Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie. Foto: Metrotvnews.com/Kautsar Widya Prabowo.
Kadin Pede Kerja Sama RI-Korsel Senilai Rp173 Triliun Bikin Devisa Negara Melejit
Husen Miftahudin • 2 April 2026 14:28
Jakarta: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meyakini kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) senilai USD10,2 miliar atau Rp173 triliun mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan devisa negara.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam ajang Indonesia-Korea Business Forum yang digelar di Shilla Hotel, Seoul, Korea Selatan, Rabu, 1 April 2026, yang menghasilkan 17 nota kesepahaman (MoU).
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menegaskan Korea Selatan merupakan mitra strategis bagi Indonesia, dengan hubungan ekonomi yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Ia menilai kerja sama yang terjalin melalui berbagai kesepakatan tersebut memiliki potensi besar dalam mendorong aliran investasi asing langsung (FDI) sekaligus memperkuat cadangan devisa nasional.
"Ini suatu potensi untuk meningkatkan foreign direct investment, menciptakan lapangan kerja, dan tentunya meningkatkan juga perdagangan yang bisa membawa devisa," kata Anindya seperti dikutip dari Antara, Kamis, 2 April 2026.
Ia juga menyoroti luasnya cakupan kolaborasi kedua negara, mulai dari sektor industri hingga ekonomi kreatif. Dirinya menyebut popularitas budaya Korea di Indonesia menjadi salah satu contoh nyata kedekatan hubungan bilateral.
| Baca juga: Resmi! QRIS Bisa Dipakai Transaksi di Korea Selatan |

(Presiden Prabowo Subianto menyaksikan pertukaran 10 MoU Indonesia-Korea Selatan. Foto: Antara/HO-BPMI Sekretariat Presiden)
Sepakati 17 MoU, dari energi hingga ekonomi digital
Sebanyak 17 MoU yang disepakati mencakup berbagai sektor strategis, seperti energi, manufaktur industri, hilirisasi, hingga ekonomi digital. Sejumlah kerja sama juga melibatkan perusahaan besar dari kedua negara, termasuk proyek energi baru terbarukan, pengembangan rantai pasok baterai, hingga teknologi rendah karbon.
"Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia mendorong pertumbuhan inklusif, transformasi industri, dan keterlibatan global yang lebih kuat," tegas Anindya.
Di tengah ketidakpastian global, Anindya berharap kemitraan Indonesia-Korsel tetap mampu menjadi pendorong pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.
"Mudah-mudahan di tengah dunia yang tidak pasti pada saat ini, kita masih mencoba untuk mencari titik terang supaya jangka panjang Indonesia tetap maju, masyarakatnya juga tetap sejahtera, dan bahkan makin sejahtera," kata Anindya.