Cerita Warsito 10 Tahun Menyambung Hidup sebagai Porter Penumpang Kereta Api

Warsito, 34, seorang porter di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.

Cerita Warsito 10 Tahun Menyambung Hidup sebagai Porter Penumpang Kereta Api

Metro TV • 24 September 2026 16:21

Jakarta: Stasiun kereta api bagi sebagian orang adalah tempat menyambung hidup. Salah satunya dirasakan Warsito, 34, seorang porter di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Terhitung sudah satu dekade dia menggantungkan asa dari membantu penumpang dengan barang bawaannya. 

Waktu yang tak sebentar itu dinikmati Warsito karena dari menjadi porter dia dipertemukan dengan banyak kawan. Di samping juga banyak bertemu penumpang yang menghargai jasanya dengan baik.

“Sukanya di sini kita banyak keluarga, banyak temen. Kita sering bertemu dengan orang-orang baik, meskipun dikasihkan juga pernah dapat salah satu atau sedikit orang yang mungkin kesannya kurang baik. Tapi lebih banyak ketemu orang baik,” ungkap Warsito kepada Metrotvnews.com, Kamis, 24 September 2026.

Warsito merupakan satu dari 240 proter yang ada di Stasiun Gambir. Dia bekerja dalam satu sif atau 12 jam sehari. Namun, jam kerjanya relatif fleksibel, tergantung jam keberangkatan dan kedatangan kereta.

“Cuma jam kerjanya kita enggak full ya. Kerjanya kita kan di saat sudah tidak ada kereta keberangkatan atau kedatangan kita bisa istirahat. Disediakan tempat istirahat di sini,” ujar Warsito.

Sebagai porter, pendapatan Warsito setiap harinya tidak menentu. Jika mengacu pada aplikasi e-porter yang dikeluarkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Wisata, tarif porter sebesar Rp38 ribu. Namun, sejauh ini penumpang bisa memilih untuk membayar lewat e-porter dengan tarif tetap atau membayar secara tunai kepada porter. 

Porter sendiri tidak mematok harga untuk jasanya saat penumpang memilih pembayaran di luar aplikasi. Jika beruntung, porter bisa mendapat imbalan lebih tinggi.

“Kalau sebenarnya kita kan tersedia aplikasi. Kita dari pihak KAI Wisata dibuatkan aplikasi yaitu e-Porter. Jadi kalau sesuai acuan tarif e-Porter, tarif minimalnya kalau bawa dua atau tiga barang yang mampu kita bawa itu tarifnya Rp38.000, belum potongan ke aplikasi,” jelas Warsito. 

“Kalau untuk non-aplikasi, kita sesuaikan saja. Kadang-kadang ada barangnya terlalu kecil, masa kita mau hargain (mahal). Kadang ada barangnya banyak, dua troley atau tiga troley kan, jadi menyesuaikan,” tambah Warsito.

Seorang porter tengah membantu membawa barang penumpang. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina. 

Paling tinggi Warsito pernah mengantongi Rp500 ribu per hari. Jumlah itu dia dapat saat momen lonjakan penumpang di masa mudik lebaran. Namun, pada hari biasa ada yang memberi Rp50 ribu sekali angkat barang, ada pula Rp50 ribu didapatkan dari mengangkat barang tiga penumpang.

Selama sepuluh tahun malang melintang sebagai porter, tak jarang Warsito mendapat pengalaman kurang menyenangkan dari penumpang. Salah satunya, saat penumpang yang tidak memberikan imbalan materi pada jasanya.

“Kita lari-lari gara-gara penumpang takut ketinggalan. Kereta sudah neng-nong neng-nong mau berangkat, tinggal klakson, kita lari-lari. Sampai atas kereta jalan, kita jadinya enggak dibayar ya ada,” tuturnya

Meski begitu, dia mengaku tetap tulus menjalani pekerjaan ini. Bahkan, Warsito bercerita soal tugas porter yang lebih dari sekadar membawa barang penumpang. Sehari-hari para porter turut membantu penumpang jika ada yang kebingungan soal fasilitas dan layanan di stasiun.

“Menjaga keamanan stasiun, melaporkan potensi bahaya, dan membantu penumpang disabilitas. Contoh ada yang lansia, ibu hamil, kita bantu secara sukarela,” ungkap Warsito. 

(Metrotvnews.com/Afifah Alfina)

(Siti Yona Hukmana)