Ilustrasi cuaca panas ekstrem. (Freepik)
Panas Ekstrem Eropa: Prancis Perketat Langkah Darurat dan Waspadai Korban Jiwa
Willy Haryono • 21 June 2026 17:22
Paris: Pemerintah Prancis meningkatkan status kesiapsiagaan nasional menghadapi gelombang panas ekstrem yang melanda sebagian wilayah Eropa dengan menyiagakan layanan darurat, militer, serta memperketat berbagai aktivitas publik.
Sekitar sepertiga wilayah Prancis berada dalam status peringatan merah panas ekstrem di hari Sabtu, menurut badan meteorologi nasional.
Suhu di sejumlah wilayah diperkirakan mencapai 40 derajat Celsius, sementara prakiraan cuaca menunjukkan kondisi yang lebih panas masih akan berlanjut pada Minggu, 21 Juni 2026.
Dikutip dari Hurriyet Daily, Prancis telah mengumumkan sejumlah langkah darurat untuk mengurangi risiko kesehatan dan keselamatan masyarakat akibat cuaca panas yang berkepanjangan. Di Paris, sejumlah lokasi wisata termasuk Eiffel Tower menyediakan stasiun penyemprot kabut air untuk membantu mendinginkan pengunjung.
Prancis juga melarang konsumsi alkohol di ruang publik pada wilayah yang berstatus peringatan merah.
Larangan tersebut diberlakukan untuk mengurangi beban layanan darurat dan memungkinkan tenaga medis lebih fokus menangani kelompok rentan.
Waspadai Korban dan Kebakaran Hutan
Pemerintah Prancis menyatakan perhatian khusus diberikan kepada warga lanjut usia, penghuni panti jompo, serta masyarakat yang tinggal di jalanan dan rentan terhadap dampak suhu tinggi.Kekhawatiran tersebut muncul karena pengalaman gelombang panas 2003 yang menewaskan sekitar 15.000 lansia di Prancis.
Selain risiko kesehatan, pemerintah juga meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan.
Pada 20 Juni lalu, pemerintah memerintahkan penguatan pengawasan kawasan rawan kebakaran serta pemantauan ketat pasokan air untuk reaktor nuklir di berbagai wilayah.
Sekolah-sekolah sejauh ini tetap dibuka, meskipun pemerintah menyatakan penutupan dapat dilakukan apabila kondisi memburuk.
Sejumlah ujian akhir tahun yang dijadwalkan berlangsung pada siang hari juga berpotensi dipindahkan ke pagi hari guna menghindari suhu puncak.
Risiko Kematian
Kantor Regional Eropa dari World Health Organization (WHO) sebelumnya menyatakan lebih dari 200.000 orang di Eropa meninggal akibat penyebab terkait panas dalam empat tahun terakhir.WHO menilai sebagian besar kematian tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui langkah mitigasi yang lebih baik.
Organisasi itu mendorong pemerintah membuka pusat pendinginan, mengatur jam kerja yang lebih fleksibel, dan mengurangi aktivitas luar ruangan pada jam-jam terpanas.
Gelombang panas juga melanda sejumlah negara Eropa lainnya. Di Italia, otoritas memperluas peringatan panas tingkat tertinggi atau "red flag" menjadi delapan kota di wilayah utara dan tengah negara tersebut.
Suhu di kota-kota yang masuk kategori merah umumnya berada pada kisaran akhir 30 derajat Celsius.
Perdana Menteri Prancis, Sebastien Lecornu, telah memimpin beberapa rapat darurat untuk membahas respons pemerintah terhadap cuaca ekstrem.
Ia juga meminta kementerian terkait menyusun strategi jangka panjang agar Prancis lebih siap menghadapi gelombang panas di masa mendatang, termasuk mempertimbangkan penggunaan sistem pendingin udara yang lebih luas apabila diperlukan.
Badan meteorologi Prancis menggambarkan kondisi saat ini sebagai gelombang panas yang "meluas, berlangsung lama, dan intens" di berbagai wilayah negara tersebut.
Baca juga: Grand Canyon Dilanda Panas Ekstrem, Tiga Pendaki Dilaporkan Meninggal Dunia