Ilustrasi Black Box. (Group One Air)
Mengupas Sejarah Black Box , Benda Paling Dicari Setiap Kecelakaan Pesawat
Riza Aslam Khaeron • 21 January 2026 17:32
Jakarta: Setelah menembus medan ekstrem Pegunungan Bulusaraung selama dua hari, tim gabungan akhirnya berhasil menemukan black box pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport pada Rabu, 21 Januari 2026. Perangkat vital tersebut ditemukan masih menempel di dudukannya dalam potongan ekor pesawat yang jatuh di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Black box atau perekam penerbangan adalah perangkat elektronik yang ditempatkan di dalam pesawat udara untuk memfasilitasi investigasi kecelakaan dan insiden penerbangan. Meskipun dikenal dengan sebutan 'kotak hitam', perangkat tersebut sebenarnya berwarna oranye terang agar mudah ditemukan setelah kecelakaan.
Fakta tersebut menimbulkan pertanyaan, mengapa perekam penerbangan disebut "black box" atau kotak hitam dan bagaimana sejarah perkembangannya? Berikut ini penjelasannya.
Sejarah Black Box

Foto: Francois Hussenot. (Wikimedia Commons/Hussenographe)
Konsep awal perangkat perekam penerbangan sebenarnya telah muncul sejak 1939, jauh sebelum istilah black box dikenal luas. Dua insinyur asal Prancis, François Hussenot dan Paul Beaudouin, merancang alat yang disebut Hussenograph di Pusat Uji Terbang Marignane.
Alat ini menggunakan film fotografi yang bergerak untuk mencatat data seperti kecepatan dan ketinggian pesawat. Meskipun sederhana, teknologi ini meletakkan dasar bagi perkembangan perekam penerbangan modern.
Pada era Perang Dunia II, Inggris mengembangkan perekam penerbangan tahan benturan dan api melalui proyek Kementerian Produksi Pesawat. Namun, perangkat-perangkat ini hanya digunakan terbatas pada pesawat militer hingga awal 1950-an.
Perubahan besar datang dari Australia pada 1954, ketika seorang ilmuwan muda bernama Dr. David Warren dari Aeronautical Research Laboratories (ARL) mengusulkan sebuah alat yang tidak hanya merekam data penerbangan, tetapi juga percakapan di dalam kokpit.

Foto: Dr. David Warren. (Dok. Museum Nasional Australia)
Melansir laman Museum Nasional Australia, gagasan ini lahir setelah serangkaian kecelakaan fatal jet De Havilland Comet yang menewaskan 110 orang antara 1952 hingga 1954. Warren menyadari bahwa ketiadaan rekaman membuat investigasi terhambat dan para awak yang mungkin mengetahui penyebab kecelakaan semuanya telah tewas.
Terinspirasi dari sebuah perekam suara buatan Jerman yang ia lihat di sebuah pameran, Warren mengusulkan pembuatan alat perekam kokpit yang dikombinasikan dengan data penerbangan dalam wadah yang tahan benturan.
Meskipun mendapat sambutan dingin di Australia, ia tetap melanjutkan proyeknya di akhir pekan dan berhasil membuat prototipe pada akhir 1950-an. Alat itu mampu merekam suara selama empat jam dan mencatat delapan jenis data instrumen empat kali per detik menggunakan kawat baja.
Namun, butuh waktu hingga 1958 saat otoritas penerbangan Inggris mulai tertarik dan mendukung penuh pengembangan perangkat tersebut.
Australia menjadi negara pertama yang mewajibkan pemasangan perekam data dan suara penerbangan pada semua pesawat besar pada 1967. Seiring berjalannya waktu, teknologi black box terus berkembang, mencakup pelindung tahan api dan tabrakan, peningkatan kapasitas data, serta kemudahan dalam proses dekode data di darat.
Meskipun idenya kini digunakan di ribuan pesawat di seluruh dunia dan berkontribusi besar dalam keselamatan penerbangan, Warren tidak memperoleh keuntungan finansial yang signifikan. Warren wafat pada 2010, dan pada 2002 ia dianugerahi gelar Officer of the Order of Australia atas jasanya bagi dunia penerbangan.
| Baca Juga: Kotak Hitam Pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport Ditemukan |
Kenapa Disebut Black Box?

Isi perekam penerbangan yang memuat film fotografi. (ebrary.net)
Meski dikenal luas sebagai black box atau "kotak hitam", perangkat perekam penerbangan sejatinya tidak berwarna hitam.
Sejak awal pengembangannya, perangkat ini justru dicat dengan warna oranye terang. Tujuannya jelas: agar mudah dikenali dan ditemukan di antara p.uing-puing kecelakaan, terutama dalam kondisi darurat seperti kebakaran atau tenggelam di laut
Asal-usul istilah black box berasal dari desain awal perekam data penerbangan pada era 1930-an yang menggunakan film fotografi dalam kotak tertutup cahaya (light-tight box). Karena bagian dalam kotak tersebut selalu gelap agar film tidak terpapar cahaya, istilah “black” (hitam) pun melekat dan bertahan meskipun warna fisiknya telah berubah.
Dalam konteks teknis, sebutan black box juga mengacu pada sistem yang berfungsi tanpa harus diketahui secara rinci cara kerjanya oleh pengguna umum. Yang penting adalah fungsi utamanya—merekam dan menyimpan data penting sebelum kecelakaan terjadi.
Walaupun sebutan ini kini dianggap tidak tepat secara visual, istilah black box sudah terlanjur dikenal secara luas dalam dunia penerbangan dan dipertahankan sebagai konvensi bahasa global.
Saat ini, black box terdiri atas dua komponen utama: Flight Data Recorder (FDR) yang menyimpan data penerbangan, dan Cockpit Voice Recorder (CVR) yang merekam percakapan pilot serta suara-suara di dalam kokpit.
Dengan daya tahan tinggi terhadap benturan, api, ledakan, dan rendaman air, perangkat ini menjadi pilar utama dalam proses investigasi kecelakaan dan peningkatan keselamatan penerbangan internasional.