Musim Kemarau Dominasi Indonesia, 509 ZOM Masuk Musim Kering

Ilustrasi. Medcom.id

Musim Kemarau Dominasi Indonesia, 509 ZOM Masuk Musim Kering

Whisnu Mardiansyah • 30 July 2026 13:46

Jakarta: Musim kemarau terus meluas di Indonesia. Data BMKG Dasarian II Juli 2026 menunjukkan 92,93 persen wilayah mengalami curah hujan rendah. Hujan kategori menengah hanya 6,63 persen, dan kategori tinggi 0,45 persen.

Sebanyak 89,97 persen wilayah memiliki curah hujan di bawah normal. Hingga periode ini, 509 Zona Musim (ZOM) atau 72,8 persen wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau.

Dampak kekeringan mulai terlihat. Pada 24–27 Juli 2026, terjadi kekeringan di Jawa Tengah. Kebakaran hutan dan lahan juga muncul di Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Masyarakat perlu waspada terhadap berkurangnya air, titik panas, dan potensi kebakaran.

Meski musim kemarau dominan, hujan lebat masih terjadi di beberapa wilayah. Pada periode yang sama, hujan lebat hingga sangat lebat tercatat di Sumatera Utara (128 mm/hari), Sumatera Barat (116 mm/hari), Kalimantan Utara (88 mm/hari), Papua (87 mm/hari), dan Aceh (65 mm/hari).

Hujan ini dipicu oleh Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial di Sumatra utara dan Sulawesi Tengah. Aktivitas MJO juga aktif di Sumatra tengah hingga selatan. Siklon Tropis Noul di utara Maluku Utara turut meningkatkan uap air dan pertumbuhan awan hujan di Kalimantan Utara.
 


Akibatnya, kecepatan angin permukaan meningkat hingga lebih dari 20 knot di sejumlah wilayah. Masyarakat perlu waspada terhadap angin kencang, pohon tumbang, kerusakan bangunan, dan gangguan aktivitas.

BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk menghemat air. Jangan membakar lahan atau sampah sembarangan. Segera laporkan titik api, terutama di daerah rawan kekeringan dan karhutla.

Bagi wilayah yang masih berpotensi hujan, tetap waspada dan lakukan mitigasi. Hindari pohon, baliho, dan bangunan rapuh saat angin kencang. Pantau terus informasi cuaca dari BMKG.


Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan

Kondisi kering saat ini selaras dengan dinamika iklim global. Indeks Niño 3.4 tercatat +2,26 dan SOI -28,2. Ini menandakan El Niño kuat dan berpotensi menguat. Kondisi ini menghambat pembentukan awan hujan dan menekan curah hujan di berbagai wilayah.

Meski begitu, hujan masih berpotensi di beberapa daerah. MJO mulai masuk ke Indonesia. Gelombang Rossby Ekuatorial dan Kelvin juga melintasi Sumatra. Keduanya mendukung pembentukan awan hujan.

Sirkulasi siklonik diprediksi terbentuk di timur Filipina dan utara Papua Nugini. Sistem ini memicu konvergensi dan konfluensi udara. Akibatnya, hujan ringan hingga lebat masih mungkin terjadi di wilayah terdampak.

Kecepatan angin juga meningkat di sejumlah perairan. Wilayah yang terdampak meliputi Laut Andaman, Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Samudra Hindia selatan Jawa hingga NTT, Laut Flores, Laut Jawa timur, Laut Banda, Laut Seram, Laut Maluku, dan Laut Halmahera. Gelombang laut berpotensi tinggi di perairan tersebut.

Potensi Hujan Sepekan ke Depan

Periode 28–30 Juli 2026, cuaca umumnya cerah berawan hingga hujan ringan. Waspadai hujan sedang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan Barat, Maluku, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.

Siaga hujan lebat–sangat lebat: Sulawesi Selatan.
Angin kencang: Bali, NTB, NTT, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, dan Papua Selatan.

Periode 31 Juli – 4 Agustus 2026, cuaca umumnya cerah berawan hingga hujan ringan. Waspadai hujan sedang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

Angin kencang: Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, NTT, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, dan Papua Selatan.

(Whisnu M)