Strategi Efisiensi Pajak dan Alihkan 'Smart Money' saat Harga Bitcoin Jatuh

Ilustrasi Bitcoin di tengah volatilitas pasar kripto, momentum bagi investor untuk menerapkan strategi efisiensi pajak dan rotasi aset. (Foto: Dok.)

Strategi Efisiensi Pajak dan Alihkan 'Smart Money' saat Harga Bitcoin Jatuh

Patrick Pinaria • 20 February 2026 10:40

Jakarta: Dalam dunia manajemen kekayaan (wealth management), ada sebuah pepatah tua yang selalu relevan dan menjadi pegangan para bankir privat: "Bukan seberapa banyak uang yang Anda buat saat pasar naik, melainkan seberapa banyak yang bisa Anda pertahankan saat pasar turun."

Februari 2026 menjadi waktu yang tepat untuk menguji prinsip tersebut. Ketika Bitcoin (BTC), yakni aset yang dalam dekade terakhir menjadi primadona portofolio pertumbuhan (growth portfolio), mengalami koreksi tajam pada tanggal 5 Februari, banyak investor ritel yang panik. Narasi "Trump Trade" dan prediksi harga Bitcoin $200.000 dari Goldman Sachs seolah runtuh dalam semalam oleh realitas pasar yang memiliki volatilitas sangat ekstrem.

Namun, bagi High-Net-Worth Individuals (HNWIs) dan Family Offices, volatilitas harga Bitcoin ini dilihat melalui lensa yang berbeda. Bagi smart money, kejatuhan Bitcoin (BTC) bahkan pasar bukanlah sinyal untuk panik membuang aset, melainkan sinyal untuk Rebalancing (Penyeimbangan Ulang) dan Rotasi Aset.

Sebuah laporan riset pasar komprehensif bertajuk "Bitcoin (BTC) Outlook 2026", yang baru saja dirilis oleh Tim Strategi Investasi Pluang, menjadi panduan penting bagi kalangan investor prioritas ini. Laporan tersebut tidak hanya membedah penyebab kejatuhan pasar, tetapi juga menawarkan blueprint tentang bagaimana mengamankan likuiditas dan memanfaatkan inefisiensi pajak di tengah kekacauan.

 

Apakah Bitcoin Jatuh Karena Tesis Investasinya Gagal?

Sebelum mengambil keputusan strategis untuk memindahkan dana miliaran Rupiah, investor perlu memahami apa yang sedang terjadi di pasar finansial global. Benarkah tesis investasi Bitcoin gagal?

Laporan Pluang menjawab dengan tegas: Tidak. Fundamental Bitcoin sebagai aset moneter digital tetap utuh.

Penyebab utama dislokasi harga ini adalah fenomena yang disebut analis sebagai "The Great Decoupling", yakni pemisahan antara harga aset dan nilai fundamentalnya akibat krisis likuiditas. Investigasi forensik menunjukkan bahwa pusat masalah berasal dari deleveraging institusional di Hong Kong. Dana-dana lindung nilai (hedge funds) besar yang menggunakan utang berlebih terpaksa menjual aset berkualitas (seperti BTC) untuk menutupi margin (margin calls).

Ditambah lagi dengan arus keluar (outflow) dari ETF Bitcoin Spot, pasar dibanjiri oleh pasokan aset yang dijual di bawah nilai wajar.
 
Bagi HNWIs, ini adalah informasi krusial. Jika fundamental aset masih kuat, tetapi harganya jatuh karena pemegang saham lain bangkrut, maka ini adalah masalah harga, bukan masalah nilai. Namun, risiko jangka pendek tetap ada. Simak strategi lengkapnya di bawah ini.


1. Rotasi ke "Safe Haven" dengan Crypto Gold

Ketika badai menerpa aset berisiko (Risk-On), modal besar secara alami akan mengalir ke aset pertahanan (Risk-Off) seperti Emas. Ini adalah buku teks klasik investasi untuk mengamankan kekayaan.

Namun, laporan Bitcoin (BTC) Outlook ini mengungkap sebuah hal modern yang sering dilewatkan oleh investor konvensional seperti bagaimana cara Anda memegang emas yang menentukan keuntungan bersih (net return) Anda.

Membeli emas fisik batangan dalam jumlah besar saat krisis memiliki friksi tinggi yang menggerus nilai kekayaan:
  1. Spread Tinggi: Selisih harga jual-beli melebar drastis saat volatilitas tinggi.
  2. Inefisiensi Pajak: Pajak dan biaya terkait penjualan kembali emas fisik bisa signifikan.
  3. Likuiditas Rendah: Menjual emas fisik senilai miliaran Rupiah membutuhkan waktu dan proses verifikasi.
Di sinilah Crypto Emas (seperti PAXG dan XAUT) yang mencatatkan lonjakan +15% YTD (per 19 Feb), berbanding terbalik dengan Bitcoin yang justru anjlok -23% YTD pada periode yang sama. Kesenjangan performa ini menegaskan fungsi krusial PAXG dan XAUT sebagai pelindung nilai (safe haven) sejati bagi portofolio HNWIs di tengah gejolak pasar saat ini.
  • Mekanisme: Aset ini dipatok 1:1 dengan emas fisik, namun diperdagangkan di infrastruktur blockchain yang likuid.
  • Alpha Pajak (Tax Efficiency): Di Indonesia, aset ini dikategorikan sebagai komoditas crypto. Transaksinya dikenakan PPh Final yang sangat rendah (0,21% saat jual). Bagi HNWIs yang berada di braket pajak penghasilan tertinggi (yang bisa mencapai 35%), struktur PPh Final ini menawarkan penghematan pajak yang signifikan dibandingkan instrumen investasi lain.
  • Likuiditas Global: Anda bisa memindahkan alokasi dari Bitcoin ke Emas (PAXG/XAUT) dalam hitungan detik di aplikasi, tanpa perlu pergi ke toko emas atau menunggu jam bursa saham buka.
Ini adalah bentuk modern dari wealth preservation: Cepat, Likuid, dan Sangat Efisien Pajak.


2. Manajemen Likuiditas – Cash is a King

Salah satu kesalahan terbesar dalam manajemen kekayaan adalah membiarkan "Dry Powder" (uang tunai cadangan) menganggur di rekening tanpa bunga atau stablecoin yang tidak produktif. Di era inflasi global yang masih persisten, uang tunai yang diam adalah uang yang rugi.

Laporan Pluang menyoroti strategi "Netral Aktif" menggunakan fitur USD Yield.

Di tengah ketidakpastian arah pasar Bitcoin, apakah akan turun ke $45.000 sesuai prediksi Standard Chartered atau naik ke $200.000 sesuai Goldman Sachs, memegang Dolar AS adalah posisi strategis yang cerdas.
 
Dengan memanfaatkan instrumen yang memberikan imbal hasil hingga ~3,38% p.a., investor mendapatkan dua keuntungan:
  1. Preservasi Daya Beli: Imbal hasil tersebut mengimbangi inflasi dolar, menjaga nilai riil kekayaan Anda.
  2. Opsionalitas Tinggi: Dana tersebut sangat likuid (liquid). Ketika laporan riset nanti memberikan sinyal "Beli" pada Bitcoin di harga dasar yang terkonfirmasi, dana ini siap dieksekusi seketika. Berbeda dengan deposito yang mengunci dana Anda selama berbulan-bulan.


Pandangan Ahli: Volatilitas Sebagai Validasi

Untuk memberikan bobot pada strategi ini, laporan tersebut mengutip Jason Gozali, Head of Investment Research di Pluang. Jason mengingatkan bahwa bagi investor dengan horizon waktu panjang, volatilitas saat ini adalah hanya  "gangguan", bukan akhir cerita.

"Koreksi Februari ini bukanlah kerusakan fundamental pada tesis investasi Bitcoin jangka panjang, melainkan sebuah 'structural reset' akibat deleveraging institusional. Di saat pasar ritel bereaksi dengan kepanikan, investor profesional justru harus melihat volatilitas ini sebagai momentum emas untuk melakukan lindung nilai (hedging) taktis dan mengamankan likuiditas produktif," ujar Jason Gozali.

Pesan tersirat bagi HNWIs adalah: Jangan terburu-buru. Amankan posisi, optimalkan pajak, dan biarkan pasar membersihkan dirinya sendiri sebelum Anda masuk kembali dengan kekuatan penuh.


3. Strategi Hedging Tanpa Peristiwa Pajak

Banyak HNWIs memiliki posisi Bitcoin yang sudah dipegang lama (legacy positions) dengan keuntungan modal yang besar. Menjual posisi ini sekarang mungkin memicu peristiwa pajak yang tidak diinginkan atau menghilangkan eksposur jangka panjang.

Laporan ini memperkenalkan penggunaan Derivatif (Futures & Options) sebagai alat asuransi portofolio, bukan spekulasi.
  • Konsep: Dengan mengambil posisi Short di pasar Futures atau membeli Put Options di pasar saham AS (pada proxy Bitcoin seperti MSTR), investor bisa mendapatkan keuntungan saat harga turun.
  • Hasil: Keuntungan dari instrumen ini menutup penurunan nilai portofolio utama. Kekayaan bersih Anda tetap stabil (hedged), dan Anda tidak perlu melepas aset inti Anda di harga murah. Ini adalah teknik yang digunakan oleh Family Offices kelas dunia.

 

Ingat, Kekayaan Dibangun di Masa Sulit

Pasar bullish membuat Anda merasa pintar, tetapi pasar bearish membuat Anda menjadi kaya, jika Anda tahu cara menavigasinya.

Kejatuhan Bitcoin di Februari 2026 adalah peluang bagi HNWIs untuk menata ulang portofolio menjadi lebih efisien, lebih tahan banting, dan lebih optimal secara perpajakan. Apakah Anda akan membiarkan kekayaan Anda terombang-ambing oleh pasar, atau Anda akan mengambil kendali?

Laporan lengkap dari Pluang ini menyediakan matriks alokasi aset untuk sisa tahun 2026, analisis mendalam tentang arus dana institusional, dan panduan teknis rotasi aset yang aman. Ini adalah bacaan wajib bagi siapa saja yang serius dalam mengelola kekayaan di era digital.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Rosa Anggreati)