Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam Raker dengan Komisi XI DPR RI. Foto: Tangkapan layar YouTube.
Purbaya: Stabilitas Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga di Tengah Tekanan Bertubi-tubi
Husen Miftahudin • 6 April 2026 11:35
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian global akibat eskalasi geopolitik dan tekanan aktivitas ekonomi dunia.
"Jadi tekanan yang kita alami bertubi-tubi di awal tahun ada MSCI (terkait pembekuan penilaian ulang saham Indonesia), ada lagi lembaga pemeringkat (Moody's Ratings dan Fitch Ratings yang menurunkan peringkat utang Indonesia). Terus ketika sudah agak tenang, ada perang di Timur Tengah," ungkap Purbaya dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI dengan Menkeu RI, Senin, 6 April 2026.
Purbaya mengaku, hal ini menjadi tantangan berat bagi kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) termasuk perekonomian nasional. Jika tidak direspons dengan baik, nasib Indonesia kemungkinan besar akan sama dengan negara-negara tetangga yang ekonominya sudah melempem imbas kenaikan harga minyak.
"Jadi kalau kita tidak memanage itu dengan baik, kita mungkin nasibnya akan sama dengan negara sekeliling kita yang sudah mengalami, mungkin perlambatan ekonomi yang signifikan, karena mereka terpaksa menaikkan BBM akibat suplai BBM yang tidak ada di pasaran," papar dia.

(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
Ekonomi Indonesia masih relatif stabil
Ekonomi Indonesia, tegas Purbaya, masih relatif stabil. Stabilitas tersebut tecermin dari berbagai indikator utama. Hal ini terefleksi dari aktivitas sektor riil yang positif, seperti industri manufaktur yang terus mencetak kinerja ekspansif dalam delapan bulan berturut-turut.
Pada indeks Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia untuk periode Maret 2026 diakui Purbaya memang sedikit mengalami penurunan ke level 50,1. Namun angka tersebut masih di atas level 50, yang menandakan bahwa kinerja PMI Manufaktur Indonesia masih dalam fase ekspansif.
Menurut Purbaya, penurunan tipis indeks PMI Manufaktur pada Maret 2026 terjadi karena industri manufaktur dalam negeri khawatir terhadap rambatan dampak dari perang yang terjadi di Timur Tengah terhadap perekonomian Indonesia.
"Tapi di bulan Februari naik ke 53, level yang tinggi. Saya pikir ini hanya sebentar saja, karena kita bisa yakinkan bahwa ekonomi ini tidak terpenagaruh secara signifikan. PMI juga akan terbangun dengan signifikan lagi," tegas Purbaya.