Ilustrasi. Foto: dok MI.
Mengenal Piece Concept Bagasi Pesawat, Benarkah Lebih Praktis dari Weight Concept?
Ade Hapsari Lestarini • 8 July 2026 18:31
Jakarta: Perjalanan udara kini tidak lagi hanya ditentukan oleh harga tiket dan jadwal penerbangan. Bagi banyak penumpang, pengalaman terbang dimulai sejak merencanakan barang bawaan, jumlah koper yang dibawa, hingga memastikan bagasi mencukupi saat tiba di bandara.
Dalam konteks tersebut, pembahasan mengenai konsep bagasi berbasis jumlah koper atau one piece baggage allowance mulai menarik perhatian. Isu ini mengemuka seiring perubahan pola perjalanan masyarakat, terutama untuk wisata, perjalanan keluarga, perjalanan dinas, maupun kebiasaan membawa oleh-oleh.
Selama ini sebagian besar penumpang lebih mengenal konsep bagasi berbasis berat total (weight concept). Namun, dalam praktiknya pendekatan tersebut tidak selalu sederhana. Penumpang kerap harus menghitung ulang isi koper, membagi barang bawaan, atau mengurangi berat bagasi saat proses check-in.
Situasi itu memunculkan pertanyaan, apakah aturan bagasi akan lebih mudah dipahami jika yang dihitung bukan hanya kilogram, tetapi juga jumlah koper yang diizinkan.
Percakapan serupa mulai terlihat di media sosial Threads. Diskusi tidak lagi hanya berkisar pada besaran jatah bagasi, tetapi juga bagaimana sistem bagasi dapat memberikan kepastian, memudahkan perencanaan perjalanan, dan meminimalkan kebingungan sebelum berangkat ke bandara.
Sejumlah warganet menilai konsep berbasis jumlah koper lebih sesuai dengan pola perjalanan saat ini. Penumpang tidak lagi hanya membawa satu koper besar, melainkan membagi barang ke dalam beberapa koper, terutama untuk perjalanan keluarga, perjalanan berdurasi panjang, maupun wisata. Di sisi lain, sebagian pengguna juga menilai sosialisasi yang jelas tetap diperlukan agar perubahan kebijakan tidak menimbulkan salah persepsi.
Dari sisi industri, wacana tersebut dinilai layak dikaji. Pengamat transportasi udara Gatot Raharjo mengatakan tren global menunjukkan pengaturan bagasi tidak lagi hanya berfokus pada total berat, tetapi juga jumlah koper dengan batas berat tertentu untuk setiap koper. Menurut dia, pendekatan tersebut berpotensi memudahkan penumpang karena sejak awal mereka mengetahui jumlah koper yang diperbolehkan beserta batas berat masing-masing.
"Konsep one piece baggage allowance dapat menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan maskapai, terutama untuk menjawab kebutuhan penumpang jarak jauh atau perjalanan dengan durasi lebih panjang," ujar Ketua Umum ASITA Rusmiati, dikutip Rabu, 8 Juli 2026.
Meski demikian, penerapan konsep tersebut tidak hanya mempertimbangkan aspek kenyamanan penumpang. Terdapat faktor operasional yang harus diperhitungkan, mulai dari proses check-in, penyortiran bagasi, pemuatan ke pesawat, penanganan oleh ground handling, hingga efisiensi biaya dan aspek keselamatan operasional. Karena itu, pembahasan mengenai piece concept dinilai tidak sekadar perubahan teknis, tetapi bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan penerbangan secara menyeluruh.
Bagi penumpang, bagasi merupakan bagian dari kepastian layanan. Mereka ingin mengetahui apa yang boleh dibawa, bagaimana cara menghitung jatah bagasi, dan bagaimana menghindari biaya tambahan yang tidak terduga di bandara. Di tengah meningkatnya kebutuhan perjalanan yang lebih praktis, transparan, dan mudah direncanakan, konsep one piece baggage allowance membuka ruang diskusi baru bagi industri penerbangan nasional. Tujuannya bukan semata mengikuti tren global, tetapi menyesuaikan layanan dengan kebutuhan penumpang Indonesia.

Ilustrasi. Foto: dok Magnific.
Tren global
Secara global, perubahan sistem bagasi telah menjadi bagian dari perkembangan industri penerbangan. Pada banyak rute internasional, terutama penerbangan jarak jauh dan penerbangan lanjutan (connecting flight), ketentuan bagasi tidak hanya mengatur berat total, tetapi juga jumlah koper, dimensi, serta batas berat setiap koper.
Menurut pedoman IATA, satu bagasi yang ditangani secara manual umumnya direkomendasikan tidak melebihi 23 kilogram untuk alasan keselamatan dan kesehatan kerja. Sementara itu, banyak maskapai menetapkan batas maksimum berat satu koper hingga 32 kilogram sesuai regulasi di sejumlah negara dan bandara. Dalam praktiknya, setiap maskapai menerapkan kebijakan bagasi yang berbeda sehingga kerap menimbulkan kebingungan, terutama bagi penumpang yang melakukan perjalanan lintas maskapai.
Perdebatan mengenai sistem bagasi juga muncul di berbagai forum perjalanan, termasuk Tripadvisor. Sebagian pengguna mempertanyakan mengapa tidak terdapat standar aturan bagasi yang seragam antar-maskapai. Diskusi kemudian berkembang pada perbandingan antara weight concept dan piece concept.
Sebagian pengguna menilai weight concept masih relevan karena memberi fleksibilitas dalam membagi berat bagasi. Namun, tidak sedikit pula yang menganggap piece concept lebih sederhana karena memberikan kepastian mengenai jumlah koper yang diperbolehkan.
Chief Marketing Officer Dragonpass Andrew Harrison-Chinn mengatakan kebijakan bagasi maskapai sering kali terlihat sederhana, tetapi detailnya justru membingungkan penumpang.
Menurut dia, istilah mengenai bagasi, prioritas naik pesawat (priority boarding), maupun barang pribadi (personal item) tidak selalu digunakan secara konsisten oleh setiap maskapai. Akibatnya, penumpang kerap tiba di bandara tanpa memahami secara utuh perbedaan kebijakan bagasi yang berlaku.
Bagi pelaku perjalanan, kondisi tersebut membuat pemilihan maskapai tidak lagi hanya didasarkan pada harga tiket, tetapi juga kejelasan aturan bagasi, terutama ketika menggunakan penerbangan lanjutan.
Sejumlah maskapai internasional telah menerapkan sistem yang berbeda sesuai karakteristik rute. Emirates, misalnya, menggunakan weight concept pada sebagian besar rute, tetapi menerapkan piece concept pada rute tertentu seperti Amerika dan sebagian wilayah Afrika. Sementara itu, Air France dan KLM telah menerapkan piece concept untuk seluruh penerbangannya sejak 2010.
Di kawasan Asia Pasifik, Cathay Pacific mulai beralih dari weight concept ke piece concept pada 2016. Kebijakan serupa kemudian diikuti Vietnam Airlines pada 2019. Adapun Thai Airways juga telah memasukkan ketentuan berbasis piece concept pada sejumlah aturan bagasinya, termasuk pembatasan berat setiap koper.
Praktik tersebut menunjukkan belum ada satu model bagasi yang berlaku secara universal. Namun, kecenderungannya mengarah pada sistem yang lebih terstruktur, mudah dipahami, dan disesuaikan dengan karakteristik perjalanan penumpang di masing-masing rute.
Bagi pelaku perjalanan modern, kejelasan aturan bagasi menjadi semakin penting karena satu perjalanan dapat melibatkan beberapa maskapai dan beberapa bandara transit. Dalam kondisi tersebut, kepastian mengenai jumlah koper, batas berat setiap koper, serta ketentuan yang berlaku sejak awal perjalanan dinilai dapat membantu penumpang bepergian dengan lebih nyaman.