Lebih dari Sekadar Angkat Barang, Porter Stasiun Jadi Garda Depan Layanan Kereta

Warsito, 34, seorang porter di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina

Lebih dari Sekadar Angkat Barang, Porter Stasiun Jadi Garda Depan Layanan Kereta

Metro TV • 24 September 2026 20:49

Jakarta: Di tengah riuhnya aktivitas Stasiun Gambir, Warsito, 34, selalu sigap membantu penumpang. Pria asal Blora, Jawa Tengah, itu satu dari ratusan porter yang setiap hari beradu di tengah penumpang untuk membantu mengangkut barang.

Warsito mengatakan tugas porter lebih dari membantu penumpang dengan barang bawaannya. Seringkali porter membantu penumpang lanjut usia (lansia), ibu hamil, disabilitas, hingga memantau keamanan stasiun.

“Menjaga keamanan stasiun, melaporkan potensi bahaya, dan membantu penumpang disabilitas. Contoh ada yang lansia, ibu hamil, kita bantu secara sukarela,” kata Warsito kepada Metrotvnews.com, Kamis, 24 September 2026.

Sejak 2016 menjajaki langkah sebagai porter di Stasiun Gambir, Warsito betah menjalani pekerjaan ini karena kebaikan penumpang. Meski tak jarang mendapat pengalaman kurang menyenangkan, dia tetap menjalani pekerjaannya dengan tulus.

“Kita sering bertemu dengan orang-orang baik, meskipun juga pernah dapat salah satu atau sedikit orang yang mungkin kesannya kurang baik. Tapi lebih banyak ketemu orang baik,” ujar Warsito.

Ketulusan Warsito tercermin dari aksinya membantu penumpang tanpa imbalan materi. Dia pernah membantu membawa barang penumpang yang mengira jasanya gratis. 

“Kita pernah bawa barang banyak. Entah itu penumpang enggak tahu kalau porter itu bayar jadi enggak dikasih (imbalan),” ungkap Warsito.

Seorang porter tengah membantu membawa barang penumpang. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina


Pengalaman lain pernah dirasakan Warsito ketika tergesa-gesa membawa barang penumpang menuju ke kereta yang jadwal keberangkatannya mepet. Begitu barang dinaikkan, kereta langsung melaju, sehingga dia harus segera turun dan merelakan imbalan dari penumpang. 

“Kita lari-lari gara-gara penumpang takut ketinggalan. Kereta sudah neng-nong neng-nong mau berangkat, tinggal klakson, kita lari-lari. Sampai atas kereta jalan, kita jadinya enggak dibayar ya ada,” tutur Warsito.

(Afifah Alfina)

(Achmad Zulfikar Fazli)