CDC AS Dukung Penilaian Kebutuhan Medis di NTT Pascabencana Gempa Bumi

Tujuh tim FETP dikerahkan ke tujuh wilayah terdampak gempa NTT. (Kedutaan dan Konsulat AS di Indonesia)

CDC AS Dukung Penilaian Kebutuhan Medis di NTT Pascabencana Gempa Bumi

Willy Haryono • 22 September 2026 08:51

Jakarta: Setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus, tantangan di wilayah terdampak tidak berhenti ketika guncangan mereda.

Di lokasi pengungsian dan wilayah sekitarnya, kebutuhan kesehatan masyarakat serta potensi munculnya penyakit menjadi bagian dari persoalan yang harus segera diantisipasi.

Untuk mendukung respons tersebut, Amerika Serikat melalui Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) bersama Kementerian Kesehatan Indonesia menerjunkan tujuh tim Program Pelatihan Epidemiologi Lapangan (FETP) ke sejumlah wilayah terdampak pada 23 Agustus.

Berdasarkan keterangan di laman Kedutaan Besar dan Konsulat AS di Indonesia, Senin, 21 September 2026, tim tersebut ditugaskan ke Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Manggarai Barat, dan Ngada.

Penugasan itu merupakan kelanjutan dari kerja sama antara CDC dan Kementerian Kesehatan Indonesia yang telah berlangsung selama lebih dari empat dekade.

Di lapangan, petugas FETP bersama pengajar lapangan dari tenaga kesehatan daerah melakukan penilaian terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat yang mengungsi dan terdampak bencana.

Mereka juga memperkuat sistem pengawasan penyakit di lokasi pengungsian dan wilayah sekitarnya, sekaligus mencari tanda-tanda peringatan dini yang dapat mengindikasikan potensi wabah penyakit.

Hasil pemantauan tersebut kemudian menjadi dasar rekomendasi berbasis bukti untuk membantu menentukan prioritas dalam upaya tanggap darurat.

Data untuk Menentukan Prioritas

Dalam situasi pascabencana, informasi mengenai kondisi kesehatan masyarakat menjadi bagian penting dari respons di lapangan.

Melalui FETP, tim epidemiologi mengumpulkan data kesehatan masyarakat dan mengolahnya menjadi informasi yang dapat digunakan untuk menentukan langkah respons.

Direktur CDC untuk Indonesia Dr. Rebecca Merril mengatakan pengerahan tim tersebut menunjukkan bagaimana kerja sama yang telah berlangsung lama dapat mendukung respons kesehatan secara cepat.

“Respons cepat tanggap ini menunjukkan bagaimana kemitraan yang telah terjalin lama antara CDC dengan Indonesia membantu program FETP yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan bergerak cepat dan efektif,” kata Merril.

Menurut dia, data real-time yang dikumpulkan tim dapat membantu mengarahkan respons sekaligus mencegah potensi penyebaran penyakit setelah bencana.

“Dengan menyediakan data real-time, tim ini membantu mengarahkan respons dan mencegah potensi penyebaran penyakit pascabencana,” ujarnya.

Empat Dekade Membangun Tenaga Epidemiologi

Kerja sama CDC dan Kementerian Kesehatan Indonesia dalam pengembangan FETP bukan sesuatu yang baru. Sejak 1982, CDC telah bermitra dengan Kementerian Kesehatan untuk membangun dan mempertahankan program tersebut di Indonesia.

Program FETP mendukung pengembangan tenaga epidemiologi yang memiliki kemampuan mengumpulkan data kesehatan masyarakat, kemudian mengubah informasi tersebut menjadi rencana aksi.

Kolaborasi yang telah berlangsung lebih dari empat dekade itu menjadi bagian dari kerja sama Indonesia dan AS di bidang keamanan kesehatan global.

Dalam konteks respons bencana, keberadaan tenaga epidemiologi menjadi bagian dari upaya untuk memahami kebutuhan kesehatan masyarakat di lapangan sekaligus mendeteksi tanda-tanda awal kemungkinan penyebaran penyakit.

Pengerahan tujuh tim FETP ke wilayah terdampak gempa juga memperlihatkan bagaimana program pengembangan kapasitas tenaga kesehatan dapat digunakan dalam situasi kedaruratan.

Tim tidak hanya menilai kebutuhan masyarakat terdampak, tetapi juga memperkuat pengawasan penyakit dan memberikan rekomendasi berdasarkan temuan di lapangan.

FETP menjadi salah satu bagian penting dalam sistem kesehatan masyarakat Indonesia. Dukungan berkelanjutan CDC diarahkan untuk membantu membangun kapasitas lokal yang dapat bertahan dalam jangka panjang.

Melalui kerja sama tersebut, Pemerintah Indonesia dan CDC bekerja untuk memperkuat kemampuan dalam mendeteksi, merespons, dan mencegah kedaruratan kesehatan masyarakat.

Di tengah upaya pemulihan pascagempa NTT, kerja epidemiologi berlangsung dari lokasi-lokasi yang mungkin tidak banyak terlihat. Data dikumpulkan dari lapangan, kebutuhan kesehatan dipetakan, tanda-tanda penyakit dipantau, dan informasi tersebut digunakan untuk membantu menentukan langkah berikutnya.

Bagi masyarakat yang terdampak bencana, pekerjaan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan bahwa setelah ancaman gempa berlalu, risiko kesehatan yang mungkin menyusul juga dapat diantisipasi.

Baca juga: Kemenkes RI dan CDC AS Uji Protap PHEOC untuk Respons Wabah DBD

(Willy Haryono)