Ilustrasi-Savana Propok Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). ANTARA/HO-BPBD NTB.
Suhu di NTB Lebih Dingin Turun 5 Derajat Celsius, Ini Penjelasan BMKG
Lukman Diah Sari • 8 June 2026 15:44
Mataram: Fenomena suhu udara yang lebih dingin terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada malam hingga pagi hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi minimnya tutupan awan pada siang hari sehingga panas dari permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer.
"Pelepasan radiasi gelombang panjang atau outgoing longwave radiation secara langsung ke angkasa tanpa terhalang oleh tutupan awan menyebabkan suhu permukaan terasa lebih dingin," ujar Prakirawan Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) BMKG Nusa Tenggara Barat Ari Wibianto, dikutip dari Antara, Senin, 8 Juni 2026.
Selain itu, kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan penguatan embusan angin monsun Australia yang bertiup dari arah timur ke barat. Saat ini Benua Australia mengalami tekanan udara tinggi karena sedang memasuki musim dingin.

Wisatawan berfoto dengan latar belakang perbukitan saat kondisi langit cerah di Pusuk Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (30/5/2026). ANTARA/Sugiharto Purnama
Tekanan udara tinggi tersebut mendorong massa udara yang lebih dingin dan kering bergerak ke arah utara hingga memasuki wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk NTB.
BMKG mencatat suhu minimum rata-rata di Nusa Tenggara Barat saat ini berada pada kisaran 18 hingga 21 derajat Celsius. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dua bulan sebelumnya yang berkisar antara 23 hingga 24 derajat Celsius.
"Suhu minimum pada awal bulan Juni menurun sekitar 2 hingga 5 derajat Celcius jika dibandingkan dengan suhu minimum dua bulan sebelumnya," kata Ari.
Pada 7-8 Juni 2026, suhu udara terasa lebih dingin pada pagi hari, sementara pada malam hari suhu relatif normal. Ari menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi peningkatan kecepatan angin yang membuat massa udara dingin lebih cepat berpindah saat pagi hari.
"Kami mengamati pada awal Juni masih terdapat pertumbuhan awan yang lebih banyak dibandingkan akhir Mei. Kondisi itu menyebabkan suhu dingin pada malam hari belum terasa maksimal seperti yang biasanya terjadi saat musim kemarau mencapai puncak," kata Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) tersebut.
Sementara itu, fenomena anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik atau El Nino-Southern Oscillation (ENSO) saat ini berada pada kategori El Nino lemah dengan indeks sebesar +1,0.
BMKG memprediksi kondisi El Nino lemah tersebut akan berkembang menjadi El Nino moderat mulai Juni 2026. Di sisi lain, anomali suhu muka laut di sebagian besar perairan Indonesia masih berada dalam kondisi normal hingga hangat.