Nilai Tambah Industri Minyak Sawit pada Program B50 Jadi Rp23,49 Triliun

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto: Dok Metro TV

Nilai Tambah Industri Minyak Sawit pada Program B50 Jadi Rp23,49 Triliun

Eko Nordiansyah • 9 July 2026 15:51

Karawang: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan nilai tambah industri minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) dari Rp20,92 triliun pada program B40 menjadi Rp23,49 triliun saat B50. Penyerapan tenaga kerja juga meningkat dari 1,8 juta orang menjadi 2,1 juta orang.

"Lebih dari itu telah meningkatkan penurunan gas emisi rumah kaca dari 39,66 juta ton CO2 menjadi 44,46 juta ton CO2," ujar Bahlil, dalam Peluncuran bahan bakar biodiesel B50 di Karawang, Kamis, 9 Juli 2026.

Sementara implementasi biodiesel 50 persen (B50) memiliki banyak manfaat. Selain menghemat solar, ada dampak lain yang ditimbulkan dari penerapan B50.

"Meningkatkan penghematan devisa dari Rp133 triliun pada program B40. Dengan implementasi B50 itu ternyata (penghematan devisa naik) Rp170 triliun," kata dia.



(Ilustrasi. Foto: Dok istimewa)

RI tak impor solar lagi

Bahlil menyebut, implementasi B50 membuat Indonesia tidak melakukan impor solar. Biasanya rata-rata konsumsi solar di Indonesia mencapai 38 hingga 40 juta kiloliter (KL) per tahun dengan impor tiga hingga empat juta KL solar per tahun.

"Dengan implementasi B50 maka Alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita, dan ini adalah pertama kali," ungkap dia.

Penerapan B50 juga bukan pekerjaan yang mudah. Bahlil mengungkapkan, perjalanan penggunaan biodiesel di Indonesia sudah dilakukan sejak 2008 dengan B2,5, kemudian kenaikan bertahap sampai B50 diterapkan pada tahun ini.

"Arahan Bapak Presiden bukan hanya B50-nya  tapi persoalan kedaulatan, kemandirian, dan harga diri bangsa untuk kita bisa menghasilkan energi dari negara kita sendiri," lanjut dia.

(Eko Nordiansyah)