6 Fakta Cuaca Panas Ekstrem di Eropa 2026, Ribuan Orang Tewas

Ilustrasi: Fabian Reck/Pexels

6 Fakta Cuaca Panas Ekstrem di Eropa 2026, Ribuan Orang Tewas

Riza Aslam Khaeron • 30 June 2026 19:25

Jakarta: Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sejak pertengahan Juni 2026 telah memicu kekhawatiran massal di Benua Biru tersebut. Fenomena ini tidak hanya memecahkan berbagai rekor suhu tertinggi di sejumlah negara Eropa, tetapi juga telah menelan korban jiwa hingga melampaui angka seribu orang.

Lantas, apa sebenarnya penyebab fenomena mematikan ini dan seberapa besar dampak nyata yang telah ditimbulkannya? Berikut adalah 6 fakta penting mengenai gelombang panas ekstrem di Eropa.
 

Prancis Menjadi Pusat Dampak Terparah

Prancis menjadi salah satu negara yang paling menderita akibat gelombang panas ini. Lembaga meteorologi Prancis, Météo-France, menyatakan bahwa episode gelombang panas kali ini melampaui gelombang panas bersejarah pada Agustus 2003 dari segi intensitas, dengan durasi yang hampir setara.

Pada tanggal 24 dan 25 Juni 2026, Prancis mencatat hari-hari terpanas dalam sejarah pengamatan meteorologi nasional mereka. Untuk pertama kalinya, suhu rata-rata nasional dalam waktu 24 jam menyentuh angka 30 derajat Celsius.

Di salah satu titik pemantauan di Prancis bagian barat, suhu udara bahkan melonjak drastis hingga mencapai 43,8 derajat Celsius. Sementara itu, suhu minimum pada malam hari secara nasional juga mencetak rekor baru di angka 22 derajat Celsius, membuat malam hari terasa sangat menyesakkan.
 
Baca Juga:
Apa Itu Omega Block? Fenomena yang Memicu Gelombang Panas Ekstrem di Eropa-World In Minute
 

Korban Tewas Melampaui 1.300 Orang di Eropa

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan bahwa lebih dari 1.300 kematian berlebih (excess deaths) telah tercatat sejak 21 Juni 2026 dan dikaitkan dengan cuaca panas ekstrem ini.

"Saat ini, 150 juta orang hidup di bawah bayang-bayang panas ekstrem, ratusan orang telah meninggal dunia, sekolah-sekolah ditutup, dan jaringan listrik mulai tumbang," ujar Ghebreyesus melalui platform X.

Di Prancis, badan kesehatan publik setempat melaporkan setidaknya sekitar 1.000 kematian selama periode gelombang panas ini. Sebagian besar korban merupakan kelompok lanjut usia, dan angka kematian ini diperkirakan masih akan terus bertambah.
 

Puluhan Orang Tenggelam Saat Berusaha Mendinginkan Diri

Selain korban jiwa yang jatuh akibat sengatan panas langsung, bencana ini juga memicu jatuhnya korban secara tidak langsung.

Sedikitnya 48 orang di Prancis dilaporkan meninggal dunia karena tenggelam sejak gelombang panas dimulai. Peristiwa tragis ini terjadi ketika warga berbondong-bondong mendinginkan diri dengan berenang di area perairan liar yang tidak diawasi.

"Sebagian besar korban yang tenggelam merupakan anak-anak muda," ungkap Perdana Menteri Sébastien Lecornu pada hari Selasa, 23 Juni 2026.
 

Dipicu oleh Fenomena Atmosfer Omega Block


Fenomena Omega Block, dimana jet stream melengkung membentuk huruf Yunani Omega. (Met Office via Sky News)

Penyebab utama panas ekstrem ini adalah pola atmosfer bernama omega block, yang dinamai karena bentuknya menyerupai huruf Yunani Omega.

Pola ini terjadi ketika aliran jet stream yang biasanya mendorong sistem cuaca dari barat ke timur menjadi terganggu dan berkelok tajam.

Akibatnya, area tekanan tinggi tertahan di antara dua sistem tekanan rendah, membuat kondisi seperti heat dome sehingga udara panas dan kering terutama dari wilayah gurun Sahara dalam konteks ini, terperangkap di suatu wilayah dalam periode waktu tertentu.
 

Banyak Rekor Suhu Sepanjang Sejarah Pecah

Selain Prancis, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) melaporkan bahwa gelombang panas ini telah meruntuhkan berbagai rekor suhu tertinggi di berbagai penjuru Eropa:
  • Jerman: Memecahkan rekor suhu baru selama tiga hari berturut-turut, puncaknya mencapai 41,7 derajat Celsius di Coschen pada 28 Juni 2026. Sebanyak 252 stasiun cuaca nasional melaporkan rekor suhu tertinggi sepanjang masa di wilayah masing-masing.
  • Hungaria: Mencatat rekor suhu Juni baru sebesar 40,7 derajat Celsius di wilayah dekat Budapest.
  • Polandia: Mencetak rekor suhu nasional sementara yang mencapai 40,5 derajat Celsius.
  • Austria: Mencatatkan rekor suhu bulan Juni tertinggi sebesar 40 derajat Celsius di kota Wina.
  • Belanda: Mengalami hari Juni terpanas dalam sejarah nasionalnya dengan suhu menyentuh 39,4 derajat Celsius.
  • Swiss: Mencatat rekor suhu bulan Juni sebesar 39 derajat Celsius di kota Basel.
  • Denmark: Mengalami suhu tertinggi sepanjang masa yang tercatat sebesar 37 derajat Celsius.
     

Diperparah oleh Perubahan Iklim

Meskipun para ilmuwan masih memperdebatkan apakah perubahan iklim secara langsung meningkatkan frekuensi munculnya pola cuaca omega block, mereka sepakat bahwa pemanasan akibat aktivitas manusia telah memperburuk dampaknya secara drastis.

Mengutip CNA, jika tidak ada faktor pemanasan global, suhu udara selama terjadinya gelombang panas kali ini diperkirakan akan berada 2 hingga 4 derajat Celsius lebih rendah dari yang kita rasakan saat ini.

Sebuah penelitian ilmiah yang dirilis pada tahun 2022 menyatakan bahwa fenomena gelombang panas ekstrem seperti ini akan memiliki peluang 150 kali lebih kecil terjadi jika atmosfer kita tidak dirusak oleh emisi karbon akibat aktivitas manusia.

(Muhamad Marup)