Markas besar Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon. (Anadolu Agency)
AS Rilis Strategi Pertahanan Baru, Dorong Semua Sekutu Naikkan Anggaran Militer
Willy Haryono • 24 January 2026 19:48
Washington: Amerika Serikat mendorong semua sekutu dan mitra untuk meningkatkan belanja militer hingga lima persen dari produk domestik bruto (PDB), sebagaimana tertuang dalam Strategi Pertahanan Nasional terbaru yang dirilis Pentagon pada Jumat lalu.
Dokumen tersebut menegaskan agenda Presiden Donald Trump tentang “America First” dan “Perdamaian Melalui Kekuatan," serta menekankan bahwa sekutu harus mengambil tanggung jawab lebih besar atas keamanan nasional masing-masing, seiring dengan fokus AS pada pertahanan wilayahnya sendiri dan kepentingannya di Belahan Barat.
“Kami akan mendorong agar sekutu dan mitra memenuhi standar ini di seluruh dunia, bukan hanya di Eropa,” bunyi dokumen tersebut, merujuk pada target belanja pertahanan sebesar lima persen PDB.
Dikutip dari Antara, Sabtu, 24 Januari 2026, strategi ini menyebutkan bahwa jika sekutu memenuhi target belanja militer bersama AS, maka mereka akan mampu membangun kekuatan kolektif untuk mencegah atau mengalahkan calon lawan di berbagai kawasan utama dunia, termasuk menghadapi agresi secara bersamaan.
Negara-negara anggota NATO sebelumnya telah menyepakati komitmen untuk menaikkan belanja pertahanan hingga lima persen PDB pada 2035. Target baru NATO mencakup 3,5 persen untuk belanja militer inti dan tambahan 1,5 persen untuk pengeluaran terkait keamanan.
Dokumen itu memuji Eropa dan Korea Selatan karena meningkatkan anggaran pertahanan sejak Trump kembali menjabat, namun mengisyaratkan bahwa sekutu besar lain, termasuk Jepang, akan menghadapi tekanan lebih besar dari Washington.
Sejalan dengan Strategi Keamanan Nasional Gedung Putih yang dirilis pada Desember, dokumen pertahanan tersebut menyoroti pembangunan militer Tiongkok yang pesat. Namun, pendekatannya disebut bertumpu pada penangkalan melalui kekuatan, “bukan konfrontasi”.
“Presiden (Donald) Trump menginginkan perdamaian yang stabil, perdagangan yang adil, dan hubungan saling menghormati dengan Tiongkok,” bunyi dokumen tersebut.
Pemerintah AS menegaskan tujuannya bukan untuk mendominasi Beijing, melainkan mencegah Tiongkok mendominasi AS dan para sekutunya.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, militer AS akan membangun “pertahanan penolakan yang kuat” di sepanjang rantai pulau pertama, dari Jepang melalui Taiwan dan Filipina hingga Kalimantan, yang mengelilingi perairan pesisir Tiongkok.
Berbeda dari dokumen keamanan Gedung Putih, strategi pertahanan ini juga menyinggung Korea Utara, yang disebut sebagai ancaman militer langsung terhadap Jepang dan Korea Selatan.
Namun, Pentagon menilai Korea Selatan kini mampu memikul tanggung jawab utama dalam menangkal Korea Utara, dengan dukungan AS yang lebih terbatas.
Baca juga: Trump Akui Tak Khawatir dengan Latihan Militer Tiongkok di Taiwan