Wabah Ebola di Kongo: Sejarah, Penyebab, dan Update Korban Tewas

Virus Ebola terlihat di permukaan sel. (Dok. NIH)

Wabah Ebola di Kongo: Sejarah, Penyebab, dan Update Korban Tewas

Riza Aslam Khaeron • 7 July 2026 14:59

Jakarta: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi jumlah korban jiwa akibat wabah Ebola yang resmi merebak sejak 15 Mei 2026 di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) kini telah melampaui angka 500 orang.

Melansir Al-Jazeera, sedikitnya tercatat 506 kasus kematian dan 1.561 kasus terkonfirmasi di negara tersebut. Sementara itu, di negara tetangga Uganda, angka kematian tercatat sebanyak dua jiwa dari total 20 kasus terkonfirmasi.
 
Wabah kali ini diyakini disebabkan oleh strain virus Bundibugyo, sebuah strain langka yang hingga saat ini belum memiliki vaksin ataupun metode pengobatan yang disetujui otoritas kesehatan dunia.

WHO menyatakan bahwa bulan pertama dari penyebaran wabah ini merupakan salah satu fase terburuk sepanjang sejarah penanganan Ebola.

Masyarakat sudah cukup awam mendengar perihal virus mematikan ini sejak pertama kali menjadi pusat perhatian publik dunia pada awal dekade 2010-an. Namun, apa sebenarnya asal-usul virus ini dan apa penyebabnya? Berikut ini penjelasannya.
 

Sejarah Awal Wabah Ebola


Sungai Ebola di RD Kongo. (University of Copenhagen)

Mengutip Financial Times, virus ini pertama kali ditemukan dari wabah di sebuah desa kecil bernama Yambuku di wilayah Zaire, yang kini dikenal sebagai RD Kongo, pada tahun 1976. Sepulang dari perjalanan ke wilayah utara, seorang kepala sekolah berumur 44 tahun bernama Mabalo Lokela mendadak jatuh sakit dengan gejala demam tinggi yang awalnya dikira sebagai malaria biasa.

Namun, kondisinya memburuk dalam waktu singkat. Ia mengalami muntah-muntah dan diare akut hingga mengalami dehidrasi berat. Mabalo akhirnya mengembuskan napas terakhirnya pada 8 September 1976.

Dalam hitungan hari, rumah sakit setempat langsung dipadati oleh pasien dengan gejala serupa, dan hampir semua dari mereka meninggal dunia dalam waktu kurang dari satu minggu. Para pakar medis kemudian menyimpulkan bahwa mereka tengah berhadapan dengan virus baru yang akhirnya diberi nama "Ebola", yang diambil dari nama sungai yang mengalir sekitar 100 kilometer di sebelah utara Desa Yambuku.

Wabah perdana Ebola di Kongo itu mencatatkan 318 kasus dengan 280 kematian.

Dalam buku The Coming Plague karya Laurie Garrett, secara terpisah wabah Ebola juga meletus di Kota N'zara, Sudan, pada Juni 1976. Kasus ini bermula dari seorang pekerja di sebuah pabrik kapas yang menjadi sarang ribuan kelelawar, yang kemudian menyebar cepat ke rumah sakit di Maridi akibat prosedur penanganan jenazah yang kurang aman.

Wabah di Sudan tersebut tercatat mengakibatkan 284 kasus dengan 151 kematian terkonfirmasi, yang disebabkan oleh strain virus yang berbeda dari strain yang ditemukan di Yambuku.

Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, total korban Ebola dari periode tahun 1976 hingga 2025 telah mencapai 35.047 kasus dengan total 15.477 kematian, yang menunjukkan rasio kematian kasar berada di angka sekitar 44,2 persen.
 

Penyebab Wabah Ebola


Kelelawar famili Pteropodidae. (Tarique Sani/inaturalist)

Penyakit ini disebabkan oleh kelompok virus yang dikenal dengan nama orthoebolaviruses (sebelumnya disebut ebolavirus). Mengutip laman pemerintah Inggris, inang alami (reservoir) dari virus ini diyakini adalah kelelawar buah dari famili Pteropodidae.

Kasus penularan pertama pada manusia dalam wabah besar di Afrika Barat periode 2014–2016 diperkirakan juga terjadi akibat kontak langsung dengan kelelawar. Selain itu, materi genetik (RNA) virus Ebola juga pernah diidentifikasi pada tubuh hewan hutan lain seperti simpanse, gorila, dan antelop.

Saat ini, diketahui ada empat tipe orthoebolaviruses yang dapat menginfeksi manusia, yaitu:
  • Virus Ebola (spesies Orthoebolavirus zairense): merupakan penyebab utama penyakit virus Ebola (EVD).
  • Virus Sudan (spesies Orthoebolavirus sudanense): penyebab penyakit virus Sudan.
  • Virus Tai Forest (spesies Orthoebolavirus taiense): penyebab penyakit virus Taï Forest.
  • Virus Bundibugyo (spesies Orthoebolavirus bundibugyoense): penyebab penyakit virus Bundibugyo yang kini tengah mewabah di Kongo.
     

Penularan Ebola

Berdasarkan CDC, penularan virus Ebola terjadi melalui kontak langsung antara luka terbuka atau selaput lendir seseorang dengan cairan tubuh (seperti darah, air liur, keringat, muntahan, urin, atau semen) dari penderita yang terinfeksi, baik penderita yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

Penderita baru bisa menularkan virus ini setelah mereka mulai menunjukkan gejala sakit. Virus ini tidak menyebar melalui udara layaknya influenza atau Covid-19, sehingga berpapasan dengan penderita di tempat umum tidak akan langsung menularkan penyakit.

Namun, dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan liar yang terinfeksi, seperti primata atau kelelawar buah.
 
Baca Juga:
Krisis Kemanusiaan di RD Kongo Kian Memburuk Akibat Wabah Ebola 
 

Update Korban Tewas

Berdasarkan laporan situasi terbaru dari WHO per tanggal 4 Juli 2026, rincian perkembangan wabah Ebola adalah sebagai berikut:
  • RD Kongo: Tercatat sebanyak 1.561 kasus terkonfirmasi dengan 506 korban jiwa. Di kota pertambangan Mongbwalu, Provinsi Ituri, yang diidentifikasi sebagai titik awal penyebaran wabah, tingkat fatalitas kasus (case fatality rate) mencapai 50,7 persen.
  • Uganda: Kasus di Uganda ini diketahui memiliki riwayat perjalanan atau kontak erat dengan mobilitas warga dari RD Kongo. Tercatat sebanyak 20 kasus terkonfirmasi dengan 2 korban jiwa. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) mencatat tidak ada laporan kasus baru dari Uganda sejak tanggal 21 Juni 2026.

(Riza Aslam Khaeron)