Benua Eropa Dilanda Gelombang Panas Ekstrem, Apa Penyebabnya?

Ilustrasi: Fabian Reck/Pexels

Benua Eropa Dilanda Gelombang Panas Ekstrem, Apa Penyebabnya?

Riza Aslam Khaeron • 1 July 2026 21:05

Jakarta: Eropa tengah dilanda gelombang panas yang memecahkan rekor demi rekor dalam sejarah pencatatan cuaca modern benua biru tersebut. Suhu ekstrem menyapu hampir seluruh penjuru benua, dari Spanyol di bagian barat hingga Polandia di bagian timur.'
 
Prancis menjadi negara yang paling terdampak buruk dalam krisis ini. Negara tersebut mencatat dua hari terpanas dalam sejarahnya pada Selasa dan Rabu, 24–25 Juni 2026, dengan suhu rata-rata nasional mencapai 29,9 derajat celsius. Bahkan, sejumlah stasiun cuaca lokal di sana merekam angka ekstrem di atas 43 derajat celsius.

Hingga laporan ini disusun, gelombang panas dahsyat ini dilaporkan telah merenggut setidaknya 1.300 korban jiwa.

Lantas, apa sebenarnya yang menyebabkan gelombang panas kali ini menjadi begitu mematikan? Melansir France24, berikut adalah ulasan mengenai fenomena di balik bencana cuaca ini.
 

Fenomena 'Omega Block'

Di balik rekor suhu ekstrem yang terus pecah, para ilmuwan menunjuk pada satu pola sirkulasi atmosfer sebagai dalang utamanya, yaitu fenomena yang disebut omega block.

Samantha Burgess dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) menjelaskan kepada AFP bahwa pola sirkulasi di atas Eropa saat ini tengah menciptakan "kondisi yang setara dengan kemacetan lalu lintas di atmosfer, yang pada akhirnya mengunci udara panas di satu wilayah."

Pola ini terbentuk ketika area bertekanan tinggi, terjepit di antara dua kawasan bertekanan rendah, yaitu satu di Eropa Tengah dan satu lagi di lepas pantai Portugal.

Fenomena ini menyedot massa udara yang sangat panas dari Gurun Sahara di Afrika Utara dan membawanya langsung ke Eropa, lalu memerangkapnya di bawah sistem tersebut layaknya penutup pada panci.

Nama omega block sendiri diambil dari bentuk jet stream (arus angin atmosfer cepat) yang melengkung tinggi menyerupai huruf Yunani Omega. Jet stream ini biasanya bertugas menggerakkan udara dan sistem cuaca dari arah barat ke timur.

Dalam kondisi normal, jet stream akan terus mengalirkan udara laut yang sejuk dari Samudra Atlantik menuju daratan Eropa. Namun, ketika arus ini terpecah menjadi dua cabang, udara bertekanan tinggi yang terjebak di antara kedua cabang tersebut mengalihkan rute pergerakan normal dari front cuaca dingin, sehingga udara sejuk tidak dapat masuk.
 

Heat Dome (Kubah Panas)


Fenomena Omega Block, dimana jet stream melengkung membentuk huruf Yunani Omega. (Met Office via Sky News)

Jika pola omega block ini semakin stabil dan bertahan lama, sistem tekanan tinggi tersebut akan berkembang menjadi heat dome atau kubah panas.

Kondisi kubah panas ini juga menekan pembentukan awan dan menciptakan cuaca yang sangat tenang dengan angin yang nyaris tidak bertiup sama sekali. Langit yang bersih tanpa awan membuat sinar matahari langsung memanggang permukaan bumi tanpa penghalang.

"Dalam kondisi yang tepat, suhu hanya akan terus naik" ujar Will Lang, kepala meteorolog di Met Office Inggris, mengutip France24.
 
Baca Juga:
6 Fakta Cuaca Panas Ekstrem di Eropa 2026, Ribuan Orang Tewas
 

Diperkuat oleh Perubahan Iklim

Pada dasarnya, heat dome dan omega block bukanlah fenomena baru dalam dunia meteorologi dan dapat terbentuk secara terpisah.

Kedua fenomena ini juga tidak hanya terjadi di Eropa, melainkan dapat muncul di berbagai belahan dunia lainnya, mulai dari kawasan Pasifik hingga Amerika Utara.

Meski demikian, tidak dapat dimungkiri bahwa dampak dari fenomena atmosfer ini terasa jauh lebih menyiksa akibat adanya perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

Mengutip CNA, tanpa pemanasan global, suhu udara selama gelombang panas diperkirakan akan berada 2 hingga 4 derajat Celsius lebih rendah daripada biasanya.

Selain itu, sebuah penelitian ilmiah yang dirilis pada tahun 2022 menyatakan bahwa fenomena gelombang panas ekstrem memiliki peluang 150 kali lebih kecil untuk terjadi jika atmosfer bumi kita tidak dirusak oleh emisi karbon akibat aktivitas industri dan manusia.

(Riza Aslam Khaeron)