Ilustrasi edukasi soal gizi anak. Dok. Istimewa
Cegah Stunting, Komunitas Jadi Garda Terdepan Edukasi Gizi Anak
Achmad Zulfikar Fazli • 28 June 2026 21:54
Jakarta: Pencegahan stunting tidak bisa dilakukan secara instan dengan mengandalkan intervensi pemerintah. Gerakan masyarakat berbasis akar rumput (grass-root), komunitas, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) menjadi faktor penting dalam membangun kesadaran gizi masyarakat.
Sosiolog Universitas Indonesia, Nadia Yovanni, mengatakan organisasi dan gerakan berbasis masyarakat memiliki posisi strategis dalam peningkatan gizi masyarakat. Mereka dapat berperan sebagai agen edukasi yang mampu menjangkau keluarga hingga lingkungan sosial.
“Peran organisasi masyarakat itu besar untuk mengedukasi tentang gizi pada masyarakat,” kata Nadia dalam keterangan tertulis, Minggu, 28 Juni 2026.
Namun, dia menegaskan keberhasilan edukasi gizi sangat bergantung pada kapasitas penggeraknya. Organisasi yang terlibat dalam pendampingan masyarakat perlu memastikan kader dan anggotanya memiliki pemahaman gizi yang benar sebelum memberikan edukasi kepada warga.
“Jadi besar sebenarnya peran organisasi masyarakat, tapi perlu diingat kader atau anggotanya sendiri itu harus punya literasi gizi yang benar,” ujar Nadia.
PP Aisyiyah dan Muslimat NU menjadi salah satu ormas yang aktif menyuarakan peningkatan literasi gizi di masyarakat. Kedua organisasi perempuan berbasis keagamaan ini aktif mengedukasi gizi, termasuk meluruskan persepsi keliru tentang mengonsumsi kental manis.
Inisiatif tersebut dinilai penting mengingat banyak masyarakat yang menganggap kental manis sebagai susu atau menjadikan sebagai pengganti susu pertumbuhan bagi anak.
Survei yang dilakukan Universitas Islam Bandung menunjukkan 67,6 persen balita mengonsumsi kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan. Dari sisi kandungan gizi, kental manis mengandung 50 persen gula dan hanya 1–3 gram protein per takaran saji.
Dengan komposisi tersebut, kental manis tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak dalam masa pertumbuhan, sehingga penggunaannya sebagai pengganti susu berisiko tidak mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Ketua Majelis Kesehatan Pengurus Pusat Aisyiyah (Makes PPA) Warsiti mengatakan pihaknya berfokus pada pemberdayaan perempuan dan anak.
"Karena itu lah kita memberi perhatian lebih terhadap isu gizi, bahwa pemenuhan gizi harus jadi perhatian kita bersama,” ujar Warsiti.

Ilustrasi anak-anak minum susu. Dok. Istimewa
Baca Juga:
MBG Intervensi Strategis untuk Memutus Rantai Masalah Gizi Kelompok Rentan |
Warsiti mengatakan pihaknya telah mengedukasi akar rumput hingga melibatkan kampus dan akademisi melalui penelitian dan survei untuk memahami persoalan mendasar penggunaan kental manis sebagai pengganti susu untuk anak.
“Aisiyah bersama kader-kader di seluruh Indonesia bekerja sampai ke akar rumput, memperkuat peran keluarga, komunitas dan masyarakat. Kolaborasi menjadi kunci,” jelas Warsiti.
Ormas Mitra Strategis Pemerintah
Nadia menegaskan ormas berperan sama penting dengan pemerintah dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat terkait pemenuhan gizi keluarga.
“Organisasi seperti Aisyiyah ini, di belakang dia adalah kepentingan masyarakat. Salah satu perannya adalah mengedukasi masyarakat,” tutur Nadia.
Dia menjelaskan persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga pendidikan dan proses sosialisasi yang diterima seseorang sejak dalam keluarga. Oleh karena itu, memperbaiki status gizi anak tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan pangan, melainkan juga membangun pemahaman yang berkelanjutan mengenai pola makan sehat dan gizi seimbang.
Menurut Nadia, keluarga merupakan agen sosialisasi pertama yang menentukan kualitas pemahaman gizi seorang anak.
“Agen sosialisasi pertama itu adalah keluarga. Jika keluarganya tidak punya literasi gizi yang bagus, ya yang penting hidup. Dia tidak peduli apakah di makanan itu perlu ada protein, perlu ada karbohidrat, dan bagaimana komposisinya,” ujar Nadia.
Sejumlah komunitas seperti Boss Mama, Rangkul Foundation, dan Komunitas Relawan Samadua juga terlibat dalam edukasi gizi untuk ibu dan balita, terutama untuk korban bencana di Sumatra. Mereka menyalurkan bantuan pangan, mengadvokasi, pendampingan intensif, serta melatih kader lokal untuk mengenali dan menangani persoalan gizi di lingkungan masing-masing.
Pendekatan berbasis komunitas tersebut dinilai mampu melengkapi berbagai program pemerintah karena menyentuh aspek perubahan perilaku masyarakat secara langsung. Dengan jaringan yang mengakar hingga tingkat desa dan kedekatan dengan warga, ormas dapat menyampaikan pesan-pesan kesehatan secara lebih efektif dan mudah dipahami.
“Kalau masyarakat punya literasi gizi yang bagus, untuk hidup itu tidak hanya karbohidrat, manusia perlu banyak hal, maka itu akan berdampak pada perilakunya di masyarakat,” kata Nadia.