Suasana Mudik 2019 di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. (Istimewa via KemenPAN-RB)
Mengupas Asal Usul Tradisi Mudik
Riza Aslam Khaeron • 12 March 2026 17:00
Jakarta: Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi tinggal menghitung hari. Masyarakat yang sedang merantau, sudah barang tentu sedang bersiap pulang ke kampung halaman.
Jutaan masyarakat setiap tahunnya melakukan tradisi pulang ke kampung halaman saat lebaran. Pemerintah memprediksi pergerakan masyarakat jelang lebaran tahun ini mencapai 143,9 juta orang.
Kegiatan yang sudah menjadi tradisi turun-temurun ini akrab disebut dengan istilah mudik. Lantas, bagaimana sebenarnya asal-usul istilah tersebut dan dari mana tradisi ini bermula? Berikut adalah penjelasan lengkapnya.
Arti Kata Mudik

Suasana Mudik 2019 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta. (Istimewa via KemenPAN-RB)
Terdapat beragam sudut pandang mengenai asal-usul istilah mudik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik memiliki dua pengertian utama, yakni “berlayar, pergi ke udik (hulu sungai, pedalaman)” dan “pulang ke kampung halaman.”
Dari definisi tersebut, terlihat bahwa makna awal kata ini berkaitan erat dengan pergerakan menuju wilayah udik atau pedalaman, sebelum akhirnya dipahami secara luas sebagai aktivitas pulang kampung.
Melansir artikel dari laman Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 27 April 2022, dalam konteks masyarakat Melayu di masa lampau, penduduk yang tinggal di daerah hulu sungai kerap pergi ke hilir untuk berdagang atau bekerja, kemudian kembali lagi ke tempat asalnya.
Dari pola perjalanan "kembali ke hulu" inilah muncul istilah mudik yang kemudian dimaknai sebagai kembali ke tempat asal atau kampung halaman.
Oleh karena itu, banyak pihak berpendapat bahwa kata mudik berakar dari kata bahasa melayu udik.
“Berasal dari bahasa Melayu, udik. Konteksnya pergi ke muara dan kemudian pulang kampung. Saat orang mulai merantau karena ada pertumbuhan di kota, kata mudik mulai dikenal dan dipertahankan hingga sekarang saat mereka kembali ke kampungnya,” papar Antropolog Universitas Gadjah Mada, Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra, pada 26 April 2022.
Di sisi lain, terdapat sumber yang menyebutkan bahwa istilah ini memiliki keterkaitan dengan bahasa Jawa. Melansir laman Dinas Perhubungan Provinsi Aceh, awal mula istilah “mudik” di Indonesia juga dapat ditelusuri kembali ke zaman kolonial Belanda melalui akronim bahasa Jawa, yakni “mulih dhisik” yang secara harfiah berarti “pulang dulu” (ke desa).
Pada awalnya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan pergerakan para pekerja di kota-kota besar yang kembali ke kampung halaman saat masa liburan, khususnya pada momen lebaran atau Idulfitri.
Meski terdapat perbedaan teori etimologi, kedua pendapat tersebut pada intinya merujuk pada makna yang sama: sebuah perjalanan pulang menuju akar atau tempat asal.
| Baca Juga: Jelang Mudik, Pengiriman Sepeda Motor Meningkat |
Asal-Usul Tradisi Mudik

Perayaan Hari Raya Idulfitri di Sumatra Barat pada masa kolonial. (Tropenmuseum/Wikimedia Commons).
Tradisi mudik di Indonesia diyakini telah berakar jauh sebelum masa modern. Melansir laman Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB), kebiasaan kembali ke kampung halaman sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit.
Kala itu, para petani atau perantau yang bekerja di wilayah lain akan pulang ke desa asal untuk berkumpul dengan keluarga serta membersihkan makam leluhur.
Pada masa tersebut, kegiatan ini belum terafiliasi dengan Hari Raya Idulfitri, melainkan lebih bersifat tradisi kekeluargaan dan penghormatan terhadap leluhur.
Dalam perkembangannya, mudik menjadi semakin identik dengan momen Lebaran seiring dengan meningkatnya arus urbanisasi di Indonesia. Sejak dekade 1960–1970-an, gelombang masyarakat desa yang merantau ke kota-kota besar seperti Jakarta untuk mencari nafkah semakin masif.
Ketika mendapatkan libur panjang menjelang Idulfitri, para perantau ini memanfaatkan kesempatan tersebut untuk pulang dan melepas rindu dengan keluarga di desa.
“Ini (urbanisasi), mungkin setelah kemerdekaan, setelah banyak orang mencari pekerjaan di kota. Mungkin tahun 1960-an dan 1970-an, ketika Kota Jakarta mulai didatangi orang dari berbagai desa,” jelas Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Purnawan Basundoro pada tahun 2021, melansir laman Unair.
Menurut beliau, dalam konteks urbanisasi tersebut, desa dipandang sebagai sumber asal yang tak terpisahkan bagi masyarakat kota.
“Karena kita ini (orang-orang desa) itu kan dianggap sumber orang kota kan dari desa dalam konteks urbanisasi itu,” tambahnya lagi.
Hal inilah yang membuat keinginan untuk kembali ke kampung halaman tetap kuat meskipun seseorang telah lama merantau.
Seiring berjalannya waktu, tradisi mudik berevolusi menjadi fenomena sosial dan budaya yang sangat kuat di Indonesia. Selain sebagai sarana bersilaturahmi dan berkumpul dengan keluarga besar, mudik kini juga diisi dengan berbagai ritual sosial seperti ziarah kubur, makan bersama, hingga reuni dengan kerabat dan teman lama di tanah kelahiran.