Ilustrasi Ethereum di tengah tekanan pasar kripto 2026, momentum bagi investor untuk menerapkan strategi lindung nilai dan rotasi aset. (Foto: Dok.)
Strategi Investasi 2026 bagi Investor Ethereum saat Harganya Runtuh
Patrick Pinaria • 20 February 2026 10:56
Jakarta: Februari 2026 seharusnya menjadi bulan pesta pora bagi pasar aset digital. Di atas kertas, semua indikator tampak sempurna. Pemilihan umum Amerika Serikat telah usai, membawa angin segar berupa janji deregulasi dan adopsi institusional yang lebih luas. Narasi "Trump Trade" mendominasi berita utama, dan banyak analis Wall Street dengan percaya diri memprediksi bahwa Ethereum (ETH) akan segera mencetak rekor tertinggi baru (All-Time High), menyusul jejak saudaranya, Bitcoin. Biasanya, Ethereum selalu menyusul jejak Bitcoin di saat reli.
Namun, kenyataan di lapangan justru memberikan kejutan pahit yang menampar keras optimisme tersebut.
Pada tanggal 5 Februari 2026, pasar aset digital mengalami salah satu dislokasi harga paling brutal dalam sejarah modernnya. Benteng pertahanan psikologis Ethereum di level $3.000, yakni level harga yang selama ini dianggap "sakral" oleh para bulls dan investor jangka panjang, akhirnya runtuh. Dalam hitungan jam, grafik harga Ethereum terjun memerah, menghapus miliaran dolar kapitalisasi pasar dan meninggalkan jutaan investor ritel dalam keadaan tertegun.
Kepanikan melanda forum-forum komunitas dan media sosial. Pertanyaan yang muncul bukan lagi "kapan ke bulan?", melainkan bernada eksistensial: "Apakah fundamental Ethereum sudah gagal?", "Apakah narasi ETF hanyalah penipuan?", atau yang lebih menakutkan, "Apakah ini akhir dari siklus bullish dan awal dari Crypto Winter yang baru?"
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tidak sederhana. Namun, sebuah laporan riset pasar yang sangat mendalam dan berwawasan luas bertajuk "Ethereum (ETH) Outlook 2026", yang baru saja dirilis oleh Tim Investment Researh Pluang, berhasil menyingkap tabir asap ini. Laporan tersebut mengungkap fakta yang jauh lebih kompleks, dan ironisnya, lebih menenangkan, daripada sekadar kepanikan harga di permukaan.
Likuidasi Institusional Penyebab Koreksi Ethereum
Temuan paling mengejutkan dari laporan ini adalah identitas penjual sebenarnya. Bukan investor ritel yang panik, melainkan Likuidasi Paksa Institusional. Data forensik melacak pusat gempa ke hedge funds di Hong Kong yang mengambil posisi leverage agresif.Saat data inflasi AS menekan pasar, terjadilah Margin Call Cascade: sistem otomatis melikuidasi posisi senilai ratusan juta dolar, membanjiri pasar dengan pasokan berlebih. Tekanan ini diperparah oleh ETF Overhang, di mana investor tradisional keluar pasar karena takut menanggung kerugian. Bagi mata terlatih, ini bukan kiamat teknologi, melainkan peristiwa deleveraging, yakni pasar sedang "membuang beban" spekulatif agar bisa bangkit lebih sehat.
Akankah Ethereum di Kubu Bulls atau Bears?
Poin paling menarik, dan membingungkan, yang diulas dalam laporan Ethereum (ETH) Outlook ini adalah adanya perpecahan pandangan yang tajam di kalangan raksasa finansial dunia. Kita tidak lagi melihat konsensus tunggal.1. Kubu Pesimis (The Bears)
Bank multinasional seperti Standard Chartered telah mengambil langkah konservatif dengan memangkas target harga ETH. Argumen mereka berakar pada makroekonomi: Lingkungan suku bunga tinggi ("Higher for Longer") di AS membuat aset berisiko seperti Ethereum menjadi kurang menarik dibandingkan obligasi negara yang aman. Selain itu, mereka menyoroti persaingan sengit dari blockchain Layer-1 lain (seperti Solana) yang menggerogoti pangsa pasar Ethereum dalam hal biaya dan kecepatan.2. Kubu Fundamentalis (The Bulls)
Di sisi lain, laporan riset dari firma seperti 21Shares menunjukkan realitas yang berbeda. Secara fundamental, jaringan Ethereum justru semakin kuat.- Total ETH yang dikunci dalam kontrak staking terus meningkat, menunjukkan kepercayaan jangka panjang validator.
- Adopsi Layer-2 meledak, memproses lebih banyak transaksi daripada sebelumnya.
- Mekanisme pembakaran (burn mechanism) membuat pasokan ETH menjadi sedikit deflasi.
Bagi investor cerdas, dislokasi ini adalah peluang emas. Namun, bagi investor yang gegabah, ini bisa menjadi "value trap". Membeli aset yang sedang jatuh tanpa memahami kapan tekanan jual institusional berakhir sama saja dengan menangkap pisau yang sedang jatuh (catching a falling knife).
Pandangan Ahli: Volatilitas Sebagai Tantangan Investasi
Untuk memberikan konteks yang lebih dalam, laporan tersebut mengutip pandangan dari Jason Gozali, Head of Investment Research di Pluang. Pandangannya memberikan perspektif yang sangat dibutuhkan di tengah kebisingan pasar.Jason menekankan bahwa kejatuhan menembus level $3.000 ini lebih merupakan cerminan dari "reset struktural" daripada kegagalan teknologi. Ia mengingatkan bahwa bagi institusi, volatilitas adalah alat untuk menguji tesis investasi. "Jangan terjebak dalam kepanikan ritel," ujarnya. "Gunakan volatilitas ini untuk menguji tesis Anda dengan data on-chain, bukan hanya grafik harga."
Nasihat ini menggarisbawahi pentingnya disiplin. Optimisme tanpa strategi bisa berpotensi menghancurkan portofolio, tetapi pesimisme berlebihan bisa membuat Anda kehilangan peluang generasi. Kuncinya adalah data.
Strategi Smart Money: Jangan Hanya HODL
Jadi, apa yang harus dilakukan investor sekarang? Apakah menjual dalam kerugian, atau membeli lagi?Laporan Ethereum (ETH) Outlook dari Pluang ini tidak hanya menyajikan masalah, tetapi juga menawarkan solusi taktis yang biasa digunakan oleh "Smart Money". Laporan ini membongkar bahwa strategi "HODL" bukanlah satu-satunya jalan, dan sering kali bukan jalan terbaik saat pasar bearish.
1. Strategi "Netral Aktif" dengan USD Yield
Salah satu kesalahan terbesar ritel adalah membiarkan uang tunai menganggur (idle cash) saat menunggu pasar pulih. Laporan ini menyarankan strategi manajemen likuiditas agresif. Di tengah volatilitas tinggi, investor disarankan memarkir likuiditas mereka di instrumen kas produktif seperti fitur USD Yield di Pluang. Dengan imbal hasil hingga 3,38% p.a., investor dibayar untuk bersabar. Ini mengubah "waktu tunggu" menjadi keuntungan pasti, memberikan amunisi yang lebih besar saat nanti sinyal beli yang valid muncul.2. Strategi Lindung Nilai (Hedging) dengan Futures
Para profesional tidak takut pasar turun, mereka mendapat untung dari situasi tersebut. Laporan ini mengulas penggunaan Crypto Futures untuk mengambil posisi Short (jual). Strategi ini memungkinkan investor untuk melindungi nilai portofolio fisik mereka. Jika harga aset turun, keuntungan dari pasar berjangka akan menutup kerugian tersebut. Ini adalah teknik asuransi portofolio yang wajib dikuasai di tahun 2026.3. Rotasi ke Aset Defensif Efisien Pajak
Bagi investor berkekayaan tinggi (HNWIs), laporan ini menyoroti rotasi aset ke instrumen defensif. Namun, alih-alih emas fisik yang kaku dan mahal di ongkos, HNWIs beralih ke Crypto Emas (PAXG/XAUT). Alasannya sangat pragmatis: Efisiensi Pajak. Di Indonesia, struktur pajak final untuk aset kripto sering kali jauh lebih menguntungkan bagi transaksi bernilai besar dibandingkan pajak penghasilan progresif atau biaya spread toko emas fisik. Ini adalah rahasia umum di kalangan investor prioritas yang dibedah dalam laporan tersebut.Baca Peta Sebelum Masuk ‘Arena’ Crypto
Pasar crypto di tahun 2026 adalah hutan belantara yang penuh peluang sekaligus bahaya. Kejatuhan Ethereum di bawah $3.000 bisa menjadi awal dari akhir, atau bisa menjadi peluang pembelian terbaik dalam dekade ini, tergantung pada data yang Anda pegang.Apakah level saat ini sudah menjadi dasar (bottom)? Indikator on-chain apa yang sedang dipantau oleh institusi sebelum mereka mulai mengakumulasi kembali? Dan bagaimana cara mengatur portofolio agar tahan banting terhadap crypto winter?
Jawaban lengkapnya, beserta data aliran dana ETF, analisis teknikal mendalam, dan panduan langkah demi langkah strategi lindung nilai, tersedia secara eksklusif dalam laporan lengkap Pluang.
Jangan biarkan portofolio Anda di ambang ketidakpastian. Bekali diri Anda dengan wawasan institusional sebelum mengambil keputusan.