BPS: Indonesia Cetak Inflasi 0,44% di Juni 2026, Ini Faktornya

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono. Foto: Tangkapan layar YouTube BPS.

BPS: Indonesia Cetak Inflasi 0,44% di Juni 2026, Ini Faktornya

Husen Miftahudin • 1 July 2026 13:31

Jakarta: Badan pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,44 persen secara bulanan atau month to month (mtm) pada Juni 2026. Terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,40 pada Mei 2026 menjadi 111,89 pada Juni 2026.

Adapun secara tahunan atau year on year (yoy), perekonomian Indonesia pada Juni 2026 tercatat inflasi sebesar 3,34 persen. Sedangkan secara tahun kalender atau year to date (ytd) tercatat inflasi sebesar 1,79 persen.

"Kelompok pengeluaran penjumbang inflasi bulanan itu terbesar pada transportasi dengan inflasi sebesar 2,29 persen. Kelompok ini memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,28 persen," jelas Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, Rabu, 1 Juli 2026.

Sementara, komoditas dominan yang mendorong inflasi pada kelompok transportasi antara lain bensin dengan andil inflasi 0,21 persen, tarif angkutan udara sebesar 0,05 persen, serta pelumas atau oli mesin dengan andil inflasi 0,01 persen.

Berdasarkan komponen, papar Ateng, seluruh komponen mengalami inflasi bulanan pada Juni 2026. Andil inflasi tertinggi disumbang oleh komponen harga diatur pemerintah sebesar 0,27 persen dan tingkat inflasi 1,41 persen.

Lalu komponen inti dengan andil inflasi sebesar 0,15 persen dan tingkat inflasi 0,23 persen, serta komponen bergejolak dengan andil inflasi 0,02 persen dan tingkat inflasi 0,14 persen.
 

Baca juga: BPS Mulai Pendataan UMKM dan Rumah Tangga untuk Sensus Ekonomi 2026


(Ilustrasi. Foto: dok Metrotvnews.com)
 

Penyesuaian harga BBM hingga bawang pengaruhi tingkat inflasi


Dibeberkan Ateng lebih lanjut, sejumlah peristiwa memengaruhi tingkat inflasi Juni 2026. Di antaranya penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang dilakukan sebanyak dua kali, yakni pada 1 Juni dan 10 Juni 2026.

"Kita tahu bersama pada 1 Juni terjadi penyesuaian harga pada Pertamax Turbo, tapi juga terjadi penurunan harga pada Dexlite dan juga Pertamina Dex. Kemudian pada 10 Juni terjadi penyesuaian harga pada Pertamax," papar Ateng.

Peristiwa selanjutnya adalah panen bawang merah yang di berbagai sentra produksi seperti Brebes, Jawa Tengah; Solok, Sumatra Barat; Bima dan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB). Walaupun demikian, pada sisi lain, produksi bawang merah juga mengalami penurunan di beberapa sentra produksi seperti di Enrekang, Sulawesi Selatan (Sulsel); Demak, Jawa Tengah (Jateng); serta Malang dan Sampang, Jawa Timur (Jatim).

"Jadi ada yang mengalami peningkatan tetapi juga ada yang mengalami penurunan produksi bawang merah," papar dia.

Peristiwa selanjutnya terkait dengan kenaikan bawang putih yang utamanya disebabkan oleh peningkatan biaya logistik dan juga adanya penguatan nilai tukar dolar terhadap rupiah.

Dari pasar internasional, terjadi peristiwa penurunan harga minyak sawit dalam dua bulan berturut-turut, yaitu pada Mei hingga Juni. Sebelumnya harga minyak sawit terus mengalami kenaikan, terutama sejak Januari hingga April 2026.

Selanjutnya terkait dengan perkembangan harga minyak mentah. Setelah mengalami koreksi harga pada Mei 2026, harga minyak mentah mengalami koreksi kembali pada Juni 2026. Secara rata-rata, harga minyak mentah pada Juni 2026 berada pada level USD82,82 per barel.

"Terakhir terkait dengan perkembangan harga emas di pasar internasional. Harga emas kembali mengalami penurunan dibandingkan Mei 2026. Dengan ini, penurunan harga emas sudah terjadi sejak empat bulan berturut-turut," urai Ateng.

(Husen Miftahudin)