Medal Dag Hammarskjöld, penghargaan tertinggi yang diberikan PBB kepada personel penjaga perdamaian yang gugur saat bertugas. (United Nations)
PBB Akan Anugerahkan Medali Anumerta untuk Dua Penjaga Perdamaian Indonesia
Willy Haryono • 29 May 2026 13:40
New York: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan menganugerahkan Medali Dag Hammarskjöld secara anumerta kepada dua personel penjaga perdamaian asal Indonesia yang gugur saat menjalankan tugas pada 2025.
Penghormatan tersebut akan diberikan dalam peringatan Hari Internasional Penjaga Perdamaian PBB di Markas Besar PBB pada 5 Juni mendatang.
Berdasarkan siaran pers yang diterima Metrotvnews.com, Jumat, 29 Mei 2026, dua personel Indonesia yang akan menerima penghargaan anumerta itu adalah Kopral Dua Eko Prambudi Santoso yang bertugas bersama Misi Stabilisasi Organisasi PBB di Republik Demokratik Kongo (MONUSCO), serta Brigadir Polisi Kepala Sri Widodo yang bertugas dalam Misi Stabilisasi Terpadu Multidimensi PBB di Republik Afrika Tengah (MINUSCA).
Keduanya wafat saat menjalankan tugas penjaga perdamaian pada 2025.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dijadwalkan memimpin langsung upacara penganugerahan medali tersebut.
Secara keseluruhan, PBB akan memberikan Medali Dag Hammarskjöld secara anumerta kepada 68 personel militer, polisi, dan sipil penjaga perdamaian yang gugur dalam menjalankan tugas, termasuk 59 orang yang meninggal dunia tahun lalu.
Personel Indonesia di Misi PBB
Dalam upacara itu, Guterres juga akan meletakkan karangan bunga untuk mengenang hampir 4.500 penjaga perdamaian PBB yang kehilangan nyawa sejak 1948.Indonesia saat ini tercatat sebagai kontributor personel terbesar keenam untuk misi penjaga perdamaian PBB.
Pemerintah Indonesia mengirim hampir 2.000 personel militer dan polisi, termasuk 156 perempuan, ke berbagai operasi perdamaian PBB di Abyei, Republik Afrika Tengah, Siprus, Republik Demokratik Kongo, Lebanon, Sudan Selatan, dan Sahara Barat.
Tahun ini, Indonesia juga kehilangan empat penjaga perdamaian yang bertugas bersama Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) di tengah konflik Israel-Hizbullah. Keempat personel tersebut dijadwalkan menerima penghargaan anumerta pada upacara tahun depan.
Tema Hari Internasional Penjaga Perdamaian PBB tahun ini adalah “Berinvestasi dalam Perdamaian."
Dalam pesannya, Guterres mengajak semua pihak untuk menghormati para penjaga perdamaian, baik yang telah selesai bertugas maupun yang masih aktif hingga saat ini, serta menegaskan kembali tanggung jawab bersama untuk menghormati dan memperkuat kerja mereka.
PBB memberikan penghormatan kepada hampir 4.500 penjaga perdamaian yang telah kehilangan nyawa sejak 1948, termasuk 59 orang tahun lalu.
Stabilitas dan Harapan
"Tidak seorang pun seharusnya meninggal saat mengabdi demi perdamaian. Serangan terhadap penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional, dan Negara-Negara Anggota harus memenuhi kewajiban mereka untuk memastikan keselamatan dan keamanan personel PBB setiap saat," tegas Guterres.Ia juga menyatakan bahwa “di era meningkatnya ketegangan, penjaga perdamaian merupakan cara yang terbukti dan hemat biaya untuk memulihkan stabilitas dan harapan. Namun, hal ini membutuhkan dukungan politik yang konsisten serta dukungan finansial yang dapat diandalkan.”
Dalam upacara khusus tersebut, Guterres juga akan menganugerahkan “Captain Mbaye Diagne Medal for Exceptional Courage” kepada Kopral Matias Reyes dari Uruguay atas tindakannya di Goma, Republik Demokratik Kongo bagian timur, pada puncak krisis awal 2025; serta kepada mendiang Sergii Prykodko dari Ukraina, yang bertugas sebagai kontraktor swasta dalam Misi PBB di Sudan Selatan (UNMISS) dan gugur dalam misi mengevakuasi tentara yang terkepung pada Maret tahun lalu.
Guterres juga akan memberikan penghargaan kepada Military Gender Advocate of the Year 2025, Mayor Abhilasha Barak dari India, yang bertugas di Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), serta kepada UN Woman Police Officer of the Year, Stephanie Königs dari Jerman, yang bertugas di UNMISS.
“Pada saat konflik meningkat dan sumber daya semakin terbatas, para penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa terus melindungi warga sipil, mencegah kekerasan agar tidak meningkat, dan menjaga harapan tetap hidup di sejumlah lingkungan paling sulit di dunia," kata Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal untuk Operasi Perdamaian.
"Berinvestasi dalam penjaga perdamaian berarti berinvestasi dalam stabilitas, pencegahan, dan kemungkinan terciptanya perdamaian itu sendiri," pungkasnya.
Baca juga: Empat Prajurit UNIFIL RI Gugur, Kemlu Desak PBB Adili Pelaku