Ancaman kekeringan ekstrem ini berimplikasi langsung pada tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), di mana BMKG mencatat telah muncul 4.900 titik panas hingga akhir Juli 2026," kata Faisal.
.jpg)
Petani melihat tanaman padi di area sawah tadah hujan yang mengering di Desa Suak Raya, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Sebagai langkah mitigasi proaktif, lanjutnya, selain memberikan analisis faktual, BMKG juga memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di berbagai wilayah rawan bencana karhutla dan kekeringan, seperti Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, hingga posko pendukung yang dipusatkan di Jawa Barat.
BMKG, menurut dia, menaruh harapan besar terhadap sinergi lintas instansi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI-Polri, Kementerian Kehutanan (Kemenhut), dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) agar dapat mengoptimalkan modifikasi cuaca serta pemadaman darat sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto.