Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth. (EPA)
Menhan AS: Mojtaba Khamenei Terluka dan Kemungkinan Mengalami Cacat
Willy Haryono • 14 March 2026 08:58
Washington: Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengatakan bahwa pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, terluka dalam serangan awal AS dan Israel terhadap Iran.
Dalam konferensi pers di Pentagon pada Jumat, Hegseth mengklaim bahwa pemimpin baru Iran tersebut kemungkinan mengalami luka serius.
“Kami mengetahui bahwa pemimpin yang disebut sebagai pemimpin tertinggi baru itu terluka dan kemungkinan mengalami cacat,” kata Hegseth kepada wartawan, dikutip dari The Hill, Sabtu, 14 Maret 2026.
Ia juga mengatakan kepemimpinan Iran saat ini berada dalam kondisi tertekan dan bersembunyi.
Hegseth mengonfirmasi sejumlah laporan yang menyebut Mojtaba Khamenei, 56 tahun, terluka di hari pertama gelombang serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas pada 28 Februari dalam serangan udara Israel yang menghantam kompleks kediamannya di Teheran. Setelah kematian tersebut, Mojtaba Khamenei kemudian dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran oleh Majelis Ahli.
'Mungkin Masih Hidup'
Ketika ditanya oleh pembawa acara Fox News Brian Kilmeade mengenai kondisi Mojtaba Khamenei, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia kemungkinan masih hidup.“Saya rasa dia mungkin masih hidup. Terluka, tapi mungkin masih hidup,” kata Trump.
Pemimpin baru Iran sebelumnya menyampaikan pernyataan pertamanya melalui televisi pemerintah.
Dalam pesan yang dibacakan oleh pembawa berita, Mojtaba Khamenei menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup dan Iran akan terus menyerang sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Ia juga memperingatkan bahwa Iran dapat membuka “front baru” dalam konflik jika serangan Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut.
Sebelumnya, Hegseth mengkritik pernyataan perdana Khamenei dan menyebutnya sebagai tanda kelemahan. Ia juga menyinggung penanganan pemerintah Iran terhadap protes anti-pemerintah di dalam negeri yang menurutnya menewaskan ribuan warga.
“Tidak ada suara, tidak ada video, hanya pernyataan tertulis,” kata Hegseth.Menurutnya, kepemimpinan Iran saat ini berada dalam kondisi tidak stabil setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei. “Siapa yang benar-benar memimpin? Iran sendiri mungkin tidak tahu,” ujarnya.
Baca juga: Mojtaba Khamenei Desak Negara Teluk Tutup Pangkalan Militer AS