Cadangan Emas Makin Langka, Harga Emas Bisa Terus Reli

Ilustrasi cadangan emas yang semakin langka di tengah lonjakan permintaan global, memperkuat potensi reli harga emas jangka panjang. (Foto: Dok.)

Cadangan Emas Makin Langka, Harga Emas Bisa Terus Reli

Patrick Pinaria • 20 February 2026 11:10

Jakarta: Sektor investasi logam mulia menghadapi dinamika unik. Meski harga emas konsisten terapresiasi, pasar dikejutkan anomali bersejarah dimana pada 2024-2025,  tidak ditemukan cadangan emas skala besar selama dua tahun berturut-turut. Langkanya sumber daya baru ini diprediksi menjadi katalis utama pergeseran struktur pasar emas dunia.

Ketika pasokan fisik emas tercekik oleh ketiadaan proyek baru, sedangkan investasi emas serta permintaan dari bank sentral dan investor ritel terus melonjak, pertanyaan besarnya bukan lagi "kapan harga emas akan turun?", melainkan "seberapa tinggi harga emas bisa terbang sebelum pasokan benar-benar mengering?"
 

Kondisi Pasar Emas

Berdasarkan data pasar terbaru pekan ini, emas sedang berada dalam fase konsolidasi yang sangat kuat di level tinggi.
  • Harga Spot Emas Global: Bertahan di kisaran $4.985 – $5.111 per troy ounce. Para analis dari J.P. Morgan memproyeksikan harga emas akan segera menguji level psikologis baru di $5.200 seiring dengan ketidakpastian geopolitik yang belum mereda.
  • Harga Domestik (Antam di Pluang): Berada di level Rp2.947.000 per gram (per 13 Februari 2026), menunjukkan ketahanan yang luar biasa meski terdapat fluktuasi nilai tukar Rupiah.
  • Sentimen Utama: Pasar sedang mencerna laporan bahwa cadangan emas dunia bisa terkuras secara signifikan dalam dua dekade ke depan jika tren penemuan nol ini berlanjut.


Fenomena "Zero Discovery" Emas

Laporan 12 Februari 2026 dari Tavi Costa (Azuria Capital), berdasarkan data S&P Global, menunjukkan penemuan emas dunia mencapai titik terendah bersejarah, mengejutkan industri pertambangan.
 

1. Angka Nol yang Belum Pernah Terjadi

Industri pertambangan emas, yang biasanya menemukan puluhan deposit besar (min. 2 juta ounce) per tahun sejak 1990-an (puncak 20-28 penemuan/tahun), mencatat nol penemuan proyek greenfield besar pada tahun 2023 dan 2024. Artinya, tidak ada penemuan signifikan yang mampu mengubah kurva pasokan global.
 

2. Anggaran Eksplorasi yang Salah Sasaran

Masalahnya bukan karena perusahaan tambang berhenti mencari. Anggaran eksplorasi memang mencapai miliaran dolar, namun terjadi pergeseran drastis pada cara uang tersebut digunakan:
  • Tahun 1990-an: Sekitar 50% anggaran digunakan untuk mencari wilayah baru (grassroots).
  • Tahun 2024-2026: Angka ini anjlok menjadi hanya 19%.
  • Risiko Rendah: Perusahaan tambang kini lebih suka bermain aman dengan memperpanjang usia tambang yang sudah ada daripada mengambil risiko tinggi menjelajahi wilayah baru. Akibatnya, kualitas bijih emas (grade) yang diekstraksi terus menurun, yang secara otomatis menaikkan biaya produksi per ounce.

3. Tekanan pada Supply Curve

US Geological Survey memperkirakan cadangan emas ekonomi hanya tersisa 54.000-57.000 ton di bawah tanah. Dengan laju penambangan global 3.300-3.600 ton per tahun, cadangan bisa habis kurang dari 20 tahun tanpa penemuan besar segera. Perlu diingat, butuh 6 hingga 10 tahun dari penemuan hingga emas pertama kali diproses.
 

Di Sisi Lain, Permintaan Emas Semakin Meningkat

Di saat sisi pasokan (supply) mengalami kemacetan struktural, sisi permintaan (demand) justru menunjukkan tren yang berlawanan. Pada tahun 2025, total permintaan emas global melampaui 5.000 ton untuk pertama kalinya dalam sejarah.
  • Bank Sentral sebagai Pembeli Utama: Bank sentral dunia (seperti China, India, Polandia, dan Turki) telah membeli lebih dari 1.000 ton emas setiap tahunnya sejak 2022. Motivasi mereka jelas: diversifikasi cadangan devisa dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
  • Emas sebagai Safe Haven: Di tengah inflasi global yang persisten dan ketegangan geopolitik, emas tetap menjadi instrumen perlindungan kekayaan nomor satu. Nilai transaksi tahunan emas di pasar global kini mencapai US$555 miliar.
   


Memilih Kendaraan Investasi Emas: PAXG, XAUT, GLD atau Emas Digital?

Menurut Jason Gozali, Head of Research Pluang, bagi investor di tahun 2026, memiliki emas tidak lagi harus berarti menyimpan emas batangan di brankas pribadi yang justru berisiko. Teknologi blockchain dan pasar modal telah mempermudah akses ini. Di aplikasi Pluang, Anda dapat mengakses berbagai instrumen ini dengan mudah:
  1. PAX Gold (PAXG): Ini adalah token digital yang setiap kepingnya dijamin oleh satu troy ounce emas fisik London Good Delivery yang disimpan di brankas Brink's. PAXG menawarkan keunggulan unik: ia menggabungkan keamanan emas fisik dengan kecepatan dan likuiditas teknologi blockchain. Anda bisa memindahkan atau memperdagangkan emas Anda 24/7 tanpa hari libur.
  2. Tether Gold (XAUT): Mirip dengan PAXG, XAUT memberikan kepemilikan atas emas fisik spesifik di brankas Swiss. Ini adalah pilihan populer bagi pengguna ekosistem Tether yang ingin memiliki aset lindung nilai yang stabil. Selain itu, di Pluang, kamu juga bisa membeli future XAUT yaitu XAUTUSDT-PERP
  3. SPDR Gold Shares (GLD): Bagi Anda yang lebih nyaman bermain di pasar saham, GLD adalah ETF emas terbesar di dunia. GLD melacak harga emas spot dan merupakan cara paling efisien bagi investor institusi maupun ritel untuk mendapatkan eksposur harga emas tanpa repot mengurus penyimpanan fisik. Di Pluang, kamu juga bisa membeli GLD call option apabila bullish terhadap emas dan put option untuk mendapatkan keuntungkan ketika harga emas mengalami penurunan.
  4. Emas Digital (Antam/UBS): Investasi emas fisik mulai dari nominal kecil dengan opsi Tarik Fisik ke logam mulia asli.


Mengapa Pluang Adalah Tempat Terbaik untuk Akumulasi Emas?

Menghadapi tantangan harga emas yang kini berada di level tertinggi sepanjang sejarah (mendekati Rp3 juta per gram), Pluang menawarkan solusi yang inklusif dan cerdas untuk menjaga daya beli Anda.
 

A. Fractional Investment

Dengan harga emas yang semakin mahal, membelinya dalam satuan besar (seperti 10 gram atau 100 gram) menjadi semakin sulit bagi kebanyakan orang. Pluang memungkinkan Anda untuk membeli emas mulai dari Rp10.000. Ini berarti Anda bisa mulai menabung emas meski dengan anggaran terbatas.
 

B. Fitur Pocket & Auto Invest (DCA)

Dollar Cost Averaging (DCA) adalah cara terbaik investasi emas saat volatilitas tinggi. Fitur Auto Invest Pluang memungkinkan Anda mengatur pembelian emas otomatis mingguan/bulanan. Strategi ini efektif memitigasi risiko membeli di harga puncak karena harga perolehan akan dirata-ratakan.
 

C. Penarikan Fisik yang Terjamin

Meskipun Anda berinvestasi dalam bentuk emas digital atau tokenized, Pluang memberikan opsi untuk mencetak emas fisik Antam. Ini memberikan fleksibilitas seperti likuiditas digital untuk jangka pendek dan keamanan fisik untuk jangka panjang.
 

D. Keamanan dan Regulasi

Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan/atau Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.
 

Apakah Reli Harga Emas Berlanjut atau Melting Down?

  1. Skenario Bullish (Reli Berlanjut): Ini adalah skenario yang paling didukung oleh data fundamental. Dengan pasokan tambang yang mendatar (plateau) dan permintaan bank sentral yang agresif, emas berpotensi menembus $6.000 per ounce dalam 2-3 tahun ke depan. Kelangkaan adalah pendorong harga terkuat dalam sejarah ekonomi.
  2. Skenario Steady (Stabil di Level Saat Ini): Emas mungkin akan tertahan di kisaran $4.800 - $5.100 jika bank sentral mulai mengerem pembelian mereka atau jika suku bunga riil global tetap tinggi secara ekstrem. Namun, level ini tetap menjadi "normal baru" bagi emas.
  3. Skenario Melting Down (Kejatuhan): Skenario ini sangat kecil kemungkinannya terjadi secara struktural. Koreksi tajam mungkin terjadi (misalnya 10-15%) jika terjadi aksi ambil untung masal, namun ketiadaan pasokan baru akan bertindak sebagai "floor price” yang kuat untuk mencegah harga jatuh terlalu dalam.


Kesimpulan bagi Investor Emas

Tidak adanya penemuan cadangan emas baru selama dua tahun terakhir merupakan sinyal bahaya bagi sistem moneter global. Ekstraksi emas saat ini melampaui penemuan sumber daya baru. Sesuai hukum ekonomi, permintaan tinggi dan pasokan terbatas akan memicu apresiasi nilai emas yang signifikan dalam jangka panjang.

Pengguna Pluang, ini saat yang tepat mengevaluasi portofolio. Jangan menunggu "harga murah." Fokus akumulasi konsisten, gunakan instrumen digital seperti PAXG atau Emas Digital Pluang untuk fleksibilitas.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Rosa Anggreati)